-->

ANALISIS INFORMASI KEUANGAN SAP 3

Analisis Prospektif
Analisis prospektif merupakan langkah akhir dalam proses analisis laporan keuangan. Analisis ini dapat dilakukan hanya setelah laporan keuangan historis disesuaikan untuk mencerminkan kinerja ekonomis perusahaan secara akurat. Penyesuaian tersebut meliputi eliminasi pos sementara dalam laporan laba rugi atau mengalokasikannya ke tahun lalu atau tahun mendatang, kapitalisasi (pembebanan) pos yang telah dibebankan (dikapitalisasi) oleh manajemen, kapitalisasi sewa guna usaha operasi, investasi metode ekuitas, dan bentuk pendanaan di luar neraca (off-balance sheet financing) lainnya, dan sebagainya. Analisis prospektif meliputi peramalan neraca, laba rugi, dan laporan arus kas.

clip_image001
Analisis prospektif merupakan inti penilaian efek. Model penilaian arus kas bebas dan model penilaian laba sisa yang memerlukan estimasi laporan keuangan di masa depan. Model laba sisa, misalnya, memerlukan proyeksi laba bersih dan nilai buku ekuitas di masa depan untuk menguji ketepatan strategis perusahaan. Untuk itu, perlu dianalisis apakah perusahaan mampu menghasilkan arus kas operasi yang cukup untuk mendanai pertumbuhan yang diharapkan, atau apakah perusahaan memerlukan pendanaan utang atau ekuitas di masa depan. Perlu dianalisis juga apakah rencana strategis kini akan menghasilkan manfaat seperti yang diramalkan oleh manajemen perusahaan. Dengan demikian, analisis prospektif berguna bagi kreditor untuk menilai kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya.


2.1.  Proses Proyeksi
Pembahasan dimulai dengan contoh komprehensif proses proyeksi dengan menggunakan laporan keuangan Target Corporation.
Proyeksi Laporan Keuangan
Proses proyeksi dimulai dari laporan laba rugi, diikuti neraca dan laporan arus kas.

1)      Proyeksi Laporan Laba Rugi
Laporan laba rugi Target tahun 2003-2005 disajikan pada Tampilan 9.1 berikut beberapa rasio terpilih. Proses proyeksi di mulai dengan pertumbuhan penjualan yang diharapkan. Contoh ini digunakan tren historis untuk memprediksi tingkat penjualan di masa depan. Analisis lebih terperinci melihatkan informasi eksternal berikut.
a)      Tingkat aktivitas ekonomi makro diharapkan. Karena pembelian pelanggan Target dipengaruhi oleh tingkat penghasilan pribadi dapat dibelanjakan (personal diposable income), analisis mengikutsertakan estimasi yang terkait dengan pertumbuhan ekonomi pada umumnya dan pertumbuhan penjualan eceran pada khususnya. Misalnya, bila ekonomi membaik, dapat diproyeksikan adanya kenaikan penjualan dibandingkan penjualan tahun lalu.
b)      Peta persaingan. Apakah jumlah pesaing bertambah? Apakah pesaing yang lebih lemah menghentikan operasinya? Perubahan peta persaingan akan memengaruhi proyeksi atas unit penjualan dan kemampuan target untuk menaikkan harga. Kedua hal tersebut akan berdampak pada pertumbuhan.
c)      Bauran toko baru dan toko lama. Toko baru umumnya menikmati kenaikan penjualan yang lebih besar dibandingkan dengan toko lama karena toko baru dapat meraih pasar yang tidak tertangani dengan baik atau menyediakan komposisi barang yang lebih mutakhir dibandingkan dengan pesaing yang ada. Toko lama umumnya tumbuh seiring dengan tingkat pertumbuhan ekonomi lokal secara keseluruhan. Karena itu, analisis harus mempertimbangkan rencana ekspresi yang diumumkan oleh manajeman.
Dimulai dengan asumsi bahwa penjualan akan tumbuh sebesar 11,566% di tahun 2006, tingkat pertumbuhan yang sama dengan tahun 2005. Setelah proyeksi selesai, analisis sensitivitas akan mempelajari tingkat implikasi tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi dan lebih rendah terhadap peramalan.
Margin laba kotor Target mengalami sedikit kenaikan menjadi 32,866% terhadap penjualan. Untuk tujuan proyeksi, margin laba kotor terakhir diasumsikan sebesar 32,866%. Pada praktiknya, estimasi margin laba kotor sebagian akan dipengaruhi oleh kekuatan ekonomi, dan tingkat kompetisi dalam pasar Target. Misalnya kompetisi yang meningkat membuat kita mempertanyakan kemampuan perusahaan untuk meningkatkan margin laba kotor karena akan sulit untuk menaikkan harga jual. Beban penjualan, umum, dan administrasi juga tetap konstan sebesar kurang lebih 22% terhadap penjualan. Proyeksi beban penjualan, umum, dan administrasi adalah 22,49% terhadap penjualan, sama dengan presentase yang terakhir. Pada praktiknya, pos beban dapat diuji dan diestimasi secara terpisah dengan menyertakan pemahaman yang didapat dari bagian Management Discussion and Analysis-MDA (Diskusi dan Analisis Manajemen) dalam laporan keuangan atau dari sumber eksternal. Bagi perusahaan ritel seperti Target, tren gaji dan biaya okupansi serta beban iklan memerlukan penelitian lebih lanjut.
Tampilan 1.1
Laporan Laba Rugi Target Corporation
clip_image002

Baca Juga


      Beban penyusutan merupakan pos material dan harus diproyeksikan secara terpisah. Penyusutan merupakan beban tetap dan merupakan fungsi dari jumlah aset yang dapat disusutkan. Pada tahun-tahun sebelumnya, Target telah melaporkan bebanpenyusutan kira-kira 6% dari saldo aset tetap di awal tahun. Proyeksi mengasumsikan beban penyusutan sebesar 6,33% dari saldo aset tetap tahun 2005, persentase yang terakhir.
      Dengan cara yang sama, dihitung pula rasio historis beban bunga terhadap saldo awal tahun utang berbunga. Selama dua tahun terakhir, rasio ini mengalami sedikit kenaikan dari 4,982% menjadi 5,173%. Proyeksi mengasumsikan 5,173% dari saldo awal tahun utang berbunga. Pada praktiknya, estimasi harus menyertakan proyeksi tingkat bunga jangka panjang di masa depan. Akhirnya, angka yang digunakan untuk proyeksi atas beban pajak adalah sebagai persentase terhadap laba sebelum pajak tetap konstan pada tingkat terakhir sebesar 37,809%.
Tampilan 1.2
Proyeksi Laporan Laba Rugi Target Corporation
clip_image004


Berdasarkan asumsi-asumsi di atas, proyeksi laporan laba rugi Target tahun 2006 disajikan di Tampilan 1.2. Berikut langkah-langkah dalam memproyeksikan laporan tersebut.
1.      Penjualan: $46.839 x 1,11455 = $52.204
2.      Laba kotor: $52.204 x 32,866% = $17.157
3.      HPP: $52.204 - $17.157 = $35.047
4.      Penjualan, umum, dan administrasi: $52.204 x 22,49% = $11.741
5.      Penyusutan dan amortisasi: $22.272 (aset tetap kotor awal periode) x 6,333% = $1.410
6.      Bunga: $9.538 (utang berbunga awal periode) x 5,173% = $493
7.      Laba sebelum pajak: $17.157 - $11.741 - $1.410 - $493 = $3.513
8.      Beban pajak: $3.513 x 37,809% = $1.328
9.      Pos luar biasa dan dihentikan: tidak ada
10.  Laba bersih: $3.513 - $1.328 = $2.185

2)       Proyeksi Neraca
Neraca Target tahun 2003-2005 berikut beberapa rasio terpilih disajikan pada tampilan 1.3. Ramalan neraca tahun 2006 meliputi langkah-langkah berikut ini :
Tampilan 1.3
Neraca Target Corporation
 clip_image006

1.      Buatlah proyeksi aset  lancar selain kas dengan menggunakan proyeksi penjualan atau harga pokok penjualan dan rasio perputaran yang relevan seperti dijelaskan di bawah ini.
2.      Buatlah proyeksi kenaikan aset tetap dengan estimasi pengeluaran modal yang didasarkan pada tren historis atau informasi dalam bagian MD&A di laporan tahunan.
3.      Buatlah proyeksi kewajiban lancar selain utang dengan menggunakan proyeksi penjualan atau harga pokok penjualan dan rasio perputaran yang relevan seperti dijelaskan di bawah ini.
4.      Hitunglah bagian lancar utang jangka panjang (bagian yang jatuh tempo) dari catatan utang jangka panjang.
5.      Utang jangka pendek lainnya diasumsikan tidak berubah dari tahun-tahun sebelumnya kecuali menunjukkan tren yang jelas berbeda.
6.      Saldo awal utang jangka panjang diasumsikan sama dengan utang jangka panjang tahun lalu dikurangi bagian yang jatuh tempo dari butir (4) di atas.
7.      Asumsikan kewajiban jangka panjang lainnya sama dengan saldo tahun lalu, kecuali menunjukkan tren yang jelas berbeda.
8.      Saham biasa awal diasumsikan sama dengan saldo tahun lalu.
9.      Laba ditahan diasumsikan sama dengan saldo tahun lalu ditambah (dikurangi) dengan laba (rugi) bersih dan dikurang dividen yang diperkirakan.
10.  Pos ekuitas lainnya diasumsikan sama dengan saldo tahun lalu, kecuali menunjukkan tren yang jelas berbeda.
Jumlah langkah (3) – (10) menghasilkan total kewajiban dan ekuitas. Karena itu, total asset sama dengan jumlah tersebut dan angka kas yang dihasilkan dihitung dari total asset dikurangi (1) dan (2). Pada titik ini, Kas akan terlalu tinggi atau terlalu rendah. Selanjutnya, utang jangka panjang dan saham disesuaikan untuk penerbitan (pembelian kembali) yang diperlukan untuk mencapai tingkat kas yang diinginkan dan untuk mempertahankan leverage keuangan historis. Penyesuaian tersebut mengindikasikan tingkat pendanaan yang dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan perusahaan.
            Untuk memulai, proyeksi piutang, persediaan, asset tetap, utang usaha, dan beban yang masih harus dibayar menggunakan proyeksi penjualan dan harga pokok penjualan serta tingkat perputarannya. Misalnya, tingkat perputaran piutang didasarkan pada penjualan tahun berjalan adalah:
Tingkat perputaran piutang usaha = clip_image008
Berikutnya, proyeksi piutang usaha dihitung sebagai berikut:
Proyeksi piutang usaha = clip_image010
Proyeksi piutang usaha diasumsikan dengan menggunakan tingkat perputaran terakhir sebesar 9,24.
Tingkat perputaran persediaan juga menggunakan tingkat perputaran yang terakhir (didasarkan atas saldo akhir persediaan) sebesar 5,84, berikut dengan harga pokok penjualan untuk memproyeksikan persediaan. Analisis yang lebih mendalam akan membandingkan tingkat perputaran persediaan toko lama dengan toko baru, serta mengantisipasi pertumbuhan toko baru. Persediaan saat ini dapat diproyeksikan tumbuh seiring dengan tingkat pertumbuhan penjualan yang diperkirakan. Persedian tambahan yang diperlukan untuk toko baru kan ditambahkan pada jumlah tersebut.
Aset tetap diestimasi berbagai saldo asset tetap kotor tahun lalu ditambah persentase pengeluaran modal terhadap penjualan historis. Pengeluaran modal historis diperoleh dari laporan arus kas. Selama tiga tahun terakhir, persentase pengeluaran modal terhadap penjualan telah stabil sekitar 6,4% terhadap penjualan. Persentase 6,43% digunakan untuk mengestimasi pengeluaran modal tahun 2006. Setelah proyeksi selesai, persentase tersebut dapat disesuaikan untuk melihat implikasi keuangan atas pengeluaran modal yang lebih tinggi (rendah).
Estimasi utang usaha didasarkan pada perputaran utang dan harga pokok penjualan historis. Rasio perputaran terakhir (didasarkan atas saldo akhir utang usaha) sebesar 5,441 digunakan untuk mengestimasi utang tahun 2006. Persentase beban yang masih harus dibayar terhadap penjualan yang diestimasikan menggunakan tingkat perputaran akrual terakhir sebesar 28,683. Terakhir, utang pajak diestimasi berdasarkan hubungan utang terhadap beban pajak historis, dan digunakan tingkat terakhir sebesar 26,527% untuk memproyeksikan utang pajak tahun 2006.
Jadwal jatuh tempo utang jangka panjang diberikan dalam catatan atas laporan keuangan. Kita menggunakan angka tahun 2006 dalam jadwal tersebut. Utang jangka panjang awalnya diestimasi sebagai saldo utang jangka panjang tahun sebelumnya dikurangi estimasi utang yang jatuh tempo (bagian lancar). Kemudian, tingkat utang ini disesuaikan untuk mendapatkan saldo kas dan leverage keuangan yang diinginkan setelah neraca awal tersusun. Saham biasa dan saham yang diperoleh kembali diasumsikan sama dengan saldo tahun lalu.
Berdasarkan asumsi-asumsi di atas, proyeksi neraca target tahun 2006 disajikan pada tampilan 1.4. Berikut ini langkah-langkah dalam memproyeksikan neraca tersebut.
1.      Piutang: $5.650 = $52.204 (penjualan) / 9,24 (perputaran piutang).
2.      Persediaan: $6.001 = $35.047 (HPP) / 5,84 (perputaran persediaan).
3.      Aset lancer lain: tidak ada perubahan.
Tampilan 1.4
Proyeksi Neraca Target Corporation 



 clip_image012

4.      Aset tetap: $25.629 = $22.272 (saldo tahun lalu) + $3.357 (estimasi pengeluaran modal: estimasi penjualan sebesar $52.204 x 6,431% persentase CAPEX/ penjualan).
5.      Akumulasipenyusutan: $6.822 = $5.412 (saldo tahun lalu) + $1.410 (estimasi penyusutan).
6.      Aset tetap bersih: $18.807 = $25.629 - $6.822.
7.      Aset jangka panjang lainnya: tidak ada perubahan.
8.      Utang usaha: $6.441 = $35.047 (HPP) / 5,411 (perputaran utang)
9.      Bagian lancar utang jangka panjang: jumlah yang dilaporkan dalam catatan kaki utang jangka panjang sebagai bagian yang jatuh tempo di tahun 2006.
10.  Beban yang masih harus dibayar: $1.820 = $52.204 (penjualan) / 28,683 (perputaran beban yang masih harus dibayar).
11.  Utang pajak: $352 = $1.328 (beban pajak) x 26,527% (utang pajak / beban pajak).
12.  Pajak tangguhan dan kewajiban lain: tidak ada perubahan.
13.  Utang jangka panjang: $8.283 = $9.034 (utang jangka panjang tahun lalu) - $751 (bagian utang yang jatuh tempo dari langkah 9).
14.  Saham biasa: tidak ada perubahan.
15.  Tambahan modal disetor: tidak ada perubahan.
16.  Laba ditahan: $13.054 = $11.145 (laba ditahan tahun lalu) + $2.185 (proyeksi laba bersih) - $276 (estimasi dividen sebesar $0,31 per lembar saham x 891 juta lembar saham).
17.  Kas: Jumlah yang dibutuhkan untuk menyeimbangkan total kewajiban dan ekuitas dikurangi langkah (1) – (7).
Neraca awal memperkirakan saldo kas sebesar $1.402 juta. Jumlah ini mencerminkan 4,1% dari proyeksi total aset. Meskipun lebih rendah dari tingkat tahun 2005 sebesar 7% dai total aset, saldo kas ini masih sejalan dengan persentase sebelumnya di rentang 2-3%. Jika estimasi saldo kas lebih tinggi atau lebih rendah, penyesuaian lebih lanjut dapat dilakukan untuk (1) menginvestasikan kelebihan kas dalam efek yang dapat diperdagangkan (proyeksi laba perlu disesuaikan untuk tambahan laba investasi non-operasi), atau (2) mengurangi utang jangka panjang dan/ atau ekuitas secara proporsional sehingga tetap menjaga tingkat leverage keuangan yang konsisten dengantahun-tahun sebelumnya. Jika saldo kas terlalu rendah, utang jangka panjang dan/ atau saham biasa tambahan dapat ditingkatkan jika dibutuhkan guna menjaga tingkat leverage keuangan tetap konstan. Proyeksi menunjukkan Target akan mampu mendanai pertumbuhannya dengan dana yang tersedia dan kas yang diperoleh secara internal.


3)      Proyeksi Laporan Arus Kas
Proyeksi laporan arus kas dihitung dari proyeksi laporan laba rugi dan proyeksi di neraca sebagaimana dibahas pada Bab 7. Proyeksi laporan arus kas disajikan pada Tampilan 1.5. Proyeksi arus kas bersih dari operasi sebesar $3.295 juta mendanai sebagian dari pengeluaran modal sebesar $3.357 juta, pengurangan utang jangka panjang sebesar $504 juta, dan dividen sebesar $276 juta. Kekurangannya mengakibatkan penurunan kas sebesar $843 juta.
Tampilan 1.5
Proyeksi Laporan Arus Kas Target Corporation



 clip_image014




Analisis Sensitivitas
Proyeksi laporan keuangan didasarkan pada hubungan yang diharapkan antara pos laporan laba rugi dengan pos neraca. Contoh ini menggunakan rasio terakhir karena operasi Target cukup stabil dan diasumsikan tidak terdapat perubahan besar dalam strategi operasi.
Namun, asumsi-asumsi tersebut dapat divariasikan untuk menganalisis dampaknya pada kebutuhan dana, pengembalian aset dan ekuitas, dan sebagainya. Misalnya, jika diasumsikan rasio pengeluaran modal terhadap penjualan naik menjadi 7,5%, maka pengeluaran modal akan naik menjadi $3,9 miliar, dan saldo kas akan turun sebesar $845 juta, 2,4% dari total aset dan di bawah tingkat tahun-tahun sebelumnya. Dalam hal ini, pendanaan eksternal dalam bentuk utang (ekuitas) akan dibutuhkan. Kenaikan yang sama dalam kebutuhan pendanaan juga akan mengakibatkan penurunan perputaran piutang atau persediaan. Analisis sering kali menyiapkan beberapa proyeksi untuk melihat skenario terbaik (terburuk) sebagai tambahan atas skenario yang paling mungkin (most likely) terjadi. Analisis sensitivitas ini menunjukkan asumsi yang memiliki dampak terbesar pada hasil keuangan sehingga membantu mengidentifikasi area yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.

2.2.  Aplikasi Analisis Prospektif dalam Model Penilaian Laba Sisa
Sebagaimana disebutkan pada pendahuluan bab ini, anilisis prospektif merupakan inti analisis efek. Model penilaian laba sisa, misalnya, menentukan nilai ekuitas pada waktu t sebagai jumlah nilai buku kini dan nilai sekarang laba sisa yang diperkirakan di masa depan:
 clip_image015

di mana BV t merupakan nilai buku pada akhir periode t, RI t + n adalah laba sisa di periode t + n, dan k adalah biaya modal (lihat Bab 1). Laba residu (residual income) pada waktu t didefinisikan sebagai laba bersih komprehensif dikurangi pembebanan pada nilai buku awal, yaitu RI t = NI t – (k x BV t – 1).
Proses penilaian memerlukan estimasi laba bersih di masa depan dan nilai buku ekuitas pemegang saham. Tampilan 1.6 menyajikan sebuah contoh penilaian untuk saham biasa Syminex Corp di tahun 2005. Dalam bentuk yang relatif sederhana ini, model penilaian memerlukan estimasi atas enam parameter berikut:
a)      Pertumbuhan penjualan,
b)      Margin laba bersih (laba bersih/penjualan),
c)      Perputaran modal kerja bersih (penjualan/modal kerja bersih),
d)     Perputaran aset tetap (penjualan/ aset tetap),
e)      Leverage keuangan (aset operasi/aset tetap),
f)       Biaya modal ekuitas.
Penjualan diharapkan tumbuh sebesar 8,9% di tahun 2006 dan 9,1%di tahun 2007, kemudian menurun pada tingkat pertumbuhan 8%, 7%, dan 6% untuk tiga tahun berikutnya. Periode lima tahun ini merupakan horizon peramalan (forecast horizon), periode waktu di mana kita memiliki keyakinan tertinggi atas estimasi kita. Selanjutnya, penjualan diasumsikan terus tumbuh pada tingkat inflasi jangka panjang sekitar 3,5%.
Margin laba bersih diharapkan naik menjadi 9,2% dan 9,4% selama dua tahun berikutnya, kemudian bertahan pada persentase tersebut. Tingkat perputaran modal kerja bersih dan aset tetap diharapkan tetap pada tingkat 11,8271 dan 1,9878 kali. Leverage keuangan diharapkan juga konstan pada tingkat sekarang sebesar 2,5186. Terakhir, biaya modal ekuitas diperkirakan sebesar 12,5%.
Tampilan 1.6
Penilaian untuk Saham Biasa Syminex 

 clip_image017
            Laba bersih diestimasikan dengan menggunakan proyeksi penjualan dan proyeksi margin laba bersih (penjualan x margin laba bersih). Modal kerja bersih dan aset tetap diestimasikan dengan menggunakan proyeksi penjualan dan estimasi tingkat perputaran untuk modal kerja bersih dan aset tetap (penjualan/tingkat perputaran). Terakhir, ekuitas diproyeksikan menggunakan rasio aset operasi terhadap ekuitas (aset operasi = modal kerja bersih + aset tetap).
            Berdasarkan estimasi di atas, laba sisa tahun 2006 diestimasikan sebagai proyeksi laba bersih dikurangi ekuitas awal tahun x biaya modal ekuitas sebesar 12,5%.
$6.278 = $8.856 – ($20,624 x 0,125)
Tahun-tahun setelahnya dalam horizon peramalan dihitung dengan cara yang sama. Setiap tahun selama horizon peramalan selanjutnya didiskontokan pada biaya modal ekuitas (12,5%). Misalnya, faktor diskonto untuk tahun kedua dihitung sebagai berikut:
0,7901 = clip_image019
Nilai sekarang untuk tiap-tiap tahun dalam horizon peramalan dijumlahkan untuk mendapatkan nilai sekarang kumulatif sampai tahun 2010 sebesar $26.303.
Proyeksi laba sisa pada tahun 2011 diasumsikan tumbuh pada tingkat inflasi (3,5%). Nilai sekarang anuitas ini yang didiskontokan ke tahun 2005 adalah:
$54.039 = clip_image021
Estimasi nilai saham biasa Syminex pada tahun 2005 sama dengan nilai buku ekuitas pemegang saham ($26.303 + $54.039) dengan total sebesar $100.966. Dengan saham beredar sebanyak 1.737 lembar, nilai per lembar saham biasa Syminex adalah $58,13.
Penilaian ekuitas sangat bergantung pada proyeksi. Sebagaimana telah dibahas di atas, penilaian harus menguji sensitivitas estimasi harga saham terhadap asumsi yang mendasari proyeksi.





BAB III
KESIMPULAN
Analisis prospektif merupakan langkah akhir dalam proses analisis laporan keuangan. Analisis ini dapat dilakukan hanya setelah laporan keuangan historis disesuaikan untuk mencerminkan kinerja ekonomis perusahaan secara akurat. Penyesuaian tersebut meliputi eliminasi pos sementara dalam laporan laba rugi atau mengalokasikannya ke tahun lalu atau tahun mendatang, kapitalisasi (pembebanan) pos yang telah dibebankan (dikapitalisasi) oleh manajemen, kapitalisasi sewa guna usaha operasi, investasi metode ekuitas, dan bentuk pendanaan di luar neraca (off-balance sheet financing) lainnya, dan sebagainya. Analisis prospektif meliputi peramalan neraca, laba rugi, dan laporan arus kas.
Proyeksi laporan laba rugi, proses proyeksi di mulai dengan pertumbuhan penjualan yang diharapkan. Contoh ini digunakan tren historis untuk memprediksi tingkat penjualan di masa depan. Analisis lebih terperinci melihatkan informasi eksternal, yaitu : tingkat aktivitas ekonomi makro diharapkan, peta persaingan, dan bauran toko baru dan toko lama.
Proyeksi neraca, yaitu dengan melakukan proyeksi piutang, persediaan, asset tetap, utang usaha, dan beban yang masih harus dibayar menggunakan proyeksi penjualan dan harga pokok penjualan serta tingkat perputarannya.
Proyeksi laporan arus kas, proyeksi laporan arus kas dihitung dari proyeksi laporan laba rugi dan proyeksi di neraca. Dengan asumsi-asumsi tersebut dapat divariasikan untuk menganalisis dampaknya pada kebutuhan dana, pengembalian aset dan ekuitas, dan sebagainya.
Anilisis prospektif merupakan inti analisis efek. Model penilaian laba sisa, misalnya, menentukan nilai ekuitas pada waktu t sebagai jumlah nilai buku kini dan nilai sekarang laba sisa yang diperkirakan di masa depan:
clip_image015[1]
 

di mana BV t merupakan nilai buku pada akhir periode t, RI t + n adalah laba sisa di periode t + n, dan k adalah biaya modal (lihat Bab 1). Laba residu (residual income) pada waktu t didefinisikan sebagai laba bersih komprehensif dikurangi pembebanan pada nilai buku awal, yaitu RI t = NI t – (k x BV t – 1).


DAFTAR PUSTAKA
Subramanyam, K.R.; dan Wild, John J. 2010. Analisis Laporan Keuangan (Financial Statement Analysis). Jakarta : Salemba Empat
Fazriansyah, Azi. 2013. Analisis Prospektif.
Ahmad, Bagus. 2016. Analisis Prospektif.

Related Posts

3 Responses to "ANALISIS INFORMASI KEUANGAN SAP 3"

  1. mr pedro dan dana investasinya membantu saya mencapai pendanaan proyek saya dengan pengembalian 2 tingkat sebagai imbalan atas jumlah pinjaman 500,000.00 euro untuk membiayai proyek saya dan itu sangat cepat dan aman jadi saya akan menyarankan siapa pun di sini yang mencari pinjaman atau investor untuk menghubungi mr pedro di whatsapp:+1-863-231-0632 email: pedroloanss@gmail.com terima kasih.

    ReplyDelete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel