ANALISIS INFORMASI KEUANGAN SAP 6
2.1 PENGUKURAN LABA
Laba merupakan ringkasan hasil aktivitas operasi usaha
yang dinyatakan dalam istilah keuangan. Laba merupakan pengukuran atas perubahan
kekayaan pemegang saham (perubahan nilai) maupun merupakan estimasi laba masa
depan. Pemahaman dua peranan laba ini penting untuk analisis laporan keuangan
yaitu : Laba Ekonomi dan Laba Akuntansi, yang akan diuraikan sebagai
berikut.
2.1.1 Konsep
Laba Ekonomi
Bagian ini
menjelaskan dua pengukuran laba yang penting: laba ekonomi dan laba
permanen.
a. Laba
ekonomi
Laba ekonomi biasanya merupakan arus kas ditambah
dengan perubahan nilai wajar aktiva. Berdasarkan definisi ini, laba mencakup
baik komponen yang sudah direalisasi (arus kas) maupun yang belum (laba atau
rugi kepemilikan). Konsep laba ini mirip dengan pengukuran tingkat pengembalian
suatu efek (surat berharga atau sekuritas) atau portofolio efek – yaitu,
tingkat pengembalian mencakup baik dividen maupun apresiasi modal. Laba ekonomi
merupakan indikator dasar kinerja perusahaan – mengukur dampak keuangan seluruh
kejadian pada suatu periode komprehensif. Laba ekonomi mencakup baik komponen
berulang maupun tak berulang, dan karenanya tidak terlalu bermanfaat untuk
meramalkan potensi laba masa depan
b. Laba permanen atau
laba berkelanjutan (sustainable)
Laba
permanen merupakan rata-rata laba stabil yang ditaksir dapat diperoleh
perusahaan sepanjang umur, berbeda dengan laba ekonomi, yang mengukur perubahan
nilai perusahaan, laba permanen merupakan proporsi langsung dari nilai
perusahaan. Laba permanen mencerminkan fokus jangka panjang. Karenanya laba permanen
sering kali disebut kemampuan laba yang berkelanjut atau terus menerus (sustainable earning power), yang
merupakan konsep penting bagi analisis penilaian ekuitas maupun analisis kredit.
Umumnya, untuk perusahaan yang masih berlangsung, nilai perusahaan dapat
dicerminkan dengan membagi laba permanen dengan biaya modal. Karena hubungan
ini, menentukan laba permanen perusahaan merupaka tantangan
utama bagi banyak analisis.
Gambar 1 : Laba
Ekonomi dan Laba Permanen
c. Implikasi
analisis
1) Penyesuaian
laba permanen
Misalnya, seorang
analis bisa saja mengeluarkan keuntungan dari hasil penjualan segmen bisnis
utama ketikan menentukan komponen
permanen dari laba. Penyesuaian laba seperti itu disebut dengan laba inti (core
earnings) oleh analis yang bertugas. Menentukan laba inti periode berjalan
bermanfaat dalam teknik penilaian menggunakan kelipatan laba. Menentukan laba
inti juga bermanfaat dalam memberikan langkah awal yang lebih berarti dalam melakukan prediksi dan dalam membantu memberikan
asumsi-asumsi dalam kegiatan peramalan.
2) Penyesuaian
laba ekonomi
Salah satu cara dalam
mendapatkan laba ekonomi adalah dengan menghitung perubahan kekayaan pemegang
saham yang berasal dari sumber bukan pemilik; yang dapat berarti, dengan cara
memasukkan semua hal yang menyangkut perubahan kekayaan bersih pemegang
saham.
2.1.2 Konsep Laba Akuntansi
Laba akuntansi diukur
berdasarkan konsep akuntansi akrual. Meskipun laba akuntansi mencakup baik aspek
laba ekonomi maupun laba permanen, namun laba ini bukan merupakan pengukuran
laba secara langsung seperti kedua laba lainnya. Laba akuntansi memiliki masalah
pengukuran yang mengurangi kemampuannya untuk mencerminkan realitas ekonomi.
Konsekuensi, tugas utama analisis laporan keuangan adalah menyesuaikan laba
akuntansi untuk mencerminkan konsep laba alternatif yang lebih baik. Laba
akuntansi merupakan produk lingkup pelaporan keuangan yang melibatkan standar
akuntansi, mekanisme pengaturan, dan insentif manajer.
a. Pengakuan Pendapatan
dan Pengaitan Beban.
Tujuan utama akutansi
akrual adalah pengukuran laba. Dua proses utama dalam pengukuran laba adalah
pengakuan pendapatan dan pengaitan beban. Pengakuan pendapatan (revenue
recognition) adalah titik awal pengukuran laba. Menurut Wild
et.al.(2005:411), terdapat dua kondisi wajib agar pendapatan diakui. Dua kondisi wajib untuk dapat diakui adalah bahwa
pendapatan harus.
1) Telah dapat direalisasi (realized or realizable). Untuk
dapat diakui, suatu perusahaan telah mendapatkan kas atau komitmen andal untuk
mendapatkan kas, seperti piutang yang sah
2) Telah dihasilkan (earned). Perusahaan harus
menyelesaikan seluruh kewajibannya kepada pembeli, yaitu proses perolehan laba
harus telah selesai.
b. Laba Akuntansi dan
Laba Ekonomi
Laba akuntansi mungkin
terlihat serupa dengan laba ekonomi. Namun, laba akuntansi merupakan produk
lingkup pelaporan keuangan yang mengkibatkan standar akuntansi, mekanisme
pengaturan, dan insentif manajer.
Penyebab perbedaan laba akuntansi dengan laba ekonomi
adalah:
1) Konsep laba alternatif
Konsep laba ekonomi sangat berbeda dengan konsep laba
permanen. Pembuat standar akuntansi menghadapi dilema yang besar dalam hal ini,
termasuk pilihan menggunakan laba akuntansi atau laba permanen. Laba ekonomi
menjadikan pengukuran secara menyeluruh baik komponen yang berulang maupun yang
tidak berualang sedangkan laba permanen menyajikan komponen berulang saja tidak
menyajikan komponen yang tidak berulang. Kepentingan atas pengunaan kepentingan
yang berbeda atas konsep yang digunakan, untuk laba ekonomi akan menyajikan
seluruh laba yang diperoleh oleh arus kas saat ini dan masa depan hal ini sangat
berfungsi untuk menilai suatu perusahaan, sedangkan laba permanen penting karena
penggunaannya mampu menghasilkan nilai dari pengembalian pemegang saham di masa
yang akan datang. Atas dilema ini menjadikan pengukuran laba akuntansi tidak
konsisten, misal untuk imbal hasil pensiun menggunakan laba permanen sedangkan
untuk efek menggunakan laba ekonomi.
2) Biaya historis
Pengukuran
laba berdasarkan biaya historis memperlihatkan perbedaan antara laba akuntansi
dan laba ekonomi. Penggunaan laba menggunakan pengukuran biaya historis
mempengaruhi laba dengan dua cara yaitu;
· biaya penjulan terkini tidak tercermin pada laporan
laba rugi yaitu jika digunakan metode persediaan FIFO
· keuntungan dan kerugian aset tetap yang belum
direalisasi tidak dapat diakui.
3) Basis transaksi
Laba akuntansi biasanya mencerminkan dampak transaksi.
Dampak ekonomi yang tidak disertai transaksi yang wajar sering kali tidak
dipertimbangkan. Misalnya kontrak pembelian tidak diakui sebelum transaksi
pembelian terjadi.
4) Konservatisme
Konservativisme atau kehati-hatian dalam akuntansi
mengharuskan pengakuan langsung kejadian yang menurunkan laba, meskipun belum
terdapat transaksi yang mendasarinya misalnya penuruanan persediaan dan aset
tetap. Namun untuk pengakuan dampak kejadian yang meningkatkan laba harus
ditunda sampai dengan realisasi atas pendapatan tersebut terjadi.
5) Manajemen laba
Manajemen laba seperti income smoting, atau pengurasan
laba pada tahun tertentu menjadikan laba yang dihasilkan aleh akuntansi menjadi
terdistorsi, hal ini menjadikan laba akuntansi jauh dari realitas ekonomi yang
ada.
c. Komponen
Permanen, Sementara, Dan Tidak Relevan Dengan Nilai
Telah kita melihat
bahwa laba akuntansi berusaha menangkap elemen laba permanen maupun laba
ekonomi, tetapi memiliki kesalahan pengukuran. Karenanya penting untuk melihat
bahwa laba akuntansi terdiri dari tiga
komponen.
1) Laba
Permanen
Komponen laba akuntansi yang permanen diharapkan akan terjadi sepanjang
waktu, Karakteristik komponen ini serupa dengan konsep laba permanen
ekonomi.
2) Komponen
Sementara
Komponen laba akuntansi yang sementara tidak diharapkan untuk terjadi
lagi-biasanya merupakan peristiwa yang terjadi satu
kali.
3) Komponen
yang tidak relevan dengan nilai
Komponen yang tidak relevan dengan nilai (value irrelevant component)
tidak memiliki konten ekonomi-komponen ini adalah distorsi akuntansi. Komponen
ini timbul karena ketidaksempurnaan akuntansi. Komponen ini memiliki dampak pada
nilai perusahaan.
d. Implikasi
Analisis
Menyesuaikan laba
akuntansi merupakan tugas penting dalam analisis keuangan. Sebelum membuat
penyesuaian, penting untuk menentukan apakah tujuan analisis adalah mencari
laba ekonomi atau laba permanen berbeda baik sifat, dan tujuan, karenanya
penyesuaian yang dibutuhkan untuk menentukan masing-masing pengukuran dapat
jauh berbeda.
Menentukan komponen
laba periode berjalan yang berulang diperlukan untuk menentukan dan
menginterpretasi rasio harga saham terhadap laba (P/E) yang sesungguhnya dan
membuat perbandingan rasio P/E menjadi lebih berarti. Penentuan ini juga
memberikan “langkah awal” yang lebih berarti untuk melakukan peramalan dan
membantu memperoleh asumsi margin laba (profit margin) dan perputaan aktiva
(asset turnover).
Untuk menyesuaikan
laba akuntansi dalam mencari laba ekonomi, perlu menggunakan pendekatan inklusif
di mana kita akan mengambil seluruh komponen laba baik yang berulang maupun
tidak.
2.1.3 Alternative
Klasifikasi dan Pengukuran Laba
Laba
dapat diklasifikasi berdasarkan dua dimensi utama:
(1) komponen operasi
dan non operasi,
(2) komponen berulang
dan tidak berulang.
Klasifikasi
operasi dan nonoperasi terutama bergantung pada sumber pendapatan atau beban,
yaitu apakah pos tersebut berasal dari operasi perusahaan yang masih
berlangsung atau dari aktivitas investasi (pendanaan). Klasifikasi berulang dan
tidak berulang terutama bergantung pada apakah pos tersebut akan terus terjadi
atau hanya satu kali.
a. Laba Berulang dan
Tidak Berulang
Perlunya
mengklasifikasi komponen laba berulang dan tidak berulang berasal dari
kebutuhan untuk menentukan komponen laba permanen dan
sementara.
1) Pengukuran
Laba Akuntansi Alternatif. Laporan laba rugi biasanya menyajikan tiga alternatif
pengukuran laba:
a) Laba bersih (net income) dianggap sebagai hasil
akhir pengukuran laba, meskipun pada kenyataannya tidaklah demikian.
Prinsip-prinsip akuntansi yang berlangsung umum ( generally Asset Accounting
Principels – GAAP) memperkenankan sejumlah peyesuaian langsung terhadap ekuitas
yang disebut pos surplus kotor (Dirty Surplus), tanpa melalui laporan laba
rugi. SFAS 130 mencoba untuk mengatasi masalah ini dengan pengukuran laba
alternatif yang disebut pendapatan
komperhensif
b) Pendapatan komprehensif (comprehensive
income) mencerminkan hampir semua perubahan pada ekuitas
yang tidak berasal dari aktifitas pemilik (seperti deviden atau penerbitan
saham). Hal ini berarti pendapatan komprehensif merupakan pengukuran laba baris
terbawah dan merupakan perkiraan akuntanasi atas laba ekonomi. Sayangnya
perusahaan diperkenankan untuk menyajikan pendapatan komprehensif dalam laporan
perubahan ekuitas dan bukan laporan laba rugi. Pendapatan komprehensif berbeda
dengan laba bersih karena laba ini mencerminkan keuntungan dan kerugian atas kepemilikan yang belum
direalisasi, penyesuaian translasi ( penjabaran valuta asing dan tambahan penyesuaian kewajiban pensiun minimum
(yang tidak dilaporkan adalah keuntungan dan kerugian derivatif yang juga
memengaruhi laba komprehensif).
c) Laba dari operasi yang berlanjut (continuing
income) merupakan suatu pengukuran yang mengeluarkan pos luar biasa, dampak
komulatif perubahan akuntansi, dan dampak penghentian operasi. Karena alasan
ini, laba dari operasi yang masih berlangsung sering disebut laba
sebelum dampak komulatif perubahan akuntansi dan kombinasinya. Perusahaan
yang tidak memiliki komponen diatas tidak perlu melaporkan laba dari operasi
yang masih berlangsung
Banyak
analis menghitung pengukuran laba lain yang disebut laba
inti. Laba Inti (core income)
merupakan pengukuran yang mengeluarkan semua pos tidak berulang yang dilaporkan
dalam baris terpisah pada laporan keuangan.
2) Implikasi Analisis. Standar akuntansi mewajibkan
pengukuran laba alternative sehingga pemakai laporan keuangan dapat
mengidentifikasi komponen laba yang berkelanjutan dan yang tidak. Pertama,
pengukuran laba yang benar tidak mungkin dilakukan tanpa menetapkan tujuan
analisis. Kedua, pengukuran alternative laba akuntansi berasal hanya dari
memasukkan, atau mengeluarkan, pos tertentu.
b. Laba Operasi dan
Nonoperasi
Laba
operasi (operating income)
merupakan suatu pengukuran laba perusahaan yang berasal dari aktivitas operasi
yang masih berlangsung. Terdapat tiga aspek penting dalam laba operasi,
yaitu:
1) Laba
operasi terkait hanya dengan laba yang berasal dari aktivitas
operasi. Karena itu, setiap pendapatan (dan laba) yang tidak
berhubungan dengan operasi usaha bukanlah menjadi bagian laba
operasi
2) Ini
berhubungan dengan yang pertama, laba operasi berfokus pada laba perusahaan
secara keseluruhan dan bukan hanya untuk pemilik utang dan ekuitas. Artinya,
penapatan dan beban pendanaan (terutama beban bunga) akan dikeluarkan ketika
mengukur laba operasi
3) Laba
operasi hanya terkait dengan aktivitas usaha yang masih
berlangsung.
Artinya setiap laba atau rugi yang berkaitan dengan
operasi yang dihentikan akan dikeluarkan dari laba
operasi.
Laba nonoperasi (nonoperating income) mencakup seluruh
komponen laba yang tidak termasuk dalam operasi. Laba ini terkadang berguna
ketika kita menganalisis laba non-operasi untuk memisahkan komponen yang
berkaitan dengan aktifitas pendanaan dari yang berkaitan dengan operasi yang
dihentikan.
Implikasi
Analisis
Kegunaan laba operasi
muncul dari satu tujuan penting dalam pendanaan perusahaan, yaitu keinginan
untuk memisahkan keputusan investasi (dan operasi), seperti penganggaran modal,
dari keputusan pendanaan seperti kebijakan deviden. Karena tujuan ini, kita
perlu menentukan suatu pengukuran laba perusahaan komperhensif yang independen
terhadap keputusan pendanaan dan investasi efek perusahaan. Laba operasi
merupakan salah satu pengukuran itu. Perhatikan bahwa laba operasi sebelum pajak
sama dengan laba sebelum beban bunga dan pajak (earning
before interest and taxes- EBIT), sementara laba operasi setelah pajak sama
dengan laba bersih operasi setelah pajak (net
operating profit after taxes-NOPAT).
2.1.4 Pendapatan
Komprehensif
GAAP telah lama
mendukung konsep pendapatan komprehensif, atau mencakup semua, dimana angka
pendapatan pada baris terbawah terkait dengan ekuitas neraca yang menyertainya,
atau pendapatan pada baris terbawah mencerminkan semua perubahan ekuitas
pemegang saham yang berasal dari sumber selain transaksi pemilik. Artikulasi ini
disebut surplus bersih (clean
surplus). Meskipun begitu, para pembuat standar telah memperkenankan
komponen pendapatan komprehensif tertentu untuk melewati laporan laba rugi dan
langsung menjadi penyesuaian ekuitas. Penyesuaian ini, yang disebut surplus
kotor (dirty
surplus).
a. Mengukur Pendapatan
Komprehensif. Seperti dijelaskan oleh SFAS 130, pendapatan komprehensif dihitung
dengan menyesuaikan laba bersih dengan pos kelebihan kotor, yang jika digabung
akan menjadi pendapatan komprehensif. Perhitungan pendapatan komprehensif dari
suatu perusahaan:
Laba bersih XXX
Pendapatan
komprehensif lainnya:
+/- keuntungan (kerugian) kepemilikan
efek yang belum
direalisasi XXX
+/- penyesuaian translasi valuta asing XXX
+/- penyesuaian tambahan kewajiban
minimum XXX
+/- keuntungan (kerugian) kepemilikan
instrument derivative
yang belum direalisasi XXX XXX
Pendapatan
komprehensif XXX
b. Implikasi Analisis.
Pentingnya pendapatan komprehensif bagi analisis
laporan keuangan timbul karena pendapatan komprehensif merupakan perkiraan
akuntan atas laba ekonomi. Penting untuk mengakui bahwa pendapatan komprehensif
harus disesuaikan untuk menghitung laba ekonomi. Beberapa analis berpendapat
bahwa seluruh komponen pendapatan komprehensif tidak relevan karena komponen ini
tidak berlangsung lama. Penelitian menunjukan bahwa satu-satunya komponen
pendapatan komprehensif yang relecan untuk penilaian ekuitas adalah keuntungan
atau kerugian efek yang belum direalisasi, dan itupun hanya berlaku untuk
institusi keuangan (Dhaliwal, Subramanyam, dan Trezevant,
2000).
2.2 PENDAPATAN
DAN BEBAN
Mengukur Laba
Akuntansi
Laba
akuntansi ditentukan dengan mengakui pendapatan dan biaya kredit. Karenanya,
pendapatan (dan keuntungan) serta beban (dan kerugian) merupakan komponen utama
laba akuntansi.
2.2.1 Pendapatan dan
Keuntungan
Pendapatan (revenues)
merupakan arus masuk yang diperoleh atau arus kas masuk yang akan diperoleh yang
berasal dari aktivitas usaha perusahaan yang masih berlangsung. Keuntungan (gains) merupakan arus masuk yang
diperoleh atau akan diperoleh yang berasal dari transaksi dan kejadian yang
tidak terkait dengan aktivitas usaha perusahaan yang masih
berlangsung.
Perbedaan antara
pendapatan dan keuntungan berdasarkan aktivitas usaha yang masih berlangsung
untuk menghasilkan pendapatan. Pendapatan atau aktivitas untuk memperoleh
pendapatan, diharapkan akan terjadi selamanya berdasarkan kelangsungan usaha.
Sebaliknya, keuntungan tidak berulang. Perbedaan ini penting untuk analisis,
terutama saat menentukan laba yang
berkelanjutan.
Metode pengakuan
pendapatan dapat memengaruhi laba yang dilaporkan secara signifikan. Pengakuan
pendapatan telah menjadi makin rumit, karena semakin terkait dengan aktivitas
e-commerce. Menganalisis praktik
pengakuan pendapatan sangat penting pada analisis laporan
keuangan.
2.2.2 Beban dan
Kerugian
Beban (expenses)
merupakan arus keluar yang terjadi atau arus keluar yang akan terjadi, atau
alokasi arus keluar masa lampau yang berasal dari aktivitas usaha perusahaan
yang masih berlangsung. Kerugian (losses) merupakan penurunan aktiva
bersih perusahaan yang berasal dari aktivitas sampingan atau incidental
perusahaan. Keuntungan dan kerugian merupakan sumber daya dan jasa yang dapat
dikonsumsi, dihabiskan atau hilang dalam memperoleh atau memproduksi pendapatan
dan keuntungan. Akuntansi beban dan kerugian sering kali melibatkan penilaian
jumlah dan waktu alokasi atas periode pelaporan. Masalah penting lainnya adalah
penangguhan biaya (atau alokasi
sepanjang beberapa periode).
2.3 PERUBAHAN
AKUNTANSI
Perusahaan dapat mengubah
akuntansi dan asumsi yang mendasari laporan keuangan karena beberapa alasan.
Kadang kala,metode akuntansi diubah karena adanya standar
akuntansi baru. Pada saat lainnya, metode akuntansi dan/atau asumsi diubah untuk
dapat mencerminkan aktivitas atau kondisi usaha yang berubah dengan lebih baik.
Manajer juga kadang kala mengubah metode akuntansi dan/atau asumsi untuk
mempercantik laporan keuangan, terutama melakukan manajemen laba. Untuk
mencegah manajer mengubah suatu metode akuntansi dengan metode akuntasi
lainnya, standar akuntansi mewajibkan bahwa “saat menyiapkan laporan keuangan
terdapat asumsi bahwa suatu prinsip akuntansi saat diadopsi seharunya tidak
diubah pada akuntanis kejadian atau transaksi yang serupa. Asumsi bahwa entitas
tidak merubah prinsip akuntansi dapat ditinggalkan jika hanya perusahaan
memberikan pembenaran penggunaan prinsip akuntansi alternatif yang diterima
berdasarkan dasar yang lebih disukai”.
Standar akuntansi membedakan
empat bentuk perubahan akuntansi: (1) perubahan prinsip akuntansi, (2)perubahan
estimasi akuntansi, (3)perubahan entitas pelapor, dan (4)koreksi kesalahan.
Berikut ini pembahasannya:
2.3.1 Melaporkan Perubahan
Akuntansi
a. Perubahan Prinsip
Akuntansi. Perubahan prinsip akuntasi terjadi saat perusahaan berpindah dari
satu prinsip akuntansi yang berlaku umum ke prinsip akuntansi yang berlaku umum
lainnya. Istilah prinsip akuntansi mengacu ke standar akuntansi dan praktik yang
digunakan serta metode pengaplikasian standar tersebut. Suatu contoh perubahan
prinsip akuntansi salah perubahan metode penyusutan dari garis lurus menjadi
percepatan.
Saat terjadi
perubahan, laba periode berjalan dihitung denga menggunakan prinsip baru. Dampak
kumulatif perubahan prinsip ini (setelah pajak) terhadap laba ditahan pada awal
periode dihitung saat peruabhan terjadi. Dampak kumulatif disajikan pada laporan
laba rugi setelah pos luar biasa, tetapi sebelum laba bersih. Penghitungan ini
merupakan penyesuaian “berjalan” karena laporan keuang sebelumnya yang telah
dipublikasi tidak direvisi. Perubahan juga mengungkapkan informasi berikut pada
catatan atas laporan keuangan saat terjadi perubahan prinsip
akuntansi.
1) Sifat dan pembenaran perubahan
prinsip.
2) Dalam prinsip baru terhadap laba bersih maupun laba
sebelum pos luar biasa untuk periode terjadinya perubahan, termasuk dampak pada
lab per saham.
3) Dalam pro forma (seolah-olah) dari aplikasi perubahan
akuntansi re-troaktif terhadap laba bersih dan laba sebelum pos luar biasa (dan
laba per saham terkait) utnuk tahun-tahun dimana laporan keuangan disajikan
(biasanya dua tahun sebelumnya).
Jika dampak pro forman
tidak dapat ditentukan, perusahaan harus mengungkapkan alasannya. Perubahn
metode alokasi biaya aktiva jangka panjang jika hanya diterapkan hanya untuk
aktiva baru yang diperoleh, tidak memerlukan penyesuaian berjalan.
b. Perubahan estimasi
akuntansi. Akuntansi akrual membutuhkan estimasi beberapa hal seperti masa
manfaat aktiva, biaya garansi, keusangan persediaan, asumsi pension, dan piutang
tak tertagih. Hal ini disebut estimasi akuntansi. Estimasi akuntansi merupakan
perkiraan berdasarkan kondisi masa deoan yang tidak diketahui. Karenanya,
estimasi akuntansi dapat berubah. Terdapat persyaratan akuntansi dan
pengungkapan saat terjadi peruabhan estimasi akuntansi. Yaitu:
1) Aplikasi prospektif (prospective application)- suatu
perubahan diterapkan pada periode perubahan dan jika dapat masa depan ketika
suatu dampak terjadi (tidak memerlukan penyajian kembali decar
retroaktif).
2) Pengungkapan pada catatan (note disclosure)-
mengungkapkan dampak perubahan terhadap laba bersih dan dala sebelum pos seblum
pos luar biasa (termasuk laba per saham) hanya untuk periode berjalan, meskipun
perubahan memengaruhi periode masa depan.
c. Perubahan entitas
pelaporan. Perubahan entitas pelaporan berasal dari berbagai cara,
termasuk:
2.3.2 Publikasi
awal laporan keuangan konsolidasi
2.3.3 Perubahan
kebijakan konsolidais terkait anak perusahaan
Pada kasus ini,
praktik akuntansi mewajibkan penyajian kembali seluruh laporan keuangan periode
sebelumnnya dan mengungkapkan sifat perubahan entitas pelaporan dan
alasannya.
d. Koreksi
kesalahan. Pada laporan keuangan dapat berasal dari kesalahan aritmatika,
kesalah aplikasi prinsip akuntansi, atau kesalahan pengungkapan informasi.
Koreksi kesalahan tidak dianggap sebagai perubahan akuntansi. Sebaliknya,
koreksi kesalahan diperlakukan sebagai penyesuaian periode sebelumnya terhadap
saldo awal laba ditahan pada periode ditemukannya kesalahan. Pengungkapan
mencakup kesalahn dan dampaknya terhadap laba bersih dan laba sebelum pos luar
biasa (serta lab per saham terkait).
2.3.4 Analisis Perubahan
Akuntansi
Terdapat beberapa hal
yang harus dipertimbangkan seorang analis saat menganalisis peruabahn
akuntanis. Pertama perubahan akuntansi adalah kosmetik dan tidak memiliki
kosekuenis arus kas-baik saat inimaupun masa depan. Hal ini berarti kondisi
keuangan perusahaan tidak berpengaruh dengan perubahan
akuntansi.
Kedua,
meskipun perubahan akuntansi hanya kosmetik, namun kadang-kadang peruabahan ini
dapat mencerminkan realitas ekonomi. Misalnya, keputusan suatu perusahaan untuk
memperpanjang masa manfaat mesinnya mungkin merupakan usaha untuk mengkaitkan
biaya dengan pola penggunaan aktula yang lebih baik.
Ketiga, seorang analis harus waspada terhadap manajemen
laba. Manajemen laba tidak menjadi masalah saat pengadopsian standar
baru-meskipun, manajer dapat mengatur waktu adopsi saat periode dimana dampak
perubahan ini lebih menguntungkan. Namun, pada kasus perubahan akuntansi secara
sukarela, kemungkinan motivasinya adalah manajemen laba. Meskipun kadang kala
manajer melakukan manajemen laba melalui perubahan prinsip akuntansi, namun
metode manajemen laba yang lebih popular dan pintar adalah mengestimasi
akuntansi. Tidak seperti perubahan prinsip akuntansi, dimana dampak kumulatifnya
terlihat jelas pada laporan laba rugi, informasi perubahan estimasi sering kali
terkubur dalam catatan laporan keuangan.
Masalah lain dengan perubahan akuntansi adlah
manipulasi laba. Tidak seperti manajemen laba, yang merupakan cara mempercantik
(window dressing) laporan keuangan dalam koridor GAAP, manipulasi laba terjadi
saat perusahaa menyimpang dari praktik yang diterima. Saat staff SEC menemukan
praktik akuntansi tersebut, perusahaan diwajibkan menyajikan kembali laporan
keuangannya. Penyajian kembali tersebut dilaporkan pada Accounting Enforcement
Releases (AER), yang menunjukkan bahwa perusahaan mengadopsi praktik akuntansi
yang terlalu agresif. Meskipun pada permasalahan yang tidak sengaja juga
terjadi, seorang analisi harus waspada jika perusahaan diminta SEC untuk
menyajikan kembali laporan keuangannya.
Keempat, seorang analisis harus menilai dampak
perubahan akuntansi terhadap perbandingan antarwaktu. Penting bagi seorang
analis memastikan bahwa setiap perbandingan (terutama antarwaktu) dibuat
berdasarkan satu set aturan akuntansi yang konsisten. Jika perusahaan melaporkan
dampak perubahan akuntansi untuk data tahun sebelumnya pada catatan atas laporan
keuangan, laba historis dapat disesuaikan. Jika tidak ada data yang dilaporkan,
seorang analis harus waspada terhadap potensi keterbatasan untuk melakukan
perbandingan antar waktu.
Akhirnya, seorang analis mungkin ingin mengevaluasi
dampak perubahan akuntansi baik terhadap laba ekonomi maupun laba permanen.
Untuk mengestimasi laba permanen, seorang analis dapat menggunakan angka yang
dilaporkan berdasarkan metode baru dan mengabaikan dampak kumulatif. Untuk
mengstimasi laba ekonomi periode berjalan, baik laba periode berjalan maupun
dampak kumulatif diperhitungkan.
2.4 KASUS
Contoh
1
Delta Airlines sebelumnya menyusutkan peralatan penerbangan dalam masa manfaat 15 tahun
dengan menggunakan nilai sisa sebesar 10%. Pada kuartal ke empat tahun berjalan.
Delta mengubah kebijakan penyusutannya dengan mengasumsikan masa manfaat 20
tahun dengan nilai sisa sebesar 5 %. Perubahan ini menurunkan beban penyusutan
Delta sebesar 36 juta dollar pada kuartal keempat dan karenanya, meningkatkan
laba bersih tahun fiskal sebesar 22 juta
dollar.
Penjelasan:
Motivasi perubahan
kebijakan penyusutan Delta Airlines yang dijelaskan di atas, akan terlihat jika
kita mememrhatikan pola kerugian operasinya sepanjang waktu tersebut. Tahun
2-$(675) juta; tahun 3-$(575) juta; tahun 4- $(447) juta. Pola ini
menggambarkan suatu kemajuan sepanjang waktu- atau presentase penurunan
kerugian sebesar 13% per tahun. Namun, jika kita menyajikan kembali angka ini
dengan menggunakan metode penyusutan awal, pola kerugian operasi sebagai
berikut; tahun ke 2-$(675) juta, tahun ke 3-$(609) juta, tahun ke 4-$ (583)
juta. Hal ini memperhatikan bahwa akuntansi menambah laba sebesar $34 juta tahun
3 dan sebenarnya $136 juta tahun ke 4. Penurunan kerugian operasi berdasarkan
data awal karenanya hanya sekitar 5 % per
tahun.
Contoh
2
Aset tetap di beli dengan harga 140.000.000, pada
awalnya di perkirakan berumur ekonomis 5 tahun dan nilai residu 10.000.000. aset
telah di susutkan selama dua tahun menggunakan metode garis lurus dan
menghasilkan penyusutan sebesar 26.000.000/tahun, pada akhir tahun kedua, nilai
buku yang belum di susutkan 88.000.000 ditentukan sebagai
berikut
Biaya awal aset 140.000.000
(Dikurangi) akum.penyusutan (26.000.000 x 2) 52.000.000
Nilai buku yang belum disusutkan 88.000.000
Pada tahun ke 3, di perkirakan sisa masa kegunaan aset
adalah 8 tahun (bukan 3 tahun) dan nilai residu sebesar 8.000.000 (bukan
10.000.000) dan penyusutan per tahun selema 8 tahun (sisa kegunaan aset) sebesar
10.000.000, di tentukan sebagai berikut
Kemudian
Nilai buku yang belum di susutkan 88.000.000
(Dikurangi) estimasi nilai residu yang belum di
revisi 8.000.000
Biaya yang dapat di
susutkan (hasil revisi) 80.000.000
Beban penyusutan tahunan yang di revisi (80.000.000 / 8
tahun) 10.000.000
Dari perhitungan di atas menunjukan bahwa pada awal
tahun ke 3, aset memiliki nilai sebesar 88.000.000 dan setiap tahun-nya akan di
susutkan 10.000.000 (menggunakan metode garis lurus) selama 8 tahun (sisa umur
aset), namun penyusutan tersebut tidak perlu lebih rendah dari nilai residu aset
sebesar 8.000.000
BAB 3
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Laba merupakan ringkasan
hasil aktivitas operasi usaha yang dinyatakan dalam istilah keuangan. Laba
dapat dipandang melalui 2
pemahaman yaitu laba ekonomi dan laba
akuntansi.
Laba akuntansi mungkin terlihat serupa
dengan laba ekonomi. Namun, laba akuntansi merupakan produk lingkup pelaporan
keuangan yang mengkibatkan standar akuntansi, mekanisme pengaturan, dan insentif
manajer. Laba dapat diklasifikasi berdasarkan dua dimensi
utama, yaitu (1) komponen operasi dan non operasi, dan (2) komponen berulang
dan tidak berulang.
Laba
akuntansi ditentukan dengan mengakui pendapatan dan biaya kredit. Karenanya,
pendapatan (dan keuntungan) serta beban (dan kerugian) merupakan komponen utama
laba akuntansi.
Perusahaan dapat mengubah
akuntansi dan asumsi yang mendasari laporan keuangan karena beberapa alasan.
Kadang kala,metode akuntansi diubah karena adanya standar
akuntansi baru. Pada saat lainnya, metode akuntansi dan/atau asumsi diubah untuk
dapat mencerminkan aktivitas atau kondisi usaha yang berubah dengan lebih baik.
Manajer juga kadang kala mengubah metode akuntansi dan/atau asumsi untuk
mempercantik laporan keuangan, terutama melakukan manajemen
laba.
Standar akuntansi membedakan
empat bentuk perubahan akuntansi: (1) perubahan prinsip akuntansi, (2)perubahan
estimasi akuntansi, (3) perubahan entitas pelapor, dan (4) koreksi
kesalahan.
3.2 SARAN
Penggunaan
konsep-konsep pengukuran laba dengan konsep yang lainnya dikombinasikan guna
menutupi kelemahan-kelemahan penggunaan konsep nilai saat ini agar tujuan atas
pengukuran dan pelaporan laba dapat bermanfaat bagi semua
pihak.
DAFTAR PUSTAKA
Wild,
John J, dkk. 2005. Financial
Statement Analysis.
Jakarta:
Penerbit Salemba Empat
Informasi yang sangat menarik dan mendidik. Baca juga informasi mengenai pentingnya Analisis Keuangan bagi perusahaan
ReplyDelete