-->

ANALISIS INFORMASI KEUANGAN SAP 5

2.1  Aset Lancar (Current Assets)
Aset merupakan sumberdaya yang dikuasai oleh suatu perusahaan dengan tujuan menghasilkan laba. Aset dapat digolongkan ke dalam dua kelompok yakni aset lancar (current assets) dan aset tidak lancar (non current assets)


clip_image002

Aset lancar merupakan sumberdaya atau klaim atas sumberdaya yang langsung dapat diubah menjadi kas, biasanya dalam jangka waktu siklus operasi perusahaan. Suatu siklus operasi merupakan jumlah waktu dari komitmen atas kas pada pembelian hingga diperoleh kas yang berasal dari penjualan barang atau jasa. Siklus ini merupakan proses dimana perusahaan mengubah kas menjadi aset jangka pendek dan kembali menjadi kas sebagai bagian aktivitas operasi yang sedang  berjalan. Untuk perusahaan manufaktur, hal ini mencakup pembelian bahan baku, mengubah bahan baku menjadi produk jadi, dan kemudian menjual dan menagih kas dari piutang. Kas mencerminkan titik awal dan titik akhir siklus operasi. Siklus operasi digunakan untuk membedakan aset (dan kewjiban) dalam kelompok lancardan tak lancar. Aset lancar adalah aset yang diharapkan akan dijual, ditagih, atau digunakan selama satu tahun atau satu siklus operasi, tergantung dari mana yang lebih panjang. Aset lancar digolongkan menjadi kas dan setara kas, piutang jangka pendek, efek jangka pendek, persediaan, dan beban dibayar dimuka.

Selisih antara aset lancar dengan kewajiban lancar disebut modal kerja (working capital). Perusahaan memerlukan modal kerja untuk beroperasi dengan efektif, namun modal  kerja mahal karena akan menggunakan investasi yang paling menguntungkan. Banyak perusahaan yang berusaha meningkatkan profitabilitas dan arus kasnya untuk mengurangi investasi pada asetlancar melalui metode seperti pengelolaan penjaminan kredit, penagihan piutang yang efektif, serta persediaan tepat waktu (just-in-time). Perusahaan lain berusaha untuk mendanai aset lancar mereka dengan kewajiban lancar, seperti utangdagang, sebagai usaha mengurangi moda kerja.
Oleh karena dampak aset lancar (dan kewajiban lancar) terhadap likuiditas dan profitabilitas , analisis aset lancar (dan kewajiban lancar) sangat penting untuk analisa kredit dan analisa profitabilitas.
2.1.1        Kas dan Setara Kas
Kas (cash) merupakan aktiva yang paling likuid, mencakup mata uang, deposito dana, money orders, dan cek. Setara kas (cash equivalents) juga tergolong sangat lancar, investasi jangka pendek yang siap dikonversi menjadi kas dan hampir jatuh tempo sehingga risiko perubahan harga yang disebabkan pergerakan tingkat bunga hanya minimal.
Konsep likuiditas (liquidity) penting dalam analisis laporan keuangan. Likuiditas berarti jumlah kas atau setara kas yang dimiliki perusahaan dan jumlah kas yang dapat diperoleh dalam periode singkat. Likuiditas memberikan fleksibilitas untuk memanfaatkan kondisi perubahan pasar dan untuk bereaksi terhadap strategis pesaing. Likuiditas juga terkait dengan kermampuan perusahaan untuk memenuhi kewajibannya saat jatuh tempo. Banyak perusahaan dengan neraca yang kuat mengalami kesulitan yang serius karena tidak likuid.
Selain memeriksa jumlah aktiva likuid yang tersedia untuk perusahaan, analisis juga harus mempertimbangkan hal berikut:
1)      Sejauh mana setara kas diinvestasikan pada efek ekuitas, perusahaan mengalami penurunan likuiditas jika nilai pasar dari efek investasi tersebut turun.
2)      Kas dan setara kas sering kali dibutuhkan sebagai saldo kompensasi (compensating balances) untuk mendukung suatu perjanjian pinjaman atau sebagai jaminan utang.
2.1.2        Piutang
Piutang merupakan nilai jatuh tempo yang berasal dari penjualan barang atau jasa atau dari pemberian pinjaman uang. piutang usaha mengacu pada janji lisan untuk membayar yang perasal dari penjualan produk dan jas asecara kredit. Wesel tagih mengacu pada janji tertulis untuk membayar. Piutang diklasifikasikan ke dalam asset lancar jika diharapkan akan direalisasi atau ditagih dalam waktu satu tahun atau satu siklus operasi, tergantung dari mana yang lebih panjang.
2.1.3        Penilaian Piutang
Analisis piutang penting karena dampaknya terhadap posisi aktiva dan arus laba perusahaan yang saling terkait. Pengalaman menunjukkan bahwa perusahaan tidak dapat menagih semua piutangnya. Meskipun keputusan mengenai kolektabilitas (ketertagihan) dapat dibuat kapan saja, kolektabilitas piutang dalam satu kelompok hanya dapat diestimasi berdasarkan pengalaman masa lalu, dengan penyisihan yang layak berdasarkan ekonomi saat ini, industri dan kondisi debitur. Resiko analisis ini adalah pengalaman masa lalu mungkin bukan alat prediksi yang layak atas kerugian masa depan, atau mungkin kita gagal mencerminkan kondisi terkini. Kerugian piutang dapat menjadisangat berarti dan memengaruhi baik aset lancar serta laba bersih sekarang dan masa depan.
Perusahaan melaporkan piutang sebesar nilai realisasi bersih (jumlah total piutang dikurangi penyisihan piutang tak tertagih)
2.1.4        Analisis Piutang
1)      Risiko Kolektibilitas
Informasi penuh untuk menilai risiko kolektibilitas biasanya tidak dicakup dalam laporan keuangan. Informasi yang berguna harus diperoleh dari sumber lain atau dari perusahaan. Alat analisis untuk memeriksa kolektibilitas mencakup:
·         Membandingkan persentase piutang terhadap penjualan perusahaan pesaing dengan perusahaan yang sedang dianalisis.
·         Memeriksa konsentrasi pelanggan, risiko meningkat jika piutang terkonsentrasi pada satu atau sedikit pelanggan.
·         Menyelidiki pola umur piutang (sudah melewati jatuh tempo dan berapa lama).
·         Menentukan bagian piutang yang merupakan pengalihan atau perpanjangan (renewal) dari piutang atau wesel tagih masa lalu.
2)      Keaslian Piutang
Deskripsi piutang pada laporan keuangan atau catatan atas laporan keuangan biasanya tidak cukup untuk memberikan tingkat keandalan mengenai apakah piutang asli, jatuh tempo, dan dapat ditagih. Pemahaman mengenai praktik industri dan sumber informasi tambahan digunakan untuk menambah keyakinan. Salah satu faktor yang memengaruhi keandalan piutang adalah kebijakan kredit perusahaan. Kebijakan kredit yang ketat berdampak pada kualitas yang lebih tinggi, atau risiko piutang yang lebih rendah. Perusahaan biasanya melaporkan kebijakan kreditnya dalam catatan atas laporan keuangan.
3)      Sekuritisasi Piutang
Salah satu masalah analisis penting adalah saat perusahaan menjual semua atau sebagian piutangnya pada pihak ketiga. Praktik ini disebut anjak piutang (factoring) atau sekuritisasi (securitization). Piutang dapat dijual dengan recourse atau tanpa recourse pada pembeli (recourse terkait atas jaminan kolektibilitas) Penjualan piutang dengan recourse tidak memindahkan dengan efektif risiko kepemilikan piutang dari penjual.
2.1.5        Beban Dibayar Dimuka
Beban dibayar di muka (prepaid expenses) merupakan pembayaran di muka atas jasa atau barang yang belum diterima. Sebagai contoh adalah pembayaran di muka untuk asuransi, utilitas, dan pajak bangunan. Analisis kita harus mewaspadai bahwa, karena alasan percepatan atau tidak material, beberapa jasa yang jatuh tempo lebih dari satu tahun juga dicakup dalam beban dibayar dimuka yang dikelompokkan sebagai aktiva lancar.
2.1.6        Persediaan
1)      Akuntansi Dan Valuasi Persediaan
Persediaan merupakan barang yang dijual dalam aktivitas operasi normal perusahaan. Pentingnya metode akumulasi biaya dalam penilaian persediaan disebabakan oleh dampaknya pada laba bersih dan penilaian asset. Metode persediaan digunakan untukm mengalokasikan biaya barag tersedia untuk dijual pada harga pokok penjualan atau persediaan akhir.
Persamaan persediaan dapat digunakan untuk memahami arus persediaan. Untuk perusahaan: persediaan awal + pembelian bersih – harga pokok penjualan = persediaan akhir. Persamaan ini menekankan arus biaya dalam perusahaan. Arus ini secara alternative dapat dinyatakan pada grafik sebelah kiri.
Biaya persediaan awalnya dicatat pada neraca. Saat persediaan terjual, biaya ini dipindahkan dari nerca dan mengalir pada laporan laba rugi sebagai harga pokok penjualan. Biaya tidak dapat berada pada dua tempat yang sama pada waktu bersamaan, melainkan dapat dicatat pada neraca sebagai beban masa depan, atau diakui saat ini pada lapiran laba rugi profitabilitas untuk dikaitkan dengan pendapatan  penjualan.
Konsep penting akuntansi persediaa adalah arus biaya. Jika seluruh persediaan diperoleh pada periede terjualnya, maka HPP akan sama dengan biaya pembelian barang. Namun jika persediaan tersedia pada akhir periade akuntansi, penting untuk menentukan persediaan mana yang telah terjual dan iaya mana yang tersdia pada neraca.
2)      Arus Biaya Persediaan
Untuk memberikan ilustrasi asumsi arus biaya yang tersedia, misalanya catatan persediaan suatu persahaan sebgai berikut:
Persediaan tanggal 1 januari, 2009           40 unit@$500  = $20.000
clip_image003Persediaan dibeli sepanjang tahun          60  unit@$600          = $36.000        
Harga pokok barang tersedia untuk dijual     100 unit           $56.000
Selanjutnya, jika sepanjang tahun terjual 30 unit seharga $800 dan menghasilkan pendapatan penjualan sebesar $24.000. GAAP memeberikan  tiga pilihan bagi perusahaan untuk menentukan biaya mana yang akan dikaitkan dengan poen jualan:
a)      First- in, firs-out (FIFO). Metode ini mengansumsikan bahwa yang dibeli pertama merupakan yang pertama dijual. Berikut adalah laba kotor perusahaan jika menggnakan FIFO:
Penjualan                                 $24.000
clip_image004HPP  (30@$500)                     $15.000
Laba  kotor                              $  9.000
Oleh karena biaya persediaan sebesar $15.000 telah dipindahkan dari neraca, biaya persediaan yang dilaporkan pada neraca akhir periode adalah $41.000.
b)      Last-in, first-out (LIFO), metode ini mengansumsikan bahwa yang dibeli terakhir merupaka yang pertama dijual. Sehingga laba kotornya adalah sebgai berikut:
Penjualan                                                       $24.000
clip_image005Harga pokok penjualan (30 @ $600)            $18.000
Laba Kotor                                                     $  6.000
Oleh karena biaya persediaan sebesar $18.000 telah dipindahkan dari neraca dan tercemin pada HPP, biaya yang tersisa pada neraca sebesar $38.000 dilaporkan sebgai persediaan.
c)      Average cost (Biaya persediaan rata-rata). Unit dijual tanoa memperhatikan uutan pembeliannya dan menghitung HPP serta persediaan akhir seagai rata-rata tertimbang sedrrhana sebgai berikut:
Penjualan                                                    $24.000
clip_image006HPP (30@$560)                                          $16.800
Laba kotor                                                   $ 7.200
HPP dihitung dengan menggunakan rat-rata tertimbang dari biaya barang tersedia untuk dijual total dibagi dengan jumlah unit yang tersedia untuk dijual ($56.000/100=$560). Persediaan akhir dilaporkan pada neraca adalah $39.200.
3)      Analisis Persediaan
a)      Dampak Biaya Persediaan Terhadap Profitabilitas
Ringkasan hasil perhitungan dengan tiga alternative metode diatas adalah :


Metode

Persediaan Awal

Pembelian

Persediaan Akhir

Harga Pokok Penjualan

FIFO

$20.000

$36.000

$42.000

$15.000

LIFO

$20.000

$36.000

$38.000

$18.000

Average Cost

$20.000

$36.000

$30.200

$16.800
Laporan laba rugi berdasarkan ketiga metode berikut adalah:

Baca Juga


Metode

Penjualan

Harga Pokok Penjualan

Laba kotor

FIFO

$24.000

$15.000

$9.000

LIFO

$24.000

$18.000

$6.000

Average Cost

$24.000

$16.800

$7.200

Kesimpulan : laba kotor dapat dipengaruhi oleh pilihan metode penghitungan biaya perusahaan.. Pada periode di mana harga meningkat FIFO memberikan laba kotor yang lebih tinggi dibandingkan LIFO karera persediaan yang lebih rendah dikaitkan dengan pendapatan penjualan dengan harga pasar terkini. Hal ini sering kali dinyatakan sebagai keuntungan fiktif FIFO karena laba kotor sebenarnya merupakan penjumlahan dari dua komponen: laba ekonomi (economic profit) dan laba kepemilikan (holding gain). Laba ekonomi sesuai dengan jumlah yang terjual dikalikan dengan selisih antara harga jual dan biaya penggantian persediaan (kira-kira sebesar biaya pembelian persediaan yang paling kini). Laba kepemilikan merupakan kenaikan pada biaya penggantian karena persediaan telah diperoleh dan sama dengan jumlah unit terjual dikali dengan selisih biaya penggantian terkini dengan biaya perolehan awal.
b)      Dampak Biaya Persediaan Terhadap Neraca
Pada periode harga meningkat, dan dengan asumsi persediaan belum melikuidasi laporan persediaan lamanya, LIFO melaporkan persediaan akhitr pada harga yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan biaya penggantian. Sehingga, neraca perusahan yang menggunakan LIFO, tidak secara akurat mencerminkan investasi lancaryang dimiliki perusahaan dalam persediaan.
c)      Dampak Biaya Persediaan Terhadap Arus Kas
Peningkatan laba ktor dengan metod FIFO juga menyebabkan laba sebelum pajak yang lebih tinggi, sehingga menimbulkan utang pajak yang lebih tinggi. Pada periode ini di mana harga meningkat, perusahaan dapat terjebak pada penguranagan arus kas karena membeyar pajak yang lebih tinggi dan perlu mengganti persediaan yang terjuala pada biaya penggantianyang lebih tinggi dibandingkan dengan biaya pembelian awal.
Salah satu alasan digunakannya LIFO adalah pengurangan kewajiban pajak pada periode harga meningkat. Namun IRS mengharuskan bahwa perushaan yang menggunakan LIFO untuk tujuan pajak harus menggunakan metode ini untuk laporan keuangan. Ini merupakan aturan ketaan LIFO (LIFO conformity rule). Perusahaan yang menggunakan biaya persediaan LIFO diharuskan untuk mengungkapkan jumlah yang akan dilaporkan jika perusahaan menggunakan metode FIFO. Selisish anatar kdua metode ini dinamankan cadangan LIFO. Hal ini dapat digunakan untuk menghitung jumlah yang akan memengaruhi arus kas kumulatif maupun periode berjalan karena penggunaan LIFO.
d)      Masalah Penilaian Persediaan Lainnya
Likuidasi LIFO. Perusahaan diwajibkan mencatat setiap tingkat biaya sebagai kelompok npersediaan terpisah. Untuk biaya persediaan LIFO, persediaan akhir diloaporkan pada biaya pembelian terdahilu yang dapat lebih rendah atau lebih tinggi secara signifikandari buaya saat ini. Pada periode harga meningkat pengurangan  kuantitas masalah disebut sebagai likuidasi LIFO menghasilkan peningkqatan pada laba kotor seperti penggunaan pada biaya persediaan FIFObegitu juga sebaliknya. Dampak likuidasi LIFO dapat dilihat pada catatan kaki persediaan laporan tahunan. Perusahaan mengindikasikan bahwa pengurangan kuantitas persediaan menyebabkan penjualan barang yang dicatat dengan biaya masa lalu yang berbeda dengan biaya sekarang. Seorang anslisi LIFO harus hati-hati terhadap dampak likuidasi LIFO pada profitabilitas.
Penyajian Kembali (Restatement) Analisis Dari LIFO ke FIFO. Metode LIFO merupakan metide yang diharapkan oleh penganalisis, karena laporan laba rugi tidak membutuhkan penyesuaian besar disebabakan harga pokok penjualan telah mendekati biaya terkini. Namun metode ini menyebabkan persediaan neraca tidak mencerminkan harga saat ini-sering kali dinyatakan lebih rendah. Hal ini dapat mengurangi kegunaan berbagai pengukuran seperti rasio lancar atau rasio perputaran persediaan. Hal ini menyebabakan kemampuan perusahaan dalam memebayar utang terlalau rendah, perputara persediaan terlalau tinggi. Untuk mengatasinya, dapat menggunakan teknik analisis untuk menyesuaikan LIFO agar lebih mendekati situasi performa dengan mengasumsikan FIFO.
2.2  ASET TAK LANCAR (NON-CURRENT ASSETS)
Aset tak lancar (non-current assets) atau aset jangka panjang merupakan sumber daya yang digunakan untuk menghasilkan penghasilan operasi (atau mengurangi biaya operasi) untuk lebih dari satu periode. Aset tak lancar merupakan sumber daya atau klaim atas sumber daya yang diharapkan dapat memberikan manfaat pada perusahaan selama lebih dari satu periode. Bentuk aset tidak lancar yang paling umum adalah aset tetap berwujud seperti bangunan, pabrik, dan peralatan. Aset tidak lancar juga mencakup aset tak berwujud seperti paten, merek dagang, copyright, dan goodwill.
2.2.1        Akuntansi Aset Jangka Panjang
1)      Kapitalisasi
Kapitalisasi (caputalization) merupakan proses penangguhan biaya yang terjadi pada periode berjalan, tetapi manfaatnya diharapkan dapat berlangsung selama beberapa periode di masa depan. Aset tak lancar diciptakan melalui proses kapitalisasi. Kapitalisasi berarti menempatkan aset di neraca, bukannya segera membebankan biayanya di laporan laba rugi. Aturan akuntansi untuk kapitalisasi dibatasi untuk memenuhi tujuan relevan dan andal. Tujuan andal berarti aturan kapitalisasi menjadi konservatif dan, dalam berapa kasus, tidak konsisten. Umumnya, suatu biaya akan dikapitalisasi jika memenuhi kriteria berikut:
       Aset harus berasal dari transaksi atau kejadian masa lalu. Kriteria ini menghasilkan perlakuan yang tidak konsisten antara aset tak berwujud yang dibeli dengan yang diciptakan internal. Misalnya, goodwill yang dibeli dapat dikapitalisasi, tetapi goodwill yang diciptakan sendiri (yang nilainya jauh lebih besar) tidak dapat dikapitalisasi.
       Aset harus menghasilkan kemungkinan manfaat masa depan yang dapat diidentifikasi dan layak. Kriteria ini menghasilkan pembebanan pengeluaran litbang dengan segera, meskipun litbang merupakan salah satu dari aset yang paling berharga bagi perusahaan teknologi tinggi.
       Aset memberikan pemiliknya pengendalian (khusus) atas manfaat masa depan. Kriteria ini (dan lainnya) tidak memungkinkan kapitalisasi teknologi atau modal manusia karena kepemilikan tidak dapat dipaksakan secara hukum.
2)      Alokasi
Alokasi (allocation) merupakan proses pembebanan biaya tangguhan (aset) secara periodik sepanjang satu atau lebih periode manfaat yang diharapkan. Alokasi biaya disebut penyusutan (depreciation) jika terkait dengan aset tetap, amortisasi (amortization) jika digunakan untuk aset tak berwujud, dan deplesi (depletion) jika dikaitkan dengan sumber daya alam. Harus diingat bahwa alokasi biaya merupakan proses untuk mengaitkan biaya aset dengan manfaatnya. Nilai tercatat aset (nilai kapitalisasi dikurangi alokasi biaya kumulatif) tidak perlu mencerminkan nilai wajar. Terdapat tiga faktor yang menentuka nilai alokasi biaya yaitu periode manfaat (masa manfaat), nilai sisa dan metode alokasi.
3)      Penurunan Nilai
Penurunan nilai (impairment) merupakan proses penurunan nilai buku aset saat arus kas yang diharapkan tidak lagi cukup untuk menutupi biaya tersisa yang masih tercatat pada neraca. Jika arus kas yang diharapkan (tidak didiskonto) lebih dibandingkan nilai tercatat aset (biaya dikurangi akumulasi penyusutan), perlu diturunkan nilainya dan dinyatakan sebesar nilai pasar wajar (jumlah diskonto taksiran arus kas). Dampaknya adalah untuk mengurangi nilai tercatat aset pada neraca dan mengurangi profitabilitas sebesar jumlah yang setara. Nilai aset tidak boleh dipulihkan/dinaikkan meskipun taksiran arus kas kemudian membaik. Dari perspektif analisis kita, terdapat dua distorsi terkait dengan penurunan nilai aset:
       Bias konservatif mendistorsi penilaian aset jangka panjang karena nilai aset dapat diturunkan namun tidak dapat dinaikkan.
       Pengakuan penurunan nilai aset memiliki dampak temporer besar mendistorsi laba bersih sementara berpotensi untuk meningkatkan kegunaan nilai aset pada neraca.
2.2.2     Aset Tetap dan Sumber Daya Alam
1)        Menilai Properti, Pabrik, dan Peralatan
Prinsip biaya historis digunakan saat menilai properti, pabrik, dan peralatan. Penilaian biaya historis mengharuskan suatu perusahaan pertama kali mencatat sebesar harga belinya. Alasan digunakannya biaya historis adalah:
      Konservatisme (conservatism), karena tidak mengantisipasi adanya biaya penggantian berikutnya.
      Akuntabilitas (accountability), manajer dalam jumlah uang.
      Objektivitas (objectivity), dalam penentuan biaya.
2)        Menilai Sumber Daya Alam
Sumber daya alam (natural resource), juga disebut aset yang dihabiskan (wasting asset), merupakan hak untuk mengambil atau mengonsumsi sumber daya alam. Contohnya meliputi hak untuk menambang, menebang kayu, mengambil gas alam, dan minyak. Juga sering kali terdapat biaya cukup tinggi untuk menemukan sumber daya yang dikapitalisasi dalam neraca, dan biaya ini langsung dibebankan saat sumber daya tersebut kemudian dipindahkan, dikonsumsi, atau dijual. Perusahaan biasanya mengalokasikan biaya sumber daya alam pada jumlah estimasi unit cadang yang tersedia.
3)        Penyusutan
Prinsip dasar penyusutan laba adalah laba yang mendapatkan manfaat dari penggunaan aset jangka panjang, harus menanggung bagian proporsional dan biaya aset tersebut. Penyusutan merupakan alokasi biaya properti, pabrik, dan peralatan (tanah tidak disusutkan) sepanjang masa manfaatnya. Tingkat penyusutan bergantung pada dua faktor yaitu masa manfaat dan metode alokasi. Keragaman penyusutan secara signifikan disebabkan oleh metode yang dipilih.
·         Garis Lurus. Metode penyusutan garis lurus (straight line) mengalokasikan biaya aset pada masa manfaat berdasarkan beban periodik yang sama. Bangunan dibandingkan untuk mesin dimana penggunanya merupakan faktor yang lebih penting. Penentu penyusutan lain, keusangan, tidak selalu terjadi seragam sepanjang waktu. Namun karena tidak adanya informasi mengenai tingkat penyusutan yang mungkin, metode garis lurus memiliki keunggulan karena sederhana. Karakteristik ini, memungkinkan yang menjadikan metode ini popular, dibandingkan karakteristik lainnya.
·         Dipercepat. Metode penyusutan yang dipercepat (acceleranted) mengalokasikan biaya aset sepanjang masa manfaat dengan pola yang semakin menurun. Penggunaan metode ini didukung oleh penerimaan dan interval Revenue Code. Daya penarik metode ini untuk tujuan pajak adalah percepatan alokasi biaya dan berikut penangguhan laba kena pajak. Semakin cepat aset dihapuskan untuk tujuan pajak semakin besar penangguhan  pajak untuk masa depan, dan semakin banyak dana yang tersedia lagsung untuk operasi. Konsep yang mendukung metode dipercepat adalah padangan bahw beban penyusutan yang semakin kecil sepanjang waktu merupakan kompensasi atas (1) peningkatan biaya perbaikan dan perawatan, (2) penurunan pendapatan dan efisiensi operasi, serta (3) peningkatan ketidakpastian pendapatan atas aset berumur di masa depan (karena keusangannya). Dua metode penyustutan dipercepat yang paling umum adalah saldo menurun dan jumlah angka tahun.
·         Khusus. Metode penyusutan yang ditentukan pada industri tertentu seperti baja dan mesin berat. Persamaan metode ini adalah dikaitkannya beban penyusutan pada aktivitas atau intensitas penggunaan aset. Jika metode  aktivitas atau yang biasa juga disebut sebagai metode unit produksi dietapkan, perlu menelaah estimasi masa manfaat secara periodik
4)        Deplesi
Deplesi merupakan alokasi biaya sumber daya alam  berdasarkan tingkat pemungutan. Deplesiasi tergantung pada produksi, menghasilkan lebih banyak produksi  berarti mengeluarkan biaya deplesi yang lebih pula.
5)        Penurunan Nilai
Bangunan dan sumber daya alam biasanya disusutkan selama masa manfaat berdasarkan prinsip alokasi dengan tujuan penentuan laba. Nilai yang terbawa dari aset yang disusutkan tidak dirancang untyuk merefleksikan nilai sekarang dari aset.  Meskipun dengan konservatif, akuntansi seringkali melakukan refleksi nilai, dengan menurunkan nilai pada neraca (write down) untuk merefleksikan nilai saat ini. Saat ini akuntansi tidak memperbolehkan menuliskan nilai aset untuk merefleksikan nilai pasar.
6)        Menganalisis Aset Tetap dan Sumber Daya Alam
Penilaian nilai aset tetap menjadi sebesar nilai pasar tidak diperbolehkan dalam akuntansi. Namun, konservatisme mengizinkan adanya penghapusan nilai karena penurunan nilai yang permanen. Penurunana nilai menghilangkan beban yang terkait dengan aktivitas operasi  pada periode masa depan.
Aturan akuntansi untuk menurunkan nilai aset jangka panjang mewajibkan perusahaan untuk secara berkala menelaah kejadian atau perubahan kondisi yang merupakan penurunan nilai. Penurunan aset setelahnya dapat mendistorsi hasil yang dilaporkan. Jika taksiran arus kas tidak lebih kecil dari nilai yang tercatat asset, maka  nilai aset diturunkan. Kerugian penurunan nilai dihitung sebagai selisish nilai tercatat aset dengn nilai wajarnya.
a.         Menganalisis Penyusutan Dan Deplesi
Sebagaian besar perusahaan menggunakan aset produktf jangka panjang pada aktivitas operasi mereka, dan penyusutan merupakan beban utama. Salah satu faktor yang harus diperhatikan dalam hal ini adalah adanya revisi masa manfaat aset.
Biasanya tidak ada pengungkapan mengenai hubungan antar tingkat penyusutan dan ukuran kelompok aset, maupun antara tingkat tersebut dan metode akuntansi. Tantangan lain bagi analisis ini berasal dari perbedaan metode alokasi yang digunakan untuk pelaporan keuangan dan tujuan pajak. Tiga kemungkinan yang umum adalah:
1)      Penggunaan garis lurus baik dalam pelaporan keuangan maupun tujuan pajak
2)      Penggunaan garis lurus untuk lapiran keuangan dan metode dipercepat untuk pajak. Dampak pajak menguntungkan berasal dari penangguhan pembayaran pajak yang menghasilkan penggunaan dana gratis.          
3)      Penggunaan metode dipercepat baik untuk pelaporan keuangan maupun tujuan pajak. Hal ini mengakibatkan penyusustan yang lebih tinggi pada tahun-tahun awal, yang dapat diperpanjang selama beberapa tahun bagi perusahaan yang sedang ekspansi.
Menganalisa penyusutan memebutuhkan evaluasi kelayakan. Evaluasi ini dapat menggunakan pengukuran seperti rasio penyusutan terhadap aset total atau penyusustan terhadap faktir yang terkait dengan ukuran lainnya. Terdapat beberapa pengukuran yang terkait dengan umur Aset tetap yang berguna untuk membandingkan kebijakan penyusustan antar periode dan antar perusahaan diantaranya Rata-rata jangkauan total, umur rata-rata dan umur sisa rata-rata.
Pengukuran tersebut memberikan estimasi yang layak untuk perusahaan yang menggunakan oenyusustan garis lurus tetapi tidak terlalau bermanfaat bagi perusahaan yang menggunakan metode dipercepat. Pengukuran lain yang sering digunakan dalam analisis ini adalah:
Rata-rata jangkauan waktu total = umur rata-rata + umur sisa rata-rata
Tiap pengukuran dapat memebantu menilai kebijakan dan keputusan penyusustan sepanjang waktu. Umur rata-rata bagunan dan perlengkapan berguna untuk mengevaluasi beberapa faktor seperti margin laba dan persyaratan pendanaan masa depan.
b.        Analisis Penurunan Nilai
Tiga masalah analis yang timbul dari penurunan nilai adalah evaluasi kelayakan jumlah penurunan nilai, evaluasi kelayakan waktu penurunan nilai, dan analisis efek penurunan nilai terhadap laba.
Evaluasi waktu penurunan aset juga cukup penting dan merupakan tugas analis tersulit. Pertama perlu melakukan identifikasi aset yang diklasifikasikan akan turun, kemudian mengukur presentase aset yang dihapus dan evaluasi apakah nilai penghapusan layak atau tidak untuk kelas aset yang bersangkutan. Jika penghapusan terjadi, akibat kelemahan industri secara keseluruhan  maka akan sangat bermanfaat apabila membandingkan presentase penghapusan yang dilakukan suatu perusahaan dengan perusahaan lain di dalam industri yang sama.
2.2.3     Aset Tak berwujud
Aset tak berwujud (intangible asset) merupakan hak, keistimewaan, dan manfaat kepemilikan atau pengendalian. Dua karakteristik umum aset tak berwujud adalah tingginya ketidakpastian masa manfaat dan tidak adanya wujud. fisik. Aset tidak berwujud sering kali tidak dapat dipisahkan dari suatu perusahaan atau segmennya, masa manfaat yang tidak terhingga, dan mengalami perubahan penilaian yang besar karena kondisi yang kompetitif.
Terdapat perbedaan penting antar akuntansi aset berwujid dan tak berwujud. Jika perusahaan menggunakan bahan baku dan tenaga kerja untuk menciptakan Aset berwujud, perusahaan akan mengkapitalisasi biaya dan menyusutkannya sepanjang masa manfaat. Sebaliknya jika perusahaan menghabiskan uang untuk mengiklankan suatu produk atau melatih agen penjualan perusahaan tidak dapat menkapitalisasi biaya ini meskipun terdapat manfaat masa depan.
1)         Aset Tak Berwujud Yang Dapat Diidentifikasi
Aset tak berwujud yang dapat diidentifikasi merupakan aset yang dapat diidentifikasi terpisah dan dikaitkan dengan hak tertentu atau keistimewaan selama periode manfaat terbatas. Contohnya hak paten, merek dagang, hak cipta, dan franchise.
2)        Aset Tak Berwujud Yang Tidak Dapat Diidentifikasi
Aset tak berwujud yang dapat diidentifikasi merupakan aset yang dapat dikembangkan secara internal atau dibeli namun tidak dapat diidentifikasi dan sering kali memiliki masa manfaat yang tak terhingga. Contohnya iklan dan goodwill, perusahaan harus membebankan biaya pengembangan, pemeliharaan dan pemulihan aset tak berwujud saat terjadnya, kecuali goodwill.
3)        Menganalisa Aset Tak Berwujud
Saat kapitalisasi biaya aset tak berwujud yang dapat atau tidak dapat diidentifikasi, biaya tersebut selanjutnya harus diamortisasi sepanjang periode masa manfaat aset. Jangka masa manfaat tergantung pada dari jenis, kondisi permintaan, situasi kompetitif, hokum, kontrak, aturan atau batasan ekonomis lainnya. Misalnya, hak paten merupakan hak eksekutif yang diberikan pemerintah kepada investor selama periode tertentu.
Dalam menganalisis aset tak berwujud, kita harus siap untuk membuat estimasi sendiri mengenai penilaian aset. Juga harus diingat bahwa goodwill tidak membutuhkan amortisasi dan auditor mengalami masa sulit dengan aset tak berwujud, terutama goodwill. Mereka menganggap sulit untuk menilai aset tak berwujud yang belum diamortisasi. Analisis juga harus waspada terhadap komposisi, penilaian, dan disposisi goodwill. Goodwill dihapus jika kelebihan laba yang mendasari eksistensinya tidak ada lagi. Disposisi, atau penghapusan goodwill sering kali dilakukan manajemen pada periode hal tersebut memiliki dampak pasar terendah.
4)        Aset Tak Berwujud Tak Tercatat Dan Kontijensi
Salah satu aset penting dalam kategori ini adalah goodwill yang diciptakan secara internal. Pengeluaran untuk menciptakan goodwill sering kali diebankan saat terjadinya. Jika goodwill diciptakan dan dapat dijual dan menghasilkan laba yang lebih besar, laba saat ini terlalu rendah karena pembebanan penegmbangan.
Salah satu aset tak tercatat  yang terkait dengan pembebanan yang terkait dengan elemen jasa atau ide. Sebagai contoh adalah program televisi yang dicatat sebesar biaya tersembunyi untuk menghasilkan penghasilan lisensi yang bernilai jutaan.
2.3  AKTIVITAS ANTARPERUSAHAAN DAN AKTIVITAS INTERNASIONAL
Aktivitas antarperusahaan meningkat perannya dalam aktivitas bisnis. Perusahaan membeli investasi antarperusahaan untuk beberapa alas an seperti diversifikasi, ekspansi, serta kesempatan kompetitif dan pengembalian.
2.3.1        Sekuritas Investasi
Perusahaan menginvestasikan aset dalam sekuritas investasi (disebut juga dengan marketable securities). Sekuritas investasi sangat bervariasi dalam hal jenis surat berharga yang diinvestasikan dan tujuan dari investasi. Beberapa investasi merupakan penyimpanan sementara kelebihan kas dalam bentuk sekuritas yang diperdagangkan (marketable securities). Investasi ini juga dapat mencakup dana yang akan digunakan untuk investasi pada pabrik, peralatan, dan aset operasi lain, atau dapat digunakan sebagai dana pembayaran kewajiban. Tujuan penyimpanan sementara ini adalah untuk menggunakan kas yang mengganggur secara produktif. Investasi lain, misalnya partisipasi ekuitas pada afiliasi luar negeri, sering kali merupakan bagian utama dari aktivitas inti perusahaan.
Sekuritas investasi dapat berupa utang atau ekuitas. Sekuritas utang (debt securities) adalah sekuritas yang mewakili hubungan sebagai kreditor terhadap pihak lain. Misalnya obligasi perusahaan lain, obligasi pemerintah, surat utang, dan sekuritas pemerintah kota. Sekuritas ekuitas (equity securities) merupakan sekuritas yang mewakili kepemilikan pada entitas lain. Contohnya adalah saham biasa dan saham preferen yang tidak dapat ditarik kembali. Perusahaan dapat menggolongkan sekuritas investasi menjadi aset lancar atau tidak lancar, tergantung dari jangka waktu investasi untuk sekuritas tersebut.
Pada sebagian besar perusahaan, sekuritas investasi hanya merupakan bagian yang relatif kecil pada total aset dan dengan mengecualikan investasi ekuitas pada anak perusahaan atau afiliasi, investasi ini lebih merupakan aset keuangan dbandingkan dengan aset operasi. Artinya investasi biasanya bukan merupakan bagian yang yang terintegrasi dengan aktivitas operasi perusahaan. Namun, bagi institusi keuangan dan perusahaan asuransi, sekuritas investasi merupakan aset operasi utama.
1)      Akuntansi Untuk Sekuritas Investasi
Akuntansi untuk sekuritas investasi diatur oleh SFAS 115. Standar ini berbeda dengan prinsip lower-of-cost-or-market dengan menyatakan bahwa investasi dapat dilaporkan pada neraca berdasarkan biaya perolehan atau nilai wajar (nilai pasar), tergantung dari jenis sekuritas dan tingkat pengaruh (kendali) yang dimiliki perusahaan terhadap perusahaan yang diinvestasikan (investee company). Hal ini berarti bahwa tidak seperti aset lainnya, sekuritas investasi dapat dinilai dengan nilai pasar meskipun nilai pasar ini melebihi biaya perolehan.
Nilai wajar (fair value) aset merupakan harga tukar aset dalam suatu transaksi normal saat ini antara pihak yang bersedia. Jika suatu aset bisa diperdagangkan, nilai wajarnya dapat langsung ditetapkan dari publikasi harga pasarnya. Jika tidak ada publikasi harga pasar untuk suatu aset, nilai wajar ditentukan berdasarkan biaya historis.
Sekuritas dalam kelompok besar terbagi atas sekuritas utang dan sekuritas ekuitas. Sekuritas utang selanjutnya diklasifikasikan berdasarkan tujuan investasinya. Sebaliknya, sekuritas ekuitas diklasifikasikan berdasarkan jumlah kepemilikan, yaitu jumlah kepemilikan investor dan selanjutnya pengaruh atau kendali pada perusahaan yang diinvestasi (investee). Sekuritas ekuitas yang tidak mencerminkan kepemilikan pada perusahaan yang diinvestasi yang cukup signifikan kemudian dibedakan berdasarkan tujuan investasi. Oleh karena akuntansi investasi pada sekuritas utang dan sekuritas ekuitas berbeda, masing-masing akan dijelaskan secara terpisah.
a)         Sekuritas Utang
Sekuritas utang mencerminkan hubungan kreditor dengan entitas lain. Misalnya obligasi pemerintah dan swasta, obligasi perusahaan dan wesel bayar, dan utang yang dapat dikonversi. Sekuritas utang dikelompokkan dalam kelompok diperdagangkan, dimiliki hingga jatuh tempo, atau tersedia untuk dijual. Panduan akuntansi sekuritas utang berbeda, tergantung dari jenis sekuritas. Tampilan 1.1 mendeskripsikan kriteria klasifikasi dan akuntansi untuk tiap kelompok sekuritas utang.
clip_image008
·         Sekuritas yang Dimiliki hingga Jatuh Tempo
Sekuritas yang dimiliki hingga jatuh tempo (held-to-maturity securities) - HTM Securities, merupakan sekuritas utang yang ingin dan mampu dimiliki manajemen hingga jatuh tempo. Sekuritas ini dapat jatuh tempo dalam jangka waktu pendek (di mana mereka diklasifikasikan sebagai aset lancar) atau jangka panjang (di mana mereka diklasifikasikan sebagai aset tidak lancar). Perusahaan melaporkan sekuritas dimiliki hingga jatuh tempo jangka pendek (jangka panjang) di neraca pada biaya perolehan (biaya perolehan setelah amortasi). Tidak ada keuntungan atau kerugian belum direalisasi dari sekuritas ini yang diakui sebagai pendapatan. Pendapatan bunga serta keuntungan dan kerugian yang telah direalisasi, termasuk amortasi premium atau diskon untuk sekuritas jangka panjang, diakui sebagai pendapatan. Klasifikasi sekuritas yang dimiliki hingga jatuh tempo ini digunakan hanya untuk sekuritas utang.

·           Sekuritas yang Diperdagangkan

Sekuritas yang diperdagangkan (trading securities) merupakan utang (atau ekuitas yang tidak memiliki pengaruh) yang dibeli dengan tujuan akan dikelola secra aktif dan dijual untuk mendapat keuntungan pada jangka waktu dekat. Sekuritas yang diperdagangkan adalah aset lancar. Perusahaan melaporkan sekuritas ini pada nilai pasar total pada tiap tanggal neraca. Keuntungan atau kerugian yang belum direalisasi (perubahan nilai wajar sekuritas yang dimiliki) dan keuntungan atau kerugian yang telah direalisasi (keuntungan atau kerugian pada saat penjualan) termasuk pada penghitungan laba bersih. Pendapatan bunga dari sekuritas diperdagangkan dalam bentuk utang ini dicatat saat terjadinya. (Pendapatan dividen dari sekuritas ekuitas diperdagangkan diakui saat terjadinya.) Klasifikasi perdagangan digunakan untuk sekuritas utang maupun ekuitas.

·            Sekuritas Tersedia untuk Dijual

Sekuritas yang tersedia untuk dijual (available-for-sell securities) merupakan sekuritas utang (atau ekuitas yang tidak memiliki pengaruh) yang tidak tergolong sekuritas diperdagangkan atau dimiliki hingga jatuh tempo. Sekuritas ini dapat dikelompokkan sebagai aset lancar atau tidak lancar, tergantung dari jangka waktu atau kapan manajemen berniat menjual sekuritas tersebut. Sekuritas ini dilaporkan berdasarkan nilai wajar pada neraca. Namun, perubahan pada nilai wajar tidak dimasukkan sebagai komponen laba melainkan dimasukkan sebagai komponen pendapatan komprehensif. Pada sekuritas tersedia untuk dijual, pendapatan bunga, termasuk amortasi premium atau diskon sekuritas jangka panjang, dicatat saat terjadinya, (Pada sekuritas ekuitas tersedia untuk dijual, dividen dicatat sebagai penghasilan saat terjadinya). Keuntungan dan kerugian yang telah direalisasi dicatat sebagai bagian laba bersih. Klasifikasi sekuritas-tersedia-untuk-dijual digunakan untuk sekuritas utang maupun ekuitas.

·            Perubahan Kelompok Investasi

Saat niat atau kemampuan manajemen untuk meneruskan tujuan memiliki sekuritas investasi berubah secara signifikan, sekuritas tersebut harus direklasifikasi (dipindahkan pada kelompok lain). Umumnya, sekuritas utang yang dikelompokkan sebagai “dimiliki hingga jatuh tempo” tidak dapat dipindahkan menjadi kelompok lain kecuali pada keadaan luar biasa seperti merger, akuisisi, divestasi, penurunan tajam peringkat kredit, atau kejadian luar biasa lainnya. Pemindahan dari kelompok “tersedia untuk dijual” menjadi “diperdagangkan” biasanya juga tidak diperbolehkan. Namun, ketika pemindahan antar kelompok ini terjadi, sekuritas harus disesuaikan pada nilai wajarnya. Nilai wajar ini memastikan bahwa perusahaan yang mengubah kelompok sekuritas secara langsung mengakui nilai wajar (pada laporan laba ruginya). Hal ini juga mengurangi kesempatan perusahaan untuk menyembunyikan perubahan nilai wajar dengan mengubah sekuritas menjadi kelompok lain yang tidak mengakui perubahan nilai wajar sebagai bagian laba bersih. Tampilan 1.2 memberikan ringkasan akuntansi perubahan kelompok investasi.
clip_image010
b)         Sekuritas Ekuitas
Sekuritas ekuitas (equtiy securities) mencerminkan bagian kepemilikan pada entitas lain. Contohnya meliputi saham biasa dan saham preferen serta hak untuk  memperoleh atau menjual bagian kepemilikan, seperti waran, stock right, serta opsi beli (call option) dan opsi jual (put option). Saham preferen yang dapat ditarik kembali serta sekuritas utang yang dapat dikonversi tidak dapat dimasukkan sebagai sekuritas ekuitas (sekuritas tersebut diklasifikasi sebagai sekuritas utang). Dua motivasi utama perusahaan membeli sekuritas ekuitas adalah: (1) untuk memaksakan pengaruh pada direksi dan manajemen entitas lain (seperti pemasok, pelanggan, anak perusahaan) atau (2) untuk mendapatkan dividen dan penghasilan dari kenaikan harga saham. Perusahaan melaporkan investasi dalam sekuritas ekuitas berdasarkan kemampuan mereka untuk memengaruhi atau mengendalikan aktivitas perusahaan yang diinvestasi. Bukti kemampuan ini dicerminkan oleh presentase sekuritas dengan hak suara yang dimiliki oleh perusahaan investor. Presentase ini merupakan panduan dan dapat digantikan oleh faktor lain. Contohnya, pengaruh yang signifikan dapat dirundingkan melalui komunikasi walaupun tanpa presentase kepemilikan yang signifikan. Tampilan 1.3 memberikan ringkasan klasifikasi dan akuntansi sekuritas ekuitas.
clip_image012

·         Tidak Memiliki Pengaruh - Kepemilikan Kurang dari 20%

Sekuritas ekuitas berbentuk saham preferen tanpa hak suara atau kurang dari 20% dari seluruh saham hak suara perusahaan yang diinvestasi, sekuritas ini dianggap tidak berpengaruh. Pada kasus ini, investor diasumsikan memiliki pengaruh minimal pada aktivitas perusahaan yang diinvestasi. Investasi ini dapat dikelompokkan sebagai sekuritas diperdagangkan atau tersedia untuk dijual berdasarkan niat dan kemampuan manajemen. Akuntansi untuk sekuritas ini telah dijelaskan pada penjelasan sekuritas sekuritas utang dalam kelompok yang sama.

·         Pengaruh Signifikan - Kepemilikan antara 20%-50%

Kepemilikan saham, meskipun kurang dari 50% saham dengan hak suara, dapat memberikan investor kemampuan untuk memengaruhi secara signifikan aktivitas usaha perusahaan yang diinvestasi. Pembuktian atas kemampuan investor untuk memaksakan pengaruh signifikan terhadap aktivitas usaha perusahaan yang diinvestasi diperlihatkan dalam berbagai cara seperti, perwakilan dan partisipasi manajemen atau perundingan yang berpengaruh sebagai hasil dari hubungan berdasarkan berdasarkan perjanjian. Jika tidak terdapat bukti yang berlawanan, investasi (langsung atau tidak langsung) sebesar 20% atau lebih (tetap kurang dari 50%) atas saham dengan hak suara perusahaan yang diinvestasi diasumsikan memiliki pengaruh signifikan. Investor memperlakukan investasi ini dengan metode ekuitas.
Metode ekuitas (equity method) mengharuskan investor untuk mencatat investasi awal sebesar biaya perolehan dan kemudian menyesuaikan akun investasi dengan bagian proporsi investor pada laba (atau rugi) perusahaan yang diinvestasi sejak akuisisi dan mengurangi akun investasi sebesar jumlah dividen yang diterima dari dari perusahaan yang diinvestasi.

·               Pihak yang Mengendalikan - Kepemilikan Lebih dari 50%

Kepemilikan lebih dari 50% disebut sebagai pihak yang mengendalikan (controlling investment) - di mana investor disebut sebagai induk perusahaan (holding company) dan perusahaan yang diinvestasi sebagai anak perusahaan (subsidiary). Untuk kepemilikan lebih dari 50%, perusahaan harus menyiapkan laporan keuangan konsolidasi.
2)      Analisis Sekuritas Investasi
Analisis sekuritas investasi memiliki paling tidak dua tujuan utama: (1) untuk memisahkan kinerja operasi dengan kinerja investasi (dan pendanaan); (2) untuk menganalisis distorsi akuntansi yang disebabkan aturan akuntansi dan/atau manajemen laba yang terkait dengan sekuritas investasi.
2.3.2        Akuntansi Metode Ekuitas
Akuntansi metode ekuitas pada umumnya digunakan untuk investasi “saham dengan hak suara” (voting stock) sebesar 20% sampai 50% dari sekuritas ekuitas perusahaan. Metode ekuitas mengharuskan investor untuk mencatat investasi awal sebesar biaya perolehan dan kemudian menyesuaikan akun investasi dengan bagian proporsi investor pada laba (atau rugi) perusahaan yang diinvestasi sejak akuisisi dan mengurangi akun investasi sebesar jumlah deviden yang diterima dari perusahaan yang diinvestasi.
Asumsikan bahwa Global Corp. membeli secara tunai 25% kepemilikan Synergy,Inc. sebesar $500.000 yang mencerminkan seperempat ekuitas pemegang saham Synergy pada tanggal akuisisi. Investasi awal dicatat dalam buku Global sebagai berikut:
Investasi                                        500.000
      Kas                                                                  500.000
Global melaporkan akun investasi sebagai asset tidak lancar dalam neraca. Investasi sebesar $500.000 ini mencerminkan kepemilikan sebesar 25%. Setelah tanggal akuisisi, Synergy melaporkan laba bersih sebesar $100.000 dan membayar deviden sebesar $20.000. Global mencatat proporsi kepemilikannya atas laba Synergy dan mencatat penerimaan deviden sebagai berikut:
Investasi                                        25.000
      Ekuitas dalam laba perusahaan investasi        25.000
(untuk memcatat proporsi kepemilikan atas laba)
Kas                                                5.000
      Investasi                                                          5.000
(untuk mencatat penerimaan deviden)
2.3.3        Penggabungan Usaha
Penggabungan usaha mengacu pada merger atau akuisisi suatu bisnis. Beberapa alasan ekonomis penggabungan usaha adalah (1) untuk memperoleh sumber bahan baku, fasilitas produksi, teknologi, jaringan pemasaran, atau pangsa pasar yang tidak ternilai; (2) untuk menjamin sumber keuangan atau akses terhadap sumber keuangan; (3) memperkuat manajemen; (4) meningkatkan efisiensi operasi; (5) mendorong diversifikasi; (6) mempercepat masuk ke pasar; (7) mencapai skala ekonomis; (8) memperoleh manfaat pajak.
1)      Laporan Keuangan Konsolidasi
Laporan keuangan konsolidasi melaporkan hasil operasi dan konsolidasi keuangan perusahaan induk dan anak perusahaannya dalam satu perangkat laporan.
2)      Mekanisme Konsolidasi
Konsolidasi meliputi dua langkah yaitu agregasi dan eliminasi. Pertama, laporan keuangan yang telah dikonsolidasi menggabungkan asset, kewajiban, pendapatan, dan beban anak perusahaan dengan pos yang berhubungan dengan laporan keuangan perusahaan induk. Langkah kedua adalah mengeliminasi transaksi antarperusahaan untuk menghindari perhitungan ganda atau laba yang diakui prematur.
Pada tanggal 31 Desember Tahun 1, Synergy Corp. membeli 100% saham Micron Company dengan menukarkan 10.000 lembar saham biasanya (nilai nominal $5, harga pasar $77) dengan semua saham biasa Micron. Micron selanjutnya tetap berdiri sebagai anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki oleh Synergy. Pada tanggal akuisisi, nilai buku Micron adalah $620.000. Synergy bersedia membayar pada harga pasar sebesar $770.000 karena Synergy merasa bahwa asset tetap Micron disajikan lebih rendah dari seharusnya sebesar $20.000, Micron memiliki merek dagang yang tidak tercatat senilai $30.000, dan manfaat tidak berwujud dari penggabungan usaha (sinergi, posisi pasar, dan sejenisnya) senilai $100.000. Harga beli tersebut dialokasikan sebagau berikut:
Harga Beli                    $770.000
Nilai Buku Micron        $620.000
Selisih                           $150.000


Selisih Dialokasikan ke



Masa Manfaat

Penyusutan/ Amortisasi Tahunan

Aset Tetap yang Undervalued
Merek Dagang
Goodwill


$ 20.000
$ 30.000
$100.000
$150.000


10 Tahun
5 TAhun
Tak Terbatas


$2.000
$6.000
         0
$8.000
Goodwill yang hanya bisa dicatat bila nilai pasar wajar seluruh asset berwujud (asset tetap) dan asset tidak berwujud yang teridentifikasi (merek dagang) yang diakuisisi diakui. Synergy akan mencatat akuisisi tersebut sebagai berikut:
Investasi pada Micron                    $770.000
        Saham Biasa                                                    $ 50.000
        Tambahan Modal Disetor                               $720.000
Selama Tahun 2, Micron menghasilkan $150.000 dan tidak membayar deviden. Investasi, yang dicatat dengan metode ekuitas, pada buku Synergi per 31 Desember, Tahun 2 bersaldo sebagai berikut:
        Saldo Awal (31 Desember Tahun 1)               $770.000
        Pendapatan Investasi                                      $150.000
        Deviden                                                                    (0)
        Amortisasi Selisih (di atas)                             ($ 8.000)
        Saldo Akhir (31 Desember Tahun 2)              $912.000
Menurut GAAP yang berlaku saat ini, goodwill tidak diamortisasi dan laba investasi bersih yang diakui oleh Synergy sebesar $142.000, termasuk proporsi kepemilikannya atas laba Micron dikurangi beban $8.000 terkait dengan penyusutan kelebihan asset tetap ($2.000) dan amortisasi merek dagang ($6.000). Neraca saldo Synergy dan Micron pada akhir Tahun 2 disajikan bersama-sama dibawah ini berikut kertas kerja konsolidasi dan total konsolidasinya.
clip_image014
clip_image016
3)      Penurunan Nilai Goodwill
Goodwill yang dicatat dalam proses konsolidasi memiliki unsur yang tak terbatas, dan karenanya tidak diamortisasi. Namun, goodwill ditelaah setiap tahun untuk penurunan nilai dengan dua langkah. Langkah pertama, nilai pasar wajar Micron dibandingkan dengan nilai bukunya dalam akun investasi di buku Synergi ($912.000 per 31 Desember, Tahun 2). Nilai pasar wajar Micron dapat ditentukan dengan menggunakan beberapa metode alternative, seperti harga pasar perusahaan yang sebanding, atau model penilaian arus kas bebas yang didiskontokan. Jika nilai pasar sekarang kurang dari saldo investasi, goodwill dianggap turun nilainya dan kerugian penurunan nilai harus dicatat dalam laporan laba rugi konsolidasi.
Asumsikan bahwa nilai pasar wajar Micron diperkirakan sebesar $700.000 per 31 Desember, Tahun 2 dan nilai pasar wajar asset berwujud dan asset tak berwujud yang dapat diidentifikasi sebesar $660.000. data ini menghasilkan kerugian penurunan nilai sebesar $60.000 sebagai berikut:
Nilai Pasar Wajar Micron                                             $700.000
Aset Lancar                                          $520.000
Aset Tetap                                            $570.000
Merek Dagang                                      $ 20.000
Kewajiban                                            ($450.000)
Aset Bersih                                                                   $660.000
Goodwill                                                                      $ 40.000
Saldo kini Goodwill                                                     ($100.000)
Kerugian Penurunan Nilai                                            $ 60.000
Ayat jurnal dalam buku Synergy adalah sebagai berikut:
Kerugian Penurunan Nilai Goodwill          $60.000
        Investasi pada Micron                                                 $60.000
4)      Masalah-masalah dalam Penggabungan Usaha
a)      Pertimbangan Kontijen
b)      Alokasi Total Biaya
c)      Penelitian dan Pengembangan dalam Proses
d)     Utang dalam Laporan Keuangan Konsolidasi
e)      Keuntungan dari Penawaran Perdana Saham Anak Perusahaan
f)       Penjualan dan Pendapatan sebelum Akuisisi
g)      Push-Down Accounting
h)      Keterbatasan Tambahan dalam Laporan Keuangan Kondolidasi
i)        Konsekuensi Akuntansi Goodwill
5)      Akuntansi Penyatuan untuk Penggabungan Usaha
Melanjutkan contoh sebelumnya, dalam akuntansi penyatuan investasi awal dicatat sebagai berikut:
Investasi pada Micron                          $620.000
              Saham Biasa                                                    $ 50.000
              Tambahan Modal Disetor                               $ 80.000
Saldo Laba                                                      $490.000
Akun investasi lebih kecil sebesar $150.000 dibandingkan dengan contoh kita sebelumnya karena asset perusahaan yang diakuisisi dicatat pada nilai buku, bukan pada nilai pasar. Sinergy juga mencatat saldo awal saldo laba dan modal disetor (saham biasa dan tambahan modal disetor) sama dengan yang dicata Micron pada awal tahun.
Selama tahun bersangkutan, Micron menghasilkan $150.000. Investasi dicatat dengan metode ekuitas dan saldonya pada buku Synergi per 31 Desember Tahun 2 sebagai berikut:
Saldo Awal (31 Desember Tahun 1)               $620.000
Pendapatan Investasi                                      $150.000
Deviden                                                                       0
Saldo Akhir (31 Desember Tahun 2)              $912.000
Neraca konsolidasi dengan menggunakan akuntansi penyatuan adalah sebagai berikut:
clip_image018
clip_image020
2.3.4        Sekuritas Derivatif
Perusahaan menghadapi ancaman berbagai jenis risiko pasar. Risisko ini timbul karena profitabilitas operasi usaha sangat sensitive terhadap fluktuasi pada berbagai area seperti harga komoditas, tingkat pertukaran mata uang asing, dan tingkat bunga. Untuk mengurangi risiko pasar perusahaan menggunakan transaksi lindung nilai. Lindung nilai merupakan kontrak yang bertujuan untuk melindungi perusahaan dari risiko pasar. Derivatif merupakan instrument keuangan yang nilainya berasal dari nilai asset lain, kelompok asset, atau variabel ekonomis seperti harga saham, obligasi, harga komoditas, tingkat bunga, atau kurs pertukaran valuta. Berbagai macam instrument keuangan digunakan untuk kegiatan lindung nilai termasuk berikut ini:
1)      Kontrak masa depan merupakan perjanjian antara dua atau lebih pihak untuk membeli atau menjual komoditas tertentu atau asset keuangan pada tanggal tertentu dimasa depan pada harga tertentu.
2)      Kontrak swap merupakan perjanjian antara dua pihak atau lebih untuk menukar arus kas masa depan. Kontrak ini umumnya digunakan sebagai perlindungan atas risiko seperti tingkat bunga dan risiko kurs valuta asing.
3)      Kontrak opsi memberikan hak pada suatu pihak-bukan kewajiban-untuk melakukan suatu transaksi.
2.3.5        Pilihan Nilai Wajar
Selama lebih dari 400 tahun, akuntansi keuangan sangat bergantung pada model biaya historis. Dengan model biaya historis ini, aset dan kewajiban dinilai berdasarkan harga yang diperoleh pada saat transaksi aktual di masa lalu. Contohnya, nilai tanah yang dilaporkan dalam neraca didasarkan atas harga ketika tanah tersebut pada awalnya dibeli; nilai persediaan barang jadi yang dilaporkan hanya ditentukan oleh biaya produksi berdasarkan harga input yang dibayarkan. Laba terutama ditentukan dengan mengakui pendapatan yang diperoleh dan direalisasi selama periode dan mengaitkan biaya dengan pendapatan yang diakui. Beberapa deviasi dari harga perolehan dapat dilakukan apabila dengan dasar konservatif. Contohnya, persediaan dapat dinilai dengan aturan harga perolehan atau harga pasar, dari harga mana yang lebih rendah (lower-of-cost-or-market-value LORCOM).
Alternatif model biaya historis ini adalah akuntansi penilaian wajar (fair value accounting). Dengan model akuntansi penilaian wajar, nilai aset dan kewajiban ditentukan oleh nilai wajar (biasanya harga pasar) pada saat tanggal pengukuran (kira-kira tanggal laporan keuangan). Sebagai contoh dengan model ini, nilai tananh yang dilaporkan dalam neraca akan mempresentasikan harga pasar pada tanggal neraca; dan nilai persediaan barang jadi yang dilaporkan akan merefleksikan perkiraan harga pasar pada saat tanggal neraca dikurangi oleh biaya langsung penjualan. Laba dengan model ini cukup merefleksikan perubahan bersih dalam nilai wajar aset dan kewajiban selama periode.
Akuntansi secara perlahan, tetapi pasti akan bergerak menuju model akuntansi penilaian wajar. Meskipun model akuntansi penilaian wajar ini hanya diaplikasikan secara terbatas sejak 20 tahun terakhir, terdapat kemajuan yang signifikan menuju adopsi yang lebih luas. SFAS 157 menyediakan pedoman dasar dalam mengadopsi model akuntansi penilaian wajar dan SFAS 159 merekomendasikan adopsi sukarela bagi kelas aset dan kewajiban yang lebih luas. Meskipun penggunaan akuntansi penilaian wajar masih terbatas pada aset dan kewjiban keuangan - seperti surat berharga atau instrumen utang - terdapat indikasi bahwa adopsi yang komprehensif dari akuntansi penilaian wajar untuk semua aset dan kewajiban - termasuk aset dan kewajiban operasi - mungkin dilakukan di masa depan.
Standar terbaru (SFAS 159) mengharuskan perusahaan untuk melaporkan secara selektif sekuritas-yang-dimiliki-hingga-jatuh-tempo dan sekuritas-tersedia-untuk-dijual pada nilai wajar. Jika sebuah perusahaan memilihi pilihan lain, akuntansi untuk sekuritas-tersedia-untuk-dijual dan sekuritas-yang-dimiliki-hingga-jatuh-tempo akan sama dengan dicatat dalam sekuritas yang diperdagangkan dibawah peraturan SFAS 115. Terutama, untuk semua saham investasi (diperdagangkan, tersedia-untuk-dijual, dimiliki-hingga-jatuh-tempo), (1) nilai tercatat pada neraca merupakan nilai wajar, dan (2) semua keuntungan dan kerugian yang tidak diakui akan dimasukkan dalam laba bersih. Pilihan nilai wajar dapat diaplikasikan secara selektif dan sukarela pada kelompok sekuritas manapun yang dipilih perusahaan, tapi sekali nilai wajar telah dipilih untuk suatu kelompok tertentu, perusahaan tidak dapat mengubah pilihan tersebut.
Pilihan nilai wajar tidak tersedia untuk investasi ekuitas yang perlu dikonsolidasi. Selain itu, juga tidak diperbolehkan sekuritas tersebut untuk mengaplikasikan akuntansi metode ekuitas.



BAB III
KESIMPULAN
1.      Aset lancar merupakan sumberdaya atau klaim atas sumberdaya yang langsung dapat diubah menjadi kas, biasanya dalam jangka waktu siklus operasi perusahaan. Suatu siklus operasi merupakan jumlah waktu dari komitmen atas kas pada pembelian hingga diperoleh kas yang berasal dari penjualan barang atau jasa. Siklus ini merupakan proses dimana perusahaan mengubah kas menjadi aset jangka pendek dan kembali menjadi kas sebagai bagian aktivitas operasi yang sedang  berjalan.
2.      Aset tak lancar (non-current assets) atau aset jangka panjang merupakan sumber daya yang digunakan untuk menghasilkan penghasilan operasi (atau mengurangi biaya operasi) untuk lebih dari satu periode. Aset tak lancar merupakan sumber daya atau klaim atas sumber daya yang diharapkan dapat memberikan manfaat pada perusahaan selama lebih dari satu periode. Bentuk aset tidak lancar yang paling umum adalah aset tetap berwujud seperti bangunan, pabrik, dan peralatan. Aset tidak lancar juga mencakup aset tak berwujud seperti paten, merek dagang, copyright, dan goodwill.
3.      Aktivitas antarperusahaan meningkat perannya dalam aktivitas bisnis. Perusahaan membeli investasi antarperusahaan untuk beberapa alas an seperti diversifikasi, ekspansi, serta kesempatan kompetitif dan pengembalian. Perusahaan menginvestasikan aset dalam sekuritas investasi (disebut juga dengan marketable securities). Sekuritas investasi sangat bervariasi dalam hal jenis surat berharga yang diinvestasikan dan tujuan dari investasi. Beberapa investasi merupakan penyimpanan sementara kelebihan kas dalam bentuk sekuritas yang diperdagangkan (marketable securities).



DAFTAR PUSTAKA
Subramanyam, K. R., dan Wild, John J.; 2010, Financial Statement Analysis, Edisi 10 Buku    Satu, Salemba Empat, Jakarta.

Related Posts

0 Response to "ANALISIS INFORMASI KEUANGAN SAP 5"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel