ANALISIS INFORMASI KEUANGAN SAP 5
2.1 Aset Lancar (Current
Assets)
Aset merupakan
sumberdaya yang dikuasai oleh suatu perusahaan dengan tujuan menghasilkan laba.
Aset dapat digolongkan ke dalam dua kelompok yakni aset lancar (current assets)
dan aset tidak lancar (non current assets)
Aset
lancar merupakan sumberdaya atau klaim atas sumberdaya yang langsung dapat
diubah menjadi kas, biasanya dalam jangka waktu siklus operasi perusahaan.
Suatu siklus operasi merupakan jumlah waktu dari komitmen atas kas pada
pembelian hingga diperoleh kas yang berasal dari penjualan barang atau jasa.
Siklus ini merupakan proses dimana perusahaan mengubah kas menjadi aset jangka
pendek dan kembali menjadi kas sebagai bagian aktivitas operasi yang
sedang berjalan. Untuk perusahaan
manufaktur, hal ini mencakup pembelian bahan baku, mengubah bahan baku menjadi
produk jadi, dan kemudian menjual dan menagih kas dari piutang. Kas
mencerminkan titik awal dan titik akhir siklus operasi. Siklus operasi
digunakan untuk membedakan aset (dan kewjiban) dalam kelompok lancardan tak
lancar. Aset lancar adalah aset yang diharapkan akan dijual, ditagih, atau
digunakan selama satu tahun atau satu siklus operasi, tergantung dari mana yang
lebih panjang. Aset lancar digolongkan menjadi kas dan setara kas, piutang
jangka pendek, efek jangka pendek, persediaan, dan beban dibayar dimuka.
Selisih antara aset
lancar dengan kewajiban lancar disebut modal kerja (working capital). Perusahaan
memerlukan modal kerja untuk beroperasi dengan efektif, namun modal kerja mahal karena akan menggunakan investasi yang paling menguntungkan.
Banyak perusahaan yang berusaha meningkatkan profitabilitas dan arus kasnya
untuk mengurangi investasi pada
asetlancar melalui metode seperti pengelolaan penjaminan kredit, penagihan
piutang yang efektif, serta persediaan tepat waktu (just-in-time). Perusahaan
lain berusaha untuk mendanai aset lancar mereka dengan kewajiban lancar, seperti
utangdagang, sebagai usaha mengurangi moda kerja.
Oleh karena dampak
aset lancar (dan kewajiban lancar) terhadap likuiditas dan profitabilitas ,
analisis aset lancar (dan kewajiban lancar) sangat penting untuk analisa kredit
dan analisa profitabilitas.
2.1.1 Kas dan Setara Kas
Kas (cash)
merupakan aktiva yang paling likuid, mencakup mata uang, deposito dana, money orders, dan cek. Setara kas
(cash equivalents) juga
tergolong sangat lancar, investasi jangka pendek yang siap dikonversi menjadi
kas dan hampir jatuh tempo sehingga risiko perubahan harga yang disebabkan
pergerakan tingkat bunga hanya minimal.
Konsep likuiditas
(liquidity) penting dalam
analisis laporan keuangan. Likuiditas berarti jumlah kas atau setara kas yang
dimiliki perusahaan dan jumlah kas yang dapat diperoleh dalam periode singkat.
Likuiditas memberikan fleksibilitas untuk memanfaatkan kondisi perubahan pasar
dan untuk bereaksi terhadap strategis pesaing. Likuiditas juga terkait dengan
kermampuan perusahaan untuk memenuhi kewajibannya saat jatuh tempo. Banyak
perusahaan dengan neraca yang kuat mengalami kesulitan yang serius karena tidak
likuid.
Selain memeriksa
jumlah aktiva likuid yang tersedia untuk perusahaan, analisis juga harus
mempertimbangkan hal berikut:
1) Sejauh
mana setara kas diinvestasikan pada efek ekuitas, perusahaan mengalami penurunan
likuiditas jika nilai pasar dari efek investasi tersebut turun.
2) Kas
dan setara kas sering kali dibutuhkan sebagai saldo kompensasi (compensating
balances) untuk mendukung suatu perjanjian pinjaman atau sebagai jaminan
utang.
2.1.2 Piutang
Piutang merupakan
nilai jatuh tempo yang berasal dari penjualan barang atau jasa atau dari
pemberian pinjaman uang. piutang usaha mengacu pada janji lisan untuk membayar
yang perasal dari penjualan produk dan jas asecara kredit. Wesel tagih mengacu
pada janji tertulis untuk membayar. Piutang diklasifikasikan ke dalam asset
lancar jika diharapkan akan direalisasi atau ditagih dalam waktu satu tahun atau
satu siklus operasi, tergantung dari mana yang lebih panjang.
2.1.3 Penilaian Piutang
Analisis piutang
penting karena dampaknya terhadap posisi aktiva dan arus laba perusahaan yang
saling terkait. Pengalaman menunjukkan bahwa perusahaan tidak dapat menagih
semua piutangnya. Meskipun keputusan mengenai kolektabilitas (ketertagihan)
dapat dibuat kapan saja, kolektabilitas piutang dalam satu kelompok hanya dapat
diestimasi berdasarkan pengalaman masa lalu, dengan penyisihan yang layak
berdasarkan ekonomi saat ini, industri dan kondisi debitur. Resiko analisis ini
adalah pengalaman masa lalu mungkin bukan alat prediksi yang layak atas kerugian
masa depan, atau mungkin kita gagal mencerminkan kondisi terkini. Kerugian
piutang dapat menjadisangat berarti dan memengaruhi baik aset lancar serta laba
bersih sekarang dan masa depan.
Perusahaan melaporkan
piutang sebesar nilai realisasi bersih (jumlah total piutang dikurangi
penyisihan piutang tak tertagih)
2.1.4 Analisis Piutang
1) Risiko
Kolektibilitas
Informasi penuh untuk
menilai risiko kolektibilitas biasanya tidak dicakup dalam laporan keuangan.
Informasi yang berguna harus diperoleh dari sumber lain atau dari perusahaan.
Alat analisis untuk memeriksa kolektibilitas mencakup:
· Membandingkan
persentase piutang terhadap penjualan perusahaan pesaing dengan perusahaan yang
sedang dianalisis.
· Memeriksa
konsentrasi pelanggan, risiko meningkat jika piutang terkonsentrasi pada satu
atau sedikit pelanggan.
· Menyelidiki
pola umur piutang (sudah melewati jatuh tempo dan berapa lama).
· Menentukan
bagian piutang yang merupakan pengalihan atau perpanjangan (renewal)
dari piutang atau wesel tagih masa lalu.
2) Keaslian
Piutang
Deskripsi piutang pada
laporan keuangan atau catatan atas laporan keuangan biasanya tidak cukup untuk
memberikan tingkat keandalan mengenai apakah piutang asli, jatuh tempo, dan
dapat ditagih. Pemahaman mengenai praktik industri dan sumber informasi tambahan
digunakan untuk menambah keyakinan. Salah satu faktor yang memengaruhi keandalan
piutang adalah kebijakan kredit perusahaan. Kebijakan kredit yang ketat
berdampak pada kualitas yang lebih tinggi, atau risiko piutang yang lebih
rendah. Perusahaan biasanya melaporkan kebijakan kreditnya dalam catatan atas
laporan keuangan.
3) Sekuritisasi
Piutang
Salah satu masalah
analisis penting adalah saat perusahaan menjual semua atau sebagian piutangnya
pada pihak ketiga. Praktik ini disebut anjak piutang (factoring)
atau sekuritisasi (securitization). Piutang dapat
dijual dengan recourse atau
tanpa recourse pada pembeli
(recourse terkait atas jaminan
kolektibilitas) Penjualan
piutang dengan recourse tidak
memindahkan dengan efektif risiko kepemilikan piutang dari
penjual.
2.1.5 Beban Dibayar Dimuka
Beban dibayar di muka
(prepaid expenses) merupakan
pembayaran di muka atas jasa atau barang yang belum diterima. Sebagai contoh
adalah pembayaran di muka untuk asuransi, utilitas, dan pajak bangunan. Analisis
kita harus mewaspadai bahwa, karena alasan percepatan atau tidak material,
beberapa jasa yang jatuh tempo lebih dari satu tahun juga dicakup dalam beban
dibayar dimuka yang dikelompokkan sebagai aktiva
lancar.
2.1.6 Persediaan
1) Akuntansi
Dan Valuasi Persediaan
Persediaan merupakan
barang yang dijual dalam aktivitas operasi normal perusahaan. Pentingnya metode
akumulasi biaya dalam penilaian persediaan disebabakan oleh dampaknya pada laba
bersih dan penilaian asset. Metode persediaan digunakan untukm mengalokasikan
biaya barag tersedia untuk dijual pada harga pokok penjualan atau persediaan
akhir.
Persamaan persediaan
dapat digunakan untuk memahami arus persediaan. Untuk perusahaan: persediaan
awal + pembelian bersih – harga pokok penjualan = persediaan
akhir.
Persamaan ini menekankan arus biaya dalam perusahaan. Arus ini secara
alternative dapat dinyatakan pada grafik sebelah
kiri.
Biaya persediaan
awalnya dicatat pada neraca. Saat persediaan terjual, biaya ini dipindahkan dari
nerca dan mengalir pada laporan laba rugi sebagai harga pokok penjualan. Biaya
tidak dapat berada pada dua tempat yang sama pada waktu bersamaan, melainkan
dapat dicatat pada neraca sebagai beban masa depan, atau diakui saat ini pada
lapiran laba rugi profitabilitas untuk dikaitkan dengan
pendapatan penjualan.
Konsep penting
akuntansi persediaa adalah arus biaya. Jika seluruh persediaan diperoleh pada
periede terjualnya, maka HPP akan sama dengan biaya pembelian barang. Namun jika
persediaan tersedia pada akhir periade akuntansi, penting untuk menentukan
persediaan mana yang telah terjual dan iaya mana yang tersdia pada
neraca.
2) Arus
Biaya Persediaan
Untuk memberikan
ilustrasi asumsi arus biaya yang tersedia, misalanya catatan persediaan suatu
persahaan sebgai berikut:
Persediaan tanggal 1
januari,
2009 40
unit@$500 = $20.000
Harga pokok barang
tersedia untuk dijual 100
unit $56.000
Selanjutnya, jika
sepanjang tahun terjual 30 unit seharga $800 dan
menghasilkan pendapatan penjualan sebesar $24.000. GAAP
memeberikan tiga pilihan bagi perusahaan untuk menentukan biaya mana
yang akan dikaitkan dengan poen jualan:
a) First-
in, firs-out (FIFO). Metode ini mengansumsikan bahwa yang dibeli pertama
merupakan yang pertama dijual. Berikut adalah laba kotor perusahaan jika
menggnakan FIFO:
Penjualan $24.000
Laba kotor $
9.000
Oleh karena biaya
persediaan sebesar $15.000 telah dipindahkan dari neraca, biaya persediaan yang
dilaporkan pada neraca akhir periode adalah
$41.000.
b) Last-in,
first-out (LIFO), metode ini mengansumsikan bahwa yang dibeli terakhir
merupaka yang pertama dijual. Sehingga laba kotornya adalah sebgai
berikut:
Penjualan $24.000
Laba Kotor $ 6.000
Oleh karena biaya
persediaan sebesar $18.000 telah dipindahkan dari neraca dan tercemin pada HPP,
biaya yang tersisa pada neraca sebesar $38.000 dilaporkan sebgai
persediaan.
c) Average
cost (Biaya persediaan rata-rata). Unit dijual tanoa memperhatikan uutan
pembeliannya dan menghitung HPP serta persediaan akhir seagai rata-rata
tertimbang sedrrhana sebgai berikut:
Penjualan $24.000
Laba
kotor
$ 7.200
HPP dihitung dengan
menggunakan rat-rata tertimbang dari biaya barang tersedia untuk dijual total
dibagi dengan jumlah unit yang tersedia untuk dijual ($56.000/100=$560).
Persediaan akhir dilaporkan pada neraca adalah $39.200.
3) Analisis
Persediaan
a) Dampak
Biaya Persediaan Terhadap Profitabilitas
Ringkasan hasil perhitungan dengan tiga alternative
metode diatas adalah :
Metode
|
Persediaan Awal
|
Pembelian
|
Persediaan Akhir
|
Harga Pokok Penjualan
|
FIFO
|
$20.000
|
$36.000
|
$42.000
|
$15.000
|
LIFO
|
$20.000
|
$36.000
|
$38.000
|
$18.000
|
Average Cost
|
$20.000
|
$36.000
|
$30.200
|
$16.800
|
Laporan laba rugi berdasarkan ketiga metode berikut
adalah:
Metode
|
Penjualan
|
Harga Pokok Penjualan
|
Laba kotor
|
FIFO
|
$24.000
|
$15.000
|
$9.000
|
LIFO
|
$24.000
|
$18.000
|
$6.000
|
Average Cost
|
$24.000
|
$16.800
|
$7.200
|
Kesimpulan
: laba kotor dapat dipengaruhi oleh pilihan metode penghitungan biaya
perusahaan.. Pada periode di mana
harga meningkat FIFO memberikan laba kotor yang lebih tinggi dibandingkan LIFO
karera persediaan yang lebih rendah dikaitkan dengan pendapatan penjualan dengan
harga pasar terkini. Hal ini sering kali dinyatakan sebagai keuntungan fiktif
FIFO karena laba kotor sebenarnya merupakan penjumlahan dari dua komponen: laba
ekonomi (economic profit) dan
laba kepemilikan (holding
gain). Laba ekonomi sesuai dengan jumlah yang terjual dikalikan dengan
selisih antara harga jual dan biaya penggantian persediaan (kira-kira sebesar
biaya pembelian persediaan yang paling kini). Laba kepemilikan merupakan
kenaikan pada biaya penggantian karena persediaan telah diperoleh dan sama
dengan jumlah
unit terjual dikali dengan selisih biaya penggantian terkini dengan biaya
perolehan awal.
b) Dampak
Biaya Persediaan Terhadap Neraca
Pada periode harga
meningkat, dan dengan asumsi persediaan belum melikuidasi laporan persediaan
lamanya, LIFO melaporkan persediaan akhitr pada harga yang jauh lebih rendah
dibandingkan dengan biaya penggantian. Sehingga, neraca perusahan yang
menggunakan LIFO, tidak secara akurat mencerminkan investasi lancaryang dimiliki
perusahaan dalam persediaan.
c) Dampak
Biaya Persediaan Terhadap Arus Kas
Peningkatan laba ktor
dengan metod FIFO juga menyebabkan laba sebelum pajak yang lebih tinggi,
sehingga menimbulkan utang pajak yang lebih tinggi. Pada periode ini di mana
harga meningkat, perusahaan dapat terjebak pada penguranagan arus kas karena
membeyar pajak yang lebih tinggi dan perlu mengganti persediaan yang terjuala
pada biaya penggantianyang lebih tinggi dibandingkan dengan biaya pembelian
awal.
Salah satu alasan
digunakannya LIFO adalah pengurangan kewajiban pajak pada periode harga
meningkat. Namun IRS mengharuskan bahwa perushaan yang menggunakan LIFO untuk
tujuan pajak harus menggunakan metode ini untuk laporan keuangan. Ini merupakan
aturan ketaan LIFO (LIFO conformity rule). Perusahaan yang menggunakan
biaya persediaan LIFO diharuskan untuk mengungkapkan jumlah yang akan dilaporkan
jika perusahaan menggunakan metode FIFO. Selisish anatar kdua metode ini
dinamankan cadangan LIFO. Hal ini dapat digunakan untuk menghitung jumlah yang
akan memengaruhi arus kas kumulatif maupun periode berjalan karena penggunaan
LIFO.
d) Masalah
Penilaian Persediaan Lainnya
Likuidasi
LIFO. Perusahaan diwajibkan mencatat setiap tingkat biaya
sebagai kelompok npersediaan terpisah. Untuk biaya persediaan LIFO, persediaan
akhir diloaporkan pada biaya pembelian terdahilu yang dapat lebih rendah atau
lebih tinggi secara signifikandari buaya saat ini. Pada periode harga meningkat
pengurangan kuantitas masalah disebut sebagai likuidasi
LIFO menghasilkan peningkqatan pada laba kotor seperti penggunaan
pada biaya persediaan FIFObegitu juga sebaliknya. Dampak likuidasi LIFO dapat
dilihat pada catatan kaki persediaan laporan tahunan. Perusahaan mengindikasikan
bahwa pengurangan kuantitas persediaan menyebabkan penjualan barang yang dicatat
dengan biaya masa lalu yang berbeda dengan biaya sekarang. Seorang anslisi LIFO
harus hati-hati terhadap dampak likuidasi LIFO pada
profitabilitas.
Penyajian
Kembali (Restatement) Analisis Dari LIFO
ke FIFO. Metode LIFO merupakan metide yang diharapkan oleh
penganalisis, karena laporan laba rugi tidak membutuhkan penyesuaian besar
disebabakan harga pokok penjualan telah mendekati biaya terkini. Namun metode
ini menyebabkan persediaan neraca tidak mencerminkan harga saat ini-sering kali
dinyatakan lebih rendah. Hal ini dapat mengurangi kegunaan berbagai pengukuran
seperti rasio lancar atau rasio perputaran persediaan. Hal ini
menyebabakan kemampuan perusahaan dalam memebayar utang terlalau rendah,
perputara persediaan terlalau tinggi. Untuk mengatasinya, dapat menggunakan
teknik analisis untuk menyesuaikan LIFO agar lebih mendekati situasi performa
dengan mengasumsikan FIFO.
2.2 ASET TAK LANCAR (NON-CURRENT
ASSETS)
Aset tak lancar (non-current
assets) atau aset jangka panjang merupakan sumber daya yang digunakan untuk
menghasilkan penghasilan operasi (atau mengurangi biaya operasi) untuk lebih
dari satu periode. Aset tak lancar merupakan sumber daya atau klaim atas sumber
daya yang diharapkan dapat memberikan manfaat pada perusahaan selama lebih dari
satu periode. Bentuk aset tidak lancar yang paling umum adalah aset tetap
berwujud seperti bangunan, pabrik, dan peralatan. Aset tidak lancar juga
mencakup aset tak berwujud seperti paten, merek dagang, copyright,
dan goodwill.
2.2.1 Akuntansi Aset Jangka
Panjang
1) Kapitalisasi
Kapitalisasi (caputalization) merupakan proses
penangguhan biaya yang terjadi pada periode berjalan, tetapi manfaatnya
diharapkan dapat berlangsung selama beberapa periode di masa depan. Aset tak
lancar diciptakan melalui proses kapitalisasi. Kapitalisasi berarti menempatkan
aset di neraca, bukannya segera membebankan biayanya di laporan laba rugi.
Aturan akuntansi untuk kapitalisasi dibatasi untuk memenuhi tujuan relevan dan
andal. Tujuan andal berarti aturan kapitalisasi menjadi konservatif dan, dalam
berapa kasus, tidak konsisten. Umumnya, suatu biaya akan dikapitalisasi jika
memenuhi kriteria berikut:
• Aset harus berasal dari transaksi atau kejadian masa
lalu. Kriteria ini menghasilkan perlakuan yang tidak konsisten antara aset tak
berwujud yang dibeli dengan yang diciptakan internal. Misalnya, goodwill yang
dibeli dapat dikapitalisasi, tetapi goodwill yang diciptakan sendiri (yang
nilainya jauh lebih besar) tidak dapat
dikapitalisasi.
• Aset harus menghasilkan kemungkinan manfaat masa depan
yang dapat diidentifikasi dan layak. Kriteria ini menghasilkan pembebanan
pengeluaran litbang dengan segera, meskipun litbang merupakan salah satu dari
aset yang paling berharga bagi perusahaan teknologi
tinggi.
• Aset memberikan pemiliknya pengendalian (khusus) atas
manfaat masa depan. Kriteria ini (dan lainnya) tidak memungkinkan kapitalisasi
teknologi atau modal manusia karena kepemilikan tidak dapat dipaksakan secara
hukum.
2) Alokasi
Alokasi (allocation) merupakan proses pembebanan
biaya tangguhan (aset) secara periodik sepanjang satu atau lebih periode manfaat
yang diharapkan. Alokasi biaya disebut penyusutan (depreciation)
jika terkait dengan aset tetap, amortisasi (amortization)
jika digunakan untuk aset tak berwujud, dan deplesi (depletion)
jika dikaitkan dengan sumber daya alam. Harus diingat bahwa alokasi biaya
merupakan proses untuk mengaitkan biaya aset dengan manfaatnya. Nilai tercatat
aset (nilai kapitalisasi dikurangi alokasi biaya kumulatif) tidak perlu
mencerminkan nilai wajar. Terdapat tiga faktor yang menentuka nilai alokasi
biaya yaitu periode manfaat (masa manfaat), nilai sisa dan metode
alokasi.
3) Penurunan Nilai
Penurunan nilai (impairment)
merupakan proses penurunan nilai buku aset saat arus kas yang diharapkan tidak
lagi cukup untuk menutupi biaya tersisa yang masih tercatat pada neraca. Jika
arus kas yang diharapkan (tidak didiskonto) lebih dibandingkan nilai tercatat
aset (biaya dikurangi akumulasi penyusutan), perlu diturunkan nilainya dan
dinyatakan sebesar nilai pasar wajar (jumlah diskonto taksiran arus kas).
Dampaknya adalah untuk mengurangi nilai tercatat aset pada neraca dan mengurangi
profitabilitas sebesar jumlah yang setara. Nilai aset tidak boleh
dipulihkan/dinaikkan meskipun taksiran arus kas kemudian membaik. Dari
perspektif analisis kita, terdapat dua distorsi terkait dengan penurunan nilai
aset:
• Bias konservatif mendistorsi penilaian aset jangka
panjang karena nilai aset dapat diturunkan namun tidak dapat
dinaikkan.
• Pengakuan penurunan nilai aset memiliki dampak temporer
besar mendistorsi laba bersih sementara berpotensi untuk meningkatkan kegunaan
nilai aset pada neraca.
2.2.2 Aset Tetap dan Sumber Daya
Alam
1) Menilai Properti, Pabrik, dan
Peralatan
Prinsip biaya historis digunakan saat menilai properti,
pabrik, dan peralatan. Penilaian biaya historis mengharuskan suatu perusahaan
pertama kali mencatat sebesar harga belinya. Alasan digunakannya biaya historis
adalah:
• Konservatisme (conservatism), karena tidak
mengantisipasi adanya biaya penggantian
berikutnya.
• Akuntabilitas (accountability), manajer dalam jumlah
uang.
• Objektivitas (objectivity), dalam penentuan
biaya.
2) Menilai Sumber Daya
Alam
Sumber daya alam (natural
resource), juga disebut aset yang dihabiskan (wasting
asset), merupakan hak untuk mengambil atau mengonsumsi sumber daya alam.
Contohnya meliputi hak untuk menambang, menebang kayu, mengambil gas alam, dan
minyak. Juga sering kali terdapat biaya cukup tinggi untuk
menemukan sumber daya yang dikapitalisasi dalam neraca, dan biaya ini langsung
dibebankan saat sumber daya tersebut kemudian dipindahkan, dikonsumsi, atau
dijual. Perusahaan biasanya mengalokasikan biaya sumber daya alam pada jumlah
estimasi unit cadang yang tersedia.
3) Penyusutan
Prinsip
dasar penyusutan laba adalah laba yang mendapatkan manfaat dari penggunaan aset
jangka panjang, harus menanggung bagian proporsional dan biaya aset tersebut.
Penyusutan merupakan alokasi biaya properti, pabrik,
dan peralatan (tanah tidak disusutkan) sepanjang masa manfaatnya. Tingkat
penyusutan bergantung pada dua faktor yaitu masa manfaat dan metode alokasi.
Keragaman penyusutan secara signifikan disebabkan oleh metode yang
dipilih.
· Garis Lurus. Metode penyusutan garis lurus (straight line)
mengalokasikan biaya aset pada masa manfaat berdasarkan beban periodik yang
sama. Bangunan dibandingkan untuk mesin dimana penggunanya merupakan faktor
yang lebih penting. Penentu penyusutan lain, keusangan, tidak selalu terjadi
seragam sepanjang waktu. Namun karena tidak adanya informasi mengenai tingkat
penyusutan yang mungkin, metode garis lurus memiliki keunggulan karena
sederhana. Karakteristik ini, memungkinkan yang menjadikan metode ini popular,
dibandingkan karakteristik lainnya.
· Dipercepat. Metode penyusutan yang dipercepat (acceleranted)
mengalokasikan biaya aset sepanjang masa manfaat dengan pola yang semakin
menurun. Penggunaan metode ini didukung oleh penerimaan dan interval Revenue
Code. Daya penarik metode ini untuk tujuan pajak adalah percepatan alokasi
biaya dan berikut penangguhan laba kena pajak. Semakin cepat aset dihapuskan
untuk tujuan pajak semakin besar penangguhan pajak untuk masa depan,
dan semakin banyak dana yang tersedia lagsung untuk operasi. Konsep yang
mendukung metode dipercepat adalah padangan bahw beban penyusutan yang semakin
kecil sepanjang waktu merupakan kompensasi atas (1) peningkatan biaya perbaikan
dan perawatan, (2) penurunan pendapatan dan efisiensi operasi, serta (3)
peningkatan ketidakpastian pendapatan atas aset berumur di masa depan (karena
keusangannya). Dua metode penyustutan dipercepat yang paling umum adalah saldo
menurun dan jumlah angka tahun.
· Khusus. Metode penyusutan yang ditentukan pada industri
tertentu seperti baja dan mesin berat. Persamaan metode ini adalah dikaitkannya
beban penyusutan pada aktivitas atau intensitas penggunaan aset. Jika
metode aktivitas atau yang biasa juga disebut sebagai metode unit
produksi dietapkan, perlu menelaah estimasi masa manfaat secara
periodik
4) Deplesi
Deplesi merupakan alokasi biaya sumber daya
alam berdasarkan tingkat pemungutan. Deplesiasi tergantung pada
produksi, menghasilkan lebih banyak produksi berarti mengeluarkan
biaya deplesi yang lebih pula.
5) Penurunan Nilai
Bangunan dan sumber daya alam biasanya disusutkan
selama masa manfaat berdasarkan prinsip alokasi dengan tujuan penentuan
laba. Nilai yang terbawa dari aset yang disusutkan tidak dirancang untyuk
merefleksikan nilai sekarang dari aset. Meskipun dengan konservatif,
akuntansi seringkali melakukan refleksi nilai, dengan menurunkan nilai pada
neraca (write down) untuk
merefleksikan nilai saat ini. Saat ini akuntansi tidak memperbolehkan menuliskan
nilai aset untuk merefleksikan nilai pasar.
6) Menganalisis Aset Tetap dan Sumber Daya
Alam
Penilaian
nilai aset tetap menjadi sebesar nilai pasar tidak diperbolehkan dalam
akuntansi. Namun, konservatisme mengizinkan adanya penghapusan nilai karena penurunan nilai yang permanen.
Penurunana nilai menghilangkan beban yang terkait dengan aktivitas
operasi pada periode masa depan.
Aturan
akuntansi untuk menurunkan nilai aset jangka panjang mewajibkan perusahaan untuk
secara berkala menelaah kejadian atau perubahan kondisi yang merupakan penurunan
nilai. Penurunan aset setelahnya dapat mendistorsi hasil yang
dilaporkan. Jika taksiran arus kas tidak lebih kecil dari nilai yang tercatat
asset, maka nilai aset diturunkan. Kerugian penurunan nilai dihitung
sebagai selisish nilai tercatat aset dengn nilai
wajarnya.
a. Menganalisis Penyusutan Dan Deplesi
Sebagaian besar perusahaan menggunakan aset produktf
jangka panjang pada aktivitas operasi mereka, dan penyusutan merupakan beban
utama. Salah satu faktor yang harus diperhatikan dalam hal ini adalah adanya
revisi masa manfaat aset.
Biasanya
tidak
ada pengungkapan mengenai hubungan antar tingkat penyusutan dan ukuran kelompok aset,
maupun antara tingkat tersebut dan metode akuntansi. Tantangan lain bagi
analisis ini berasal dari perbedaan metode alokasi yang digunakan untuk
pelaporan keuangan dan tujuan pajak. Tiga kemungkinan yang umum
adalah:
1) Penggunaan garis lurus baik dalam pelaporan keuangan
maupun tujuan pajak
2) Penggunaan garis lurus untuk lapiran keuangan dan
metode dipercepat untuk pajak. Dampak pajak menguntungkan berasal dari
penangguhan pembayaran pajak yang menghasilkan penggunaan dana
gratis.
3) Penggunaan metode dipercepat baik untuk pelaporan
keuangan maupun tujuan pajak. Hal ini mengakibatkan penyusustan yang lebih
tinggi pada tahun-tahun awal, yang dapat diperpanjang selama beberapa tahun bagi
perusahaan yang sedang ekspansi.
Menganalisa penyusutan memebutuhkan evaluasi kelayakan.
Evaluasi ini dapat menggunakan pengukuran seperti rasio penyusutan terhadap aset
total atau penyusustan terhadap faktir yang terkait dengan ukuran lainnya.
Terdapat beberapa pengukuran yang terkait dengan umur Aset tetap yang berguna
untuk membandingkan kebijakan penyusustan antar periode dan antar perusahaan
diantaranya Rata-rata jangkauan total, umur rata-rata dan umur sisa
rata-rata.
Pengukuran tersebut memberikan estimasi yang layak
untuk perusahaan yang menggunakan oenyusustan garis lurus tetapi tidak terlalau
bermanfaat bagi perusahaan yang menggunakan metode dipercepat. Pengukuran lain
yang sering digunakan dalam analisis ini
adalah:
Rata-rata jangkauan waktu total = umur rata-rata + umur
sisa rata-rata
Tiap
pengukuran dapat memebantu menilai kebijakan dan keputusan penyusustan sepanjang
waktu. Umur rata-rata bagunan dan perlengkapan berguna untuk mengevaluasi
beberapa faktor seperti margin laba dan persyaratan
pendanaan masa depan.
b. Analisis Penurunan Nilai
Tiga masalah analis yang timbul dari penurunan nilai
adalah evaluasi kelayakan jumlah penurunan nilai, evaluasi kelayakan waktu
penurunan nilai, dan analisis efek penurunan nilai terhadap
laba.
Evaluasi waktu penurunan aset juga cukup penting dan
merupakan tugas analis tersulit. Pertama perlu melakukan identifikasi aset yang
diklasifikasikan akan turun, kemudian mengukur presentase aset yang dihapus dan
evaluasi apakah nilai penghapusan layak atau tidak untuk kelas aset yang
bersangkutan. Jika penghapusan terjadi, akibat kelemahan industri secara
keseluruhan maka akan sangat bermanfaat apabila membandingkan
presentase penghapusan yang dilakukan suatu perusahaan dengan perusahaan lain
di dalam industri yang sama.
2.2.3 Aset Tak berwujud
Aset tak berwujud (intangible
asset) merupakan hak, keistimewaan, dan manfaat kepemilikan atau
pengendalian. Dua karakteristik umum aset tak berwujud adalah tingginya
ketidakpastian masa manfaat dan tidak adanya wujud. fisik. Aset tidak berwujud sering kali tidak dapat dipisahkan
dari suatu perusahaan atau segmennya, masa manfaat yang tidak terhingga, dan
mengalami perubahan penilaian yang besar karena kondisi yang
kompetitif.
Terdapat perbedaan penting antar akuntansi aset
berwujid dan tak berwujud. Jika perusahaan menggunakan bahan baku dan tenaga
kerja untuk menciptakan Aset berwujud, perusahaan akan mengkapitalisasi biaya
dan menyusutkannya sepanjang masa manfaat. Sebaliknya jika perusahaan
menghabiskan uang untuk mengiklankan suatu produk atau melatih agen penjualan
perusahaan tidak dapat menkapitalisasi biaya ini meskipun terdapat manfaat masa
depan.
1) Aset Tak Berwujud Yang Dapat
Diidentifikasi
Aset tak berwujud yang dapat diidentifikasi merupakan
aset yang dapat diidentifikasi terpisah dan dikaitkan dengan hak tertentu atau
keistimewaan selama periode manfaat terbatas. Contohnya hak paten, merek dagang,
hak cipta, dan franchise.
2) Aset Tak Berwujud Yang Tidak Dapat
Diidentifikasi
Aset tak berwujud yang dapat
diidentifikasi merupakan aset yang dapat dikembangkan secara internal atau
dibeli namun tidak dapat diidentifikasi dan sering kali memiliki masa manfaat
yang tak terhingga. Contohnya iklan dan goodwill, perusahaan harus membebankan biaya pengembangan,
pemeliharaan dan pemulihan aset tak berwujud saat terjadnya,
kecuali goodwill.
3) Menganalisa Aset Tak
Berwujud
Saat kapitalisasi biaya aset tak berwujud yang dapat atau tidak dapat
diidentifikasi, biaya tersebut selanjutnya harus diamortisasi sepanjang periode
masa manfaat aset. Jangka masa manfaat tergantung pada dari jenis, kondisi
permintaan, situasi kompetitif, hokum, kontrak, aturan atau batasan ekonomis
lainnya. Misalnya, hak paten merupakan hak eksekutif yang diberikan pemerintah
kepada investor selama periode tertentu.
Dalam menganalisis aset tak berwujud, kita harus siap
untuk membuat estimasi sendiri mengenai penilaian aset. Juga harus diingat bahwa
goodwill tidak membutuhkan amortisasi dan auditor mengalami masa sulit dengan
aset tak berwujud, terutama goodwill. Mereka menganggap sulit untuk menilai aset
tak berwujud yang belum diamortisasi. Analisis juga harus waspada terhadap
komposisi, penilaian, dan disposisi goodwill. Goodwill
dihapus jika kelebihan laba yang mendasari eksistensinya tidak ada lagi.
Disposisi, atau penghapusan goodwill
sering kali dilakukan manajemen pada periode hal tersebut memiliki dampak
pasar terendah.
4) Aset Tak Berwujud Tak Tercatat Dan
Kontijensi
Salah satu aset penting dalam kategori ini
adalah goodwill yang diciptakan secara internal.
Pengeluaran untuk menciptakan goodwill sering kali diebankan
saat terjadinya. Jika goodwill diciptakan dan dapat dijual dan
menghasilkan laba yang lebih besar, laba saat ini terlalu rendah karena
pembebanan penegmbangan.
Salah satu aset tak tercatat yang terkait
dengan pembebanan yang terkait dengan elemen jasa atau ide. Sebagai contoh
adalah program televisi yang dicatat sebesar biaya tersembunyi untuk
menghasilkan penghasilan lisensi yang bernilai jutaan.
2.3 AKTIVITAS ANTARPERUSAHAAN DAN AKTIVITAS
INTERNASIONAL
Aktivitas antarperusahaan meningkat perannya dalam
aktivitas bisnis. Perusahaan membeli investasi antarperusahaan untuk beberapa
alas an seperti diversifikasi, ekspansi, serta kesempatan kompetitif dan
pengembalian.
2.3.1 Sekuritas
Investasi
Perusahaan
menginvestasikan aset dalam sekuritas
investasi (disebut juga dengan marketable securities). Sekuritas
investasi sangat bervariasi dalam hal jenis surat berharga yang diinvestasikan
dan tujuan dari investasi. Beberapa investasi merupakan penyimpanan sementara
kelebihan kas dalam bentuk sekuritas yang diperdagangkan (marketable
securities). Investasi ini juga dapat mencakup dana yang akan digunakan
untuk investasi pada pabrik, peralatan, dan aset operasi lain, atau dapat
digunakan sebagai dana pembayaran kewajiban. Tujuan penyimpanan sementara ini
adalah untuk menggunakan kas yang mengganggur secara produktif. Investasi lain,
misalnya partisipasi ekuitas pada afiliasi luar negeri, sering kali merupakan
bagian utama dari aktivitas inti perusahaan.
Sekuritas
investasi dapat berupa utang atau ekuitas. Sekuritas
utang (debt securities) adalah
sekuritas yang mewakili hubungan sebagai kreditor terhadap pihak lain. Misalnya
obligasi perusahaan lain, obligasi pemerintah, surat utang, dan sekuritas
pemerintah kota. Sekuritas ekuitas
(equity securities) merupakan
sekuritas yang mewakili kepemilikan pada entitas lain. Contohnya adalah saham
biasa dan saham preferen yang tidak dapat ditarik kembali. Perusahaan dapat
menggolongkan sekuritas investasi menjadi aset lancar atau tidak lancar,
tergantung dari jangka waktu investasi untuk sekuritas tersebut.
Pada
sebagian besar perusahaan, sekuritas investasi hanya merupakan bagian yang
relatif kecil pada total aset dan dengan mengecualikan investasi ekuitas pada
anak perusahaan atau afiliasi, investasi ini lebih merupakan aset keuangan
dbandingkan dengan aset operasi. Artinya investasi biasanya bukan
merupakan bagian yang yang terintegrasi dengan aktivitas operasi perusahaan.
Namun, bagi institusi keuangan dan perusahaan asuransi, sekuritas investasi
merupakan aset operasi utama.
1) Akuntansi Untuk Sekuritas
Investasi
Akuntansi
untuk sekuritas investasi diatur oleh SFAS 115. Standar ini berbeda dengan
prinsip lower-of-cost-or-market
dengan menyatakan bahwa investasi dapat dilaporkan pada neraca berdasarkan
biaya perolehan atau nilai wajar (nilai pasar), tergantung dari jenis sekuritas
dan tingkat pengaruh (kendali) yang dimiliki perusahaan terhadap perusahaan
yang diinvestasikan (investee
company). Hal ini berarti bahwa tidak seperti aset lainnya, sekuritas
investasi dapat dinilai dengan nilai pasar meskipun nilai pasar ini melebihi
biaya perolehan.
Nilai
wajar (fair value) aset merupakan
harga tukar aset dalam suatu transaksi normal saat ini antara pihak yang
bersedia. Jika suatu aset bisa diperdagangkan, nilai wajarnya dapat langsung
ditetapkan dari publikasi harga pasarnya. Jika tidak ada publikasi harga pasar
untuk suatu aset, nilai wajar ditentukan berdasarkan biaya
historis.
Sekuritas
dalam kelompok besar terbagi atas sekuritas utang dan sekuritas ekuitas.
Sekuritas utang selanjutnya diklasifikasikan berdasarkan tujuan investasinya.
Sebaliknya, sekuritas ekuitas diklasifikasikan berdasarkan jumlah kepemilikan,
yaitu jumlah kepemilikan investor dan selanjutnya pengaruh atau kendali pada
perusahaan yang diinvestasi (investee). Sekuritas ekuitas yang tidak
mencerminkan kepemilikan pada perusahaan yang diinvestasi yang cukup signifikan
kemudian dibedakan berdasarkan tujuan investasi. Oleh karena akuntansi
investasi pada sekuritas utang dan sekuritas ekuitas berbeda, masing-masing
akan dijelaskan secara terpisah.
a) Sekuritas Utang
Sekuritas
utang mencerminkan hubungan kreditor dengan entitas lain. Misalnya obligasi
pemerintah dan swasta, obligasi perusahaan dan wesel bayar, dan utang yang dapat
dikonversi. Sekuritas utang dikelompokkan dalam kelompok diperdagangkan,
dimiliki hingga jatuh tempo, atau tersedia untuk dijual. Panduan akuntansi
sekuritas utang berbeda, tergantung dari jenis sekuritas. Tampilan
1.1 mendeskripsikan kriteria klasifikasi dan akuntansi untuk tiap kelompok
sekuritas utang.
· Sekuritas yang Dimiliki hingga Jatuh
Tempo
Sekuritas yang dimiliki
hingga jatuh tempo (held-to-maturity securities) - HTM Securities,
merupakan sekuritas utang yang ingin dan mampu dimiliki manajemen hingga jatuh
tempo. Sekuritas ini dapat jatuh tempo dalam jangka waktu pendek (di mana mereka
diklasifikasikan sebagai aset lancar) atau jangka panjang (di mana mereka
diklasifikasikan sebagai aset tidak lancar). Perusahaan melaporkan sekuritas
dimiliki hingga jatuh tempo jangka pendek (jangka panjang) di neraca pada biaya
perolehan (biaya perolehan setelah amortasi). Tidak ada keuntungan atau kerugian
belum direalisasi dari sekuritas ini yang diakui sebagai pendapatan. Pendapatan
bunga serta keuntungan dan kerugian yang telah direalisasi, termasuk amortasi
premium atau diskon untuk sekuritas jangka panjang, diakui sebagai pendapatan.
Klasifikasi sekuritas yang dimiliki hingga jatuh tempo ini digunakan hanya
untuk sekuritas utang.
· Sekuritas yang Diperdagangkan
Sekuritas yang
diperdagangkan (trading
securities) merupakan utang (atau ekuitas yang tidak memiliki pengaruh) yang
dibeli dengan tujuan akan dikelola secra aktif dan dijual untuk mendapat
keuntungan pada jangka waktu dekat. Sekuritas yang diperdagangkan adalah aset
lancar. Perusahaan melaporkan sekuritas ini pada nilai pasar total pada tiap
tanggal neraca. Keuntungan atau kerugian yang belum direalisasi (perubahan nilai
wajar sekuritas yang dimiliki) dan keuntungan atau kerugian yang telah
direalisasi (keuntungan atau kerugian pada saat penjualan) termasuk pada
penghitungan laba bersih. Pendapatan bunga dari sekuritas diperdagangkan dalam
bentuk utang ini dicatat saat terjadinya. (Pendapatan dividen dari sekuritas
ekuitas diperdagangkan diakui saat terjadinya.) Klasifikasi perdagangan
digunakan untuk sekuritas utang maupun
ekuitas.
· Sekuritas Tersedia untuk Dijual
Sekuritas yang tersedia
untuk dijual (available-for-sell securities)
merupakan sekuritas utang (atau ekuitas yang tidak memiliki pengaruh) yang tidak
tergolong sekuritas diperdagangkan atau dimiliki hingga jatuh tempo. Sekuritas
ini dapat dikelompokkan sebagai aset lancar atau tidak lancar, tergantung dari
jangka waktu atau kapan manajemen berniat menjual sekuritas tersebut. Sekuritas
ini dilaporkan berdasarkan nilai wajar pada neraca. Namun, perubahan pada nilai
wajar tidak dimasukkan sebagai komponen laba melainkan dimasukkan sebagai
komponen pendapatan komprehensif. Pada sekuritas tersedia untuk dijual,
pendapatan bunga, termasuk amortasi premium atau diskon sekuritas jangka
panjang, dicatat saat terjadinya, (Pada sekuritas ekuitas tersedia untuk
dijual, dividen dicatat sebagai penghasilan saat terjadinya). Keuntungan dan
kerugian yang telah direalisasi dicatat sebagai bagian laba bersih. Klasifikasi
sekuritas-tersedia-untuk-dijual digunakan untuk sekuritas utang maupun
ekuitas.
· Perubahan Kelompok Investasi
Saat
niat atau kemampuan manajemen untuk meneruskan tujuan memiliki sekuritas
investasi berubah secara signifikan, sekuritas tersebut harus direklasifikasi
(dipindahkan pada kelompok lain). Umumnya, sekuritas utang yang dikelompokkan
sebagai “dimiliki hingga jatuh tempo” tidak dapat dipindahkan menjadi kelompok
lain kecuali pada keadaan luar biasa seperti merger, akuisisi, divestasi,
penurunan tajam peringkat kredit, atau kejadian luar biasa lainnya. Pemindahan
dari kelompok “tersedia untuk dijual” menjadi “diperdagangkan” biasanya juga
tidak diperbolehkan. Namun, ketika pemindahan antar kelompok ini terjadi,
sekuritas harus disesuaikan pada nilai wajarnya. Nilai wajar ini memastikan
bahwa perusahaan yang mengubah kelompok sekuritas secara langsung mengakui nilai
wajar (pada laporan laba ruginya). Hal ini juga mengurangi kesempatan perusahaan
untuk menyembunyikan perubahan nilai wajar dengan mengubah sekuritas menjadi
kelompok lain yang tidak mengakui perubahan nilai wajar sebagai bagian laba
bersih. Tampilan 1.2 memberikan
ringkasan akuntansi perubahan kelompok
investasi.
b) Sekuritas Ekuitas
Sekuritas
ekuitas (equtiy
securities) mencerminkan bagian kepemilikan pada entitas lain. Contohnya
meliputi saham biasa dan saham preferen serta hak untuk memperoleh atau menjual
bagian kepemilikan, seperti waran, stock
right, serta opsi beli (call
option) dan opsi jual (put
option). Saham preferen yang dapat ditarik kembali serta sekuritas utang
yang dapat dikonversi tidak dapat dimasukkan sebagai sekuritas ekuitas
(sekuritas tersebut diklasifikasi sebagai sekuritas utang). Dua motivasi utama
perusahaan membeli sekuritas ekuitas adalah: (1) untuk memaksakan pengaruh pada
direksi dan manajemen entitas lain (seperti pemasok, pelanggan, anak perusahaan)
atau (2) untuk mendapatkan dividen dan penghasilan dari kenaikan harga saham.
Perusahaan melaporkan investasi dalam sekuritas ekuitas berdasarkan kemampuan
mereka untuk memengaruhi atau mengendalikan aktivitas perusahaan yang
diinvestasi. Bukti kemampuan ini dicerminkan oleh presentase sekuritas dengan
hak suara yang dimiliki oleh perusahaan investor. Presentase ini merupakan
panduan dan dapat digantikan oleh faktor lain. Contohnya, pengaruh yang
signifikan dapat dirundingkan melalui komunikasi walaupun tanpa presentase
kepemilikan yang signifikan. Tampilan
1.3 memberikan ringkasan klasifikasi dan akuntansi sekuritas
ekuitas.
· Tidak Memiliki Pengaruh - Kepemilikan Kurang dari 20%
Sekuritas
ekuitas berbentuk saham preferen tanpa hak suara atau kurang dari 20% dari
seluruh saham hak suara perusahaan yang diinvestasi, sekuritas ini dianggap
tidak berpengaruh. Pada kasus ini, investor diasumsikan memiliki pengaruh
minimal pada aktivitas perusahaan yang diinvestasi. Investasi ini dapat
dikelompokkan sebagai sekuritas diperdagangkan atau tersedia untuk dijual
berdasarkan niat dan kemampuan manajemen. Akuntansi untuk sekuritas ini telah
dijelaskan pada penjelasan sekuritas sekuritas utang dalam kelompok yang
sama.
· Pengaruh Signifikan - Kepemilikan antara 20%-50%
Kepemilikan
saham, meskipun kurang dari 50% saham dengan hak suara, dapat memberikan
investor kemampuan untuk memengaruhi secara signifikan aktivitas usaha
perusahaan yang diinvestasi. Pembuktian atas kemampuan investor untuk memaksakan
pengaruh signifikan terhadap aktivitas usaha perusahaan yang diinvestasi
diperlihatkan dalam berbagai cara seperti, perwakilan dan partisipasi manajemen
atau perundingan yang berpengaruh sebagai hasil dari hubungan berdasarkan
berdasarkan perjanjian. Jika tidak terdapat bukti yang berlawanan, investasi
(langsung atau tidak langsung) sebesar 20% atau lebih (tetap kurang dari 50%)
atas saham dengan hak suara perusahaan yang diinvestasi diasumsikan memiliki
pengaruh signifikan. Investor memperlakukan investasi ini dengan metode
ekuitas.
Metode
ekuitas (equity
method) mengharuskan investor untuk mencatat investasi awal sebesar biaya
perolehan dan kemudian menyesuaikan akun investasi dengan bagian proporsi
investor pada laba (atau rugi) perusahaan yang diinvestasi sejak akuisisi dan
mengurangi akun investasi sebesar jumlah dividen yang diterima dari dari
perusahaan yang diinvestasi.
· Pihak yang Mengendalikan - Kepemilikan Lebih dari 50%
Kepemilikan
lebih dari 50% disebut sebagai pihak
yang mengendalikan (controlling
investment) - di mana investor disebut sebagai induk
perusahaan (holding company) dan
perusahaan yang diinvestasi sebagai anak
perusahaan (subsidiary). Untuk
kepemilikan lebih dari 50%, perusahaan harus menyiapkan laporan
keuangan konsolidasi.
2) Analisis Sekuritas
Investasi
Analisis sekuritas investasi memiliki paling tidak dua
tujuan utama: (1) untuk memisahkan kinerja operasi dengan kinerja investasi (dan
pendanaan); (2) untuk menganalisis distorsi akuntansi yang disebabkan aturan
akuntansi dan/atau manajemen laba yang terkait dengan sekuritas
investasi.
2.3.2 Akuntansi Metode
Ekuitas
Akuntansi metode ekuitas pada umumnya digunakan untuk
investasi “saham dengan hak suara” (voting stock) sebesar 20% sampai 50%
dari sekuritas ekuitas perusahaan. Metode ekuitas mengharuskan investor untuk
mencatat investasi awal sebesar biaya perolehan dan kemudian menyesuaikan akun
investasi dengan bagian proporsi investor pada laba (atau rugi) perusahaan yang
diinvestasi sejak akuisisi dan mengurangi akun investasi sebesar jumlah deviden
yang diterima dari perusahaan yang
diinvestasi.
Asumsikan bahwa Global Corp. membeli secara tunai 25%
kepemilikan Synergy,Inc. sebesar $500.000 yang mencerminkan seperempat ekuitas
pemegang saham Synergy pada tanggal akuisisi. Investasi awal dicatat dalam buku
Global sebagai berikut:
Investasi 500.000
Kas 500.000
Global melaporkan akun investasi sebagai asset tidak
lancar dalam neraca. Investasi sebesar $500.000 ini mencerminkan kepemilikan
sebesar 25%. Setelah tanggal akuisisi, Synergy melaporkan laba bersih sebesar
$100.000 dan membayar deviden sebesar $20.000. Global mencatat proporsi
kepemilikannya atas laba Synergy dan mencatat penerimaan deviden sebagai
berikut:
Investasi 25.000
Ekuitas dalam
laba perusahaan investasi 25.000
(untuk memcatat proporsi kepemilikan atas
laba)
Kas 5.000
Investasi 5.000
(untuk mencatat penerimaan deviden)
2.3.3 Penggabungan
Usaha
Penggabungan usaha mengacu pada merger atau akuisisi
suatu bisnis. Beberapa alasan ekonomis penggabungan usaha adalah (1) untuk
memperoleh sumber bahan baku, fasilitas produksi, teknologi, jaringan pemasaran,
atau pangsa pasar yang tidak ternilai; (2) untuk menjamin sumber keuangan atau
akses terhadap sumber keuangan; (3) memperkuat manajemen; (4) meningkatkan
efisiensi operasi; (5) mendorong diversifikasi; (6) mempercepat masuk ke pasar;
(7) mencapai skala ekonomis; (8) memperoleh manfaat
pajak.
1) Laporan Keuangan
Konsolidasi
Laporan keuangan konsolidasi melaporkan hasil operasi
dan konsolidasi keuangan perusahaan induk dan anak perusahaannya dalam satu
perangkat laporan.
2) Mekanisme Konsolidasi
Konsolidasi meliputi dua langkah yaitu agregasi dan
eliminasi. Pertama, laporan keuangan yang telah dikonsolidasi menggabungkan
asset, kewajiban, pendapatan, dan beban anak perusahaan dengan pos yang
berhubungan dengan laporan keuangan perusahaan induk. Langkah kedua adalah
mengeliminasi transaksi antarperusahaan untuk menghindari perhitungan ganda atau
laba yang diakui prematur.
Pada tanggal 31 Desember Tahun 1, Synergy Corp. membeli
100% saham Micron Company dengan menukarkan 10.000 lembar saham biasanya (nilai
nominal $5, harga pasar $77) dengan semua saham biasa Micron. Micron selanjutnya
tetap berdiri sebagai anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki oleh Synergy.
Pada tanggal akuisisi, nilai buku Micron adalah $620.000. Synergy bersedia
membayar pada harga pasar sebesar $770.000 karena Synergy merasa bahwa asset
tetap Micron disajikan lebih rendah dari seharusnya sebesar $20.000, Micron
memiliki merek dagang yang tidak tercatat senilai $30.000, dan manfaat tidak
berwujud dari penggabungan usaha (sinergi, posisi pasar, dan sejenisnya) senilai
$100.000. Harga beli tersebut dialokasikan sebagau
berikut:
Harga Beli $770.000
Nilai Buku Micron $620.000
Selisih $150.000
Selisih Dialokasikan
ke
|
|
Masa Manfaat
|
Penyusutan/ Amortisasi
Tahunan
|
Aset Tetap yang
Undervalued
Merek Dagang
Goodwill
|
$ 20.000
$ 30.000
$100.000
$150.000
|
10 Tahun
5 TAhun
Tak Terbatas
|
$2.000
$6.000
0
$8.000
|
Goodwill yang hanya bisa dicatat bila nilai pasar wajar
seluruh asset berwujud (asset tetap) dan asset tidak berwujud yang
teridentifikasi (merek dagang) yang diakuisisi diakui. Synergy akan mencatat
akuisisi tersebut sebagai berikut:
Investasi pada Micron $770.000
Saham Biasa $ 50.000
Tambahan Modal Disetor $720.000
Selama Tahun 2, Micron menghasilkan $150.000 dan tidak
membayar deviden. Investasi, yang dicatat dengan metode ekuitas, pada buku
Synergi per 31 Desember, Tahun 2 bersaldo sebagai
berikut:
Saldo Awal (31 Desember Tahun 1) $770.000
Pendapatan Investasi $150.000
Deviden (0)
Amortisasi Selisih (di atas) ($
8.000)
Saldo Akhir (31 Desember Tahun 2) $912.000
Menurut GAAP yang berlaku saat ini, goodwill tidak
diamortisasi dan laba investasi bersih yang diakui oleh Synergy sebesar
$142.000, termasuk proporsi kepemilikannya atas laba Micron dikurangi beban
$8.000 terkait dengan penyusutan kelebihan asset tetap ($2.000) dan amortisasi
merek dagang ($6.000). Neraca saldo Synergy dan Micron pada akhir Tahun 2
disajikan bersama-sama dibawah ini berikut kertas kerja konsolidasi dan total
konsolidasinya.
3) Penurunan Nilai
Goodwill
Goodwill yang dicatat dalam proses konsolidasi memiliki
unsur yang tak terbatas, dan karenanya tidak diamortisasi. Namun, goodwill
ditelaah setiap tahun untuk penurunan nilai dengan dua langkah. Langkah pertama,
nilai pasar wajar Micron dibandingkan dengan nilai bukunya dalam akun investasi
di buku Synergi ($912.000 per 31 Desember, Tahun 2). Nilai pasar wajar Micron
dapat ditentukan dengan menggunakan beberapa metode alternative, seperti harga
pasar perusahaan yang sebanding, atau model penilaian arus kas bebas yang
didiskontokan. Jika nilai pasar sekarang kurang dari saldo investasi, goodwill
dianggap turun nilainya dan kerugian penurunan nilai harus dicatat dalam laporan
laba rugi konsolidasi.
Asumsikan bahwa nilai pasar wajar Micron diperkirakan
sebesar $700.000 per 31 Desember, Tahun 2 dan nilai pasar wajar asset berwujud
dan asset tak berwujud yang dapat diidentifikasi sebesar $660.000. data ini
menghasilkan kerugian penurunan nilai sebesar $60.000 sebagai
berikut:
Nilai Pasar Wajar Micron $700.000
Aset Lancar $520.000
Aset Tetap $570.000
Merek Dagang $ 20.000
Kewajiban ($450.000)
Aset Bersih $660.000
Goodwill $ 40.000
Saldo kini Goodwill ($100.000)
Kerugian Penurunan Nilai $ 60.000
Ayat jurnal dalam buku Synergy adalah sebagai
berikut:
Kerugian Penurunan Nilai Goodwill $60.000
Investasi pada Micron $60.000
4) Masalah-masalah dalam Penggabungan Usaha
a) Pertimbangan Kontijen
b) Alokasi Total Biaya
c) Penelitian dan Pengembangan dalam
Proses
d) Utang dalam Laporan Keuangan
Konsolidasi
e) Keuntungan dari Penawaran Perdana Saham Anak
Perusahaan
f) Penjualan dan Pendapatan sebelum
Akuisisi
g) Push-Down Accounting
h) Keterbatasan Tambahan dalam Laporan Keuangan
Kondolidasi
i) Konsekuensi Akuntansi
Goodwill
5) Akuntansi Penyatuan untuk Penggabungan
Usaha
Melanjutkan contoh sebelumnya, dalam akuntansi
penyatuan investasi awal dicatat sebagai
berikut:
Investasi pada Micron $620.000
Saham Biasa $ 50.000
Tambahan Modal Disetor $ 80.000
Saldo Laba $490.000
Akun investasi lebih kecil sebesar $150.000
dibandingkan dengan contoh kita sebelumnya karena asset perusahaan yang
diakuisisi dicatat pada nilai buku, bukan pada nilai pasar. Sinergy juga
mencatat saldo awal saldo laba dan modal disetor (saham biasa dan tambahan modal
disetor) sama dengan yang dicata Micron pada awal
tahun.
Selama tahun bersangkutan, Micron menghasilkan
$150.000. Investasi dicatat dengan metode ekuitas dan saldonya pada buku Synergi
per 31 Desember Tahun 2 sebagai berikut:
Saldo Awal (31 Desember Tahun 1) $620.000
Pendapatan Investasi $150.000
Deviden 0
Saldo Akhir (31 Desember Tahun 2) $912.000
Neraca konsolidasi dengan menggunakan akuntansi
penyatuan adalah sebagai berikut:
2.3.4 Sekuritas
Derivatif
Perusahaan menghadapi ancaman berbagai jenis risiko
pasar. Risisko ini timbul karena profitabilitas operasi usaha sangat sensitive
terhadap fluktuasi pada berbagai area seperti harga komoditas, tingkat
pertukaran mata uang asing, dan tingkat bunga. Untuk mengurangi risiko pasar
perusahaan menggunakan transaksi lindung nilai. Lindung nilai merupakan kontrak
yang bertujuan untuk melindungi perusahaan dari risiko pasar. Derivatif
merupakan instrument keuangan yang nilainya berasal dari nilai asset lain,
kelompok asset, atau variabel ekonomis seperti harga saham, obligasi, harga
komoditas, tingkat bunga, atau kurs pertukaran valuta. Berbagai macam instrument
keuangan digunakan untuk kegiatan lindung nilai termasuk berikut
ini:
1) Kontrak masa depan merupakan perjanjian antara dua atau
lebih pihak untuk membeli atau menjual komoditas tertentu atau asset keuangan
pada tanggal tertentu dimasa depan pada harga
tertentu.
2) Kontrak swap merupakan perjanjian antara dua pihak atau
lebih untuk menukar arus kas masa depan. Kontrak ini umumnya digunakan sebagai
perlindungan atas risiko seperti tingkat bunga dan risiko kurs valuta
asing.
3) Kontrak opsi memberikan hak pada suatu pihak-bukan
kewajiban-untuk melakukan suatu transaksi.
2.3.5 Pilihan Nilai
Wajar
Selama
lebih dari 400 tahun, akuntansi keuangan sangat bergantung pada model biaya
historis. Dengan model biaya historis ini, aset dan kewajiban dinilai
berdasarkan harga yang diperoleh pada saat transaksi
aktual di masa lalu. Contohnya, nilai tanah yang dilaporkan dalam neraca
didasarkan atas harga ketika tanah tersebut pada awalnya dibeli; nilai
persediaan barang jadi yang dilaporkan hanya ditentukan oleh biaya produksi
berdasarkan harga input yang dibayarkan. Laba terutama ditentukan dengan
mengakui pendapatan yang diperoleh dan direalisasi selama periode dan mengaitkan
biaya dengan pendapatan yang diakui. Beberapa deviasi dari harga perolehan dapat
dilakukan apabila dengan dasar konservatif. Contohnya, persediaan
dapat dinilai dengan aturan harga perolehan atau harga pasar, dari harga mana
yang lebih rendah (lower-of-cost-or-market-value
LORCOM).
Alternatif
model biaya historis ini adalah akuntansi penilaian
wajar (fair value accounting).
Dengan model akuntansi penilaian wajar, nilai aset dan kewajiban ditentukan
oleh nilai wajar (biasanya harga pasar) pada saat tanggal
pengukuran (kira-kira tanggal laporan keuangan). Sebagai contoh dengan model
ini, nilai tananh yang dilaporkan dalam neraca akan mempresentasikan harga pasar
pada tanggal neraca; dan nilai persediaan barang jadi yang dilaporkan akan
merefleksikan perkiraan harga pasar pada saat tanggal neraca dikurangi oleh
biaya langsung penjualan. Laba dengan model ini cukup merefleksikan perubahan
bersih dalam nilai wajar aset dan kewajiban selama
periode.
Akuntansi
secara perlahan, tetapi pasti akan bergerak menuju model akuntansi penilaian
wajar. Meskipun model akuntansi penilaian wajar ini hanya diaplikasikan secara
terbatas sejak 20 tahun terakhir, terdapat kemajuan yang signifikan menuju
adopsi yang lebih luas. SFAS 157
menyediakan pedoman dasar dalam mengadopsi model akuntansi penilaian wajar dan
SFAS 159 merekomendasikan adopsi
sukarela bagi kelas aset dan kewajiban yang lebih luas. Meskipun penggunaan
akuntansi penilaian wajar masih terbatas pada aset dan kewjiban keuangan -
seperti surat berharga atau instrumen utang - terdapat indikasi bahwa adopsi
yang komprehensif dari akuntansi penilaian wajar untuk semua aset dan kewajiban
- termasuk aset dan kewajiban operasi - mungkin dilakukan di masa
depan.
Standar
terbaru (SFAS 159) mengharuskan
perusahaan untuk melaporkan secara selektif
sekuritas-yang-dimiliki-hingga-jatuh-tempo dan sekuritas-tersedia-untuk-dijual
pada nilai wajar. Jika sebuah perusahaan memilihi pilihan lain, akuntansi untuk
sekuritas-tersedia-untuk-dijual dan sekuritas-yang-dimiliki-hingga-jatuh-tempo
akan sama dengan dicatat dalam sekuritas yang diperdagangkan dibawah peraturan
SFAS 115. Terutama, untuk semua
saham investasi (diperdagangkan, tersedia-untuk-dijual,
dimiliki-hingga-jatuh-tempo), (1) nilai tercatat pada neraca merupakan nilai
wajar, dan (2) semua keuntungan dan kerugian yang tidak diakui akan dimasukkan
dalam laba bersih. Pilihan nilai wajar dapat diaplikasikan secara selektif dan
sukarela pada kelompok sekuritas manapun yang dipilih perusahaan, tapi sekali
nilai wajar telah dipilih untuk suatu kelompok tertentu, perusahaan tidak dapat
mengubah pilihan tersebut.
Pilihan
nilai wajar tidak tersedia untuk investasi ekuitas yang perlu dikonsolidasi.
Selain itu, juga tidak diperbolehkan sekuritas tersebut untuk mengaplikasikan
akuntansi metode ekuitas.
BAB III
KESIMPULAN
1. Aset
lancar merupakan sumberdaya atau klaim atas sumberdaya yang langsung dapat
diubah menjadi kas, biasanya dalam jangka waktu siklus operasi perusahaan. Suatu
siklus operasi merupakan jumlah waktu dari komitmen atas kas pada pembelian
hingga diperoleh kas yang berasal dari penjualan barang atau jasa. Siklus ini
merupakan proses dimana perusahaan mengubah kas menjadi aset jangka pendek dan
kembali menjadi kas sebagai bagian aktivitas operasi yang sedang berjalan.
2. Aset tak lancar (non-current
assets) atau aset jangka panjang merupakan sumber daya yang digunakan untuk
menghasilkan penghasilan operasi (atau mengurangi biaya operasi) untuk lebih
dari satu periode. Aset tak lancar merupakan sumber daya atau klaim atas sumber
daya yang diharapkan dapat memberikan manfaat pada perusahaan selama lebih dari
satu periode. Bentuk aset tidak lancar yang paling umum adalah aset tetap
berwujud seperti bangunan, pabrik, dan peralatan. Aset tidak lancar juga
mencakup aset tak berwujud seperti paten, merek dagang, copyright,
dan goodwill.
3. Aktivitas antarperusahaan meningkat perannya dalam
aktivitas bisnis. Perusahaan membeli investasi antarperusahaan untuk beberapa
alas an seperti diversifikasi, ekspansi, serta kesempatan kompetitif dan
pengembalian. Perusahaan menginvestasikan aset dalam sekuritas
investasi (disebut juga dengan marketable securities). Sekuritas
investasi sangat bervariasi dalam hal jenis surat berharga yang diinvestasikan
dan tujuan dari investasi. Beberapa investasi merupakan penyimpanan sementara
kelebihan kas dalam bentuk sekuritas yang diperdagangkan (marketable
securities).
DAFTAR PUSTAKA
Subramanyam, K.
R.,
dan
Wild,
John
J.;
2010,
Financial Statement Analysis,
Edisi
10 Buku Satu,
Salemba Empat, Jakarta.
0 Response to "ANALISIS INFORMASI KEUANGAN SAP 5"
Post a Comment