ANALISIS INFORMASI KEUANGAN SAP 10
2.1. Earning Based
Analysis
Secara umum, di dalam ilmu Manajemen istilah yang
sering dijumpai di perusahaan adalah EVA atau Earned
Value Analysis. Sedangkan, pada ilmu Manajemen Proyek terdapat adanya
istilah Earned Value Method (Metode Nilai
Hasil).
Pengertian atau definisi Earned
Value Method itu sendiri
dalam Ilmu Manajemen Proyek adalah:
a. Menurut Project
Management Course.com mendefinisikan Earned Value Method sebagai berikut, "A
method which measures project performance by comparing work completed against
work planned (at a given date in the project
schedule)."
b. Menurut Jurnal Civil Engineering Vol 5
No. 2 Tahun 2003 Universitas Kristen Petra Surabaya mendefinisikan Earned
Value Method adalah suatu
metode yang mengintegrasikan hubungan antara biaya dan waktu serta memberikan
gambaran tentang kondisi kelangsungan proyek.
c. Menurut Suketu Nagrecha mendefinisikan Earned
Value Method di dalam
artikelnya “An Introduction to Earned Value
Analysis yaitu "Earned
Value is a program management technique that uses "work in progress" to indicate
what will happen to work in the future."
Jadi, dapat disimpulkan bahwa Metode Nilai Hasil
(Earned Value Method) adalah suatu metode yang digunakan pada teknik
pengendalian proyek. Beberapa teknik pengendalian proyek selain Earned
Value Method antara lain
adalah: (1) Kurva S (S-Curve), (2) Identifikasi Varian, (3) Analisa
Kecenderungan dan (4) Rekayasa Nilai (Value Engineering). Penggunaan
metode-metode tersebut tergantung dari seberapa jauh atau tingkat kedalaman
informasi yang diinginkan.
2.1.1. Earned Value Method
Di dalam setiap proyek pastilah mempunyai anggaran dan
waktu yang terjadwal. Biasanya anggaran dan waktu itu mempunyai sifat yang
terbatas. Ketika terdapat adanya varian pada pemakaian anggaran dan waktu, maka
hal tersebut akan menjadi pertanyaan bagi semua pihak mengenai apakah dana yang
terbatas dan waktu yang tersisa akan mencukupi dan dapat membuat pelaksanaan
proyek tepat sesuai rencana? Dua metode seperti Metode Identifikasi Varian yang
merupakan teknik pengendalian proyek berdasarkan varian biaya dan Kurva S
berdasarkan varian jadwal proyek tidak dapat menjawab pertanyaan di atas,
karena dasar varian biaya dan waktu
dipisahkan.
Metode Nilai Hasil atau sering disebut juga Konsep
Nilai Hasil adalah konsep menghitung besarnya biaya yang menurut anggaran sesuai
dengan pekerjaan yang telah diselesaikan (budgeted cost of works
performed). Earned Value ini menghitung nilai pekerjaan
yang telah diselesaikan. Dimana metode Earned
Value mengkombinasikan biaya, jadwal dan prestasi pekerjaan serta
mengukur besarnya pekerjaan yang telah diselesaikan pada suatu waktu dan
menilai berdasarkan jumlah anggaran yang disediakan untuk pekerjaan itu.
Kegunaan dari metode ini adalah dapat mengungkapkan apakah kemajuan pelaksanaan
pekerjaan proyek senilai dengan pemakaian bagian anggarannya. Dengan analisis
konsep Earned Value juga dapat diketahui hubungan antara apa
yang sesungguhnya telah dicapai secara fisik terhadap jumlah anggaran yang
telah dikeluarkan. Formula Earned Value adalah sebagai
berikut:
|
Metode Earned Value ini dapat
dipergunakan untuk membuat perkiraan keadaan proyek di masa mendatang dan dapat
menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:
a. Dapatkah proyek diselesaikan dengan anggaran yang
tersisa?
b. Berapa besar biaya untuk menyelesaikan
proyek?
c. Berapa besar perkiraan keterlambatan pada akhir
proyek?
Analisa-analisa dalam metode ini memakai 3 (tiga)
indikator, diantaranya adalah:
a. ACWP (Actual Cost of Work Performance),
merupakan jumlah anggaran yang sesungguhnya terpakai untuk kegiatan yang telah
dilaksanakan dalam kurun waktu tertentu
b. BCWP (Budgeted Cost of Work Performance), merupakan
jumlah anggaran yang senilai untuk kegiatan yang telah
terlaksana
c. BCWS (Budgeted Cost of Work Scheduled),
merupakan anggaran yang direncanakan untuk kegiatan yang
dilaksanakan
2.1.2. Analisis Varians Biaya dan
Jadwal
Berdasarkan indikator-indikator yang telah disebutkan
di atas, maka akan diperoleh besaran varians atau penyimpangan biaya dan jadwal
yang dapat memberikan informasi kinerja pengelolaan biaya dan jadwal. Variansi
biaya dan jadwal tersebut dapat dijelaskan sebagai
berikut:
a. Varians Jadwal (Schedule Varians =
SV)
Varians jadwal adalah pengurangan biaya yang
dianggarkan untuk pekerjaan yang sudah dilaksanakan (BCWP) terhadap biaya yang
dianggarkan untuk pekerjaan yang dijadwalkan (Budgeted Cost of Work
Scheduled).
|
Keterangan :
1) SV = 0 : proyek tepat
waktu
2) SV > 0 : proyek lebih
cepat
3) SV < 0 : proyek
terlambat
b. Varians Biaya (Cost Varians = CV)
Varians biaya adalah selisih antara biaya yang
dianggarkan untuk pekerjaan yang sudah dikerjakan (Budgeted Cost of Work
Performed) dengan biaya sesungguhnya dari pekerjaan yang sudah dikerjakan
(Actual Cost of Work Performed).
|
Keterangan :
1) CV = 0 : biaya sesuai dengan anggaran
rencana
2) CV > 0 : biaya lebih
kecil/hemat
3) CV < 0 : biaya lebih
besar/boros
c. Indeks Kinerja/Prestasi Jadwal dan
Biaya
Varians jadwal dan biaya yang telah dipaparkan di atas
masih belum dapat menggambarkan kondisi penyimpangan relatif terhadap satuan
unit biaya. Maka, terdapat suatu indeks yang dapat mengukur prestasi baik jadwal
dan biaya atau untuk mengetahui seberapa besar efisiensi penggunaan sumberdaya
oleh proyek. Ini mempergunakan besaran berupa indeks produktivitas atau indeks
kinerja sebagai berikut:
|
Keterangan :
1) SPI = 1 : proyek tepat
waktu
2) SPI > 1 : proyek lebih
cepat
3) SPI < 1 : proyek
terlambat
|
Keterangan :
1) CPI = 1 : biaya sesuai dengan anggaran
rencana
2) CPI > 1 : biaya lebih
kecil/hemat
3) CPI < 1 : biaya lebih
besar/boros
SPI dan CPI dihitung di setiap item
pekerjaan dan tingkat di atasnya. Pada tingkat yang lebih tinggi, perhitungnan
SPI dan CPI dilakukan dengan penjumlahan parameter-parameter yang ada di
bawahnya.
2.1.3. Proyeksi Jadwal dan Biaya untuk Penyelesaian
Proyek
Berdasarkan hasil dari analisis-analisis atas
indikator-indikator yang ada di atas pada saat pelaporan maka akan dapat
diperkirakan besar biaya pada akhir proyek, yaitu dengan menghitung sebagai
berikut:
1. Anggaran yang tersisa = Biaya total yang dianggarkan –
Biaya yang sudah terpakai
Atau Anggaran
tersisa = BAC – BCWP
BAC
= Budgeted At Cost biaya yang dianggarkan pada saat proyek
selesai
BCWP =
biaya yang dianggarkan pada saat proyek ditargetkan
selesai
2. Perkiraan biaya untuk pekerjaan tersisa ( Estimate
Total Cost = ETC) atau ETC = (Anggaran tersisa) /CPI
3. Perkiraan total biaya proyek ( Estimate
Cost at Completion = EAC) dapat dicari dengan rumus berikut
:
a. Constant
budget, Model ini menganggap bahwa semua penyimpangan biaya
akan terkoreksi oleh waktu yang pada akhirnya akan sama dengan rencana, rumusnya
EAC = BAC
b. Constant
cost deviation value, model ini mengasumsikan bahwa sisa pekerjaan akan
dikerjakan dengan biaya sesuai rencana awal. Sehingga EAC merupakan hasil
penjumlahan antara biaya realisasi ditambah dengan sisa biaya pada sisa
pekerjaan yang sesuai rencana awal. Rumus untuk model perhitungan ini adalah
EAC = BAC + (ACWP –
BCWP)
c. Constant
cost efficiency rate, model ini menganggap bahwa performa/efisiensi biaya
pada sisa pekerjaan adalah sama dengan performa/efisiensi biaya pada pekerjaan
yang telah dilakukan. Dianggap tidak ada perubahan performa/efisiensi selama
perjalanan proyek. Rumus untuk model ini adalah EAC = BAC / CPI
d. Constant
cost and schedule efficiency rate, model ini
mengasumsikan bahwa biaya final akan dipengaruhi tidak hanya performa/efisiensi
biaya, tapi juga performa/efisiensi waktu. Rumusnya EAC=BAC/(CPIxSPI)
e. Future constant cost and schedule efficiency
rate, model ini mengasumsikan bahwa deviasi biaya pada sisa
pekerjaan proyek adalah fungsi dari performa biaya dan performa waktu. Rumusnya
EAC=ACWP+(BAC-BCWP)/(CPIxSPI)
Sedangkan untuk menentukan estimasi jadwal digunakan rumus sebagai berikut
:
Estimate
Time to Complete = original time to estimate /
SPI
2.2. Earning Based
Valuation
Penghasilan
ekuitas berdasarkan atau pendapatan ekuitas adalah
suatu pendapatan
dividen yang didapatkan melalui tindakan
investasi
dalam
saham (ekuitas).
Dasar
matematika untuk menempatkan nilai pada ekuitas tergantung pada kemampuan
menduga apa yang akan terjadi atau setidaknya probabilitas
tersebut, tidak hanya untuk perusahaan tertentu, tetapi untuk seluruh pasar
serta inflasi dan suku bunga, lima puluh sampai seratus tahun .
Tujuan
dari dasar ini adalah untuk membuat gambaran akan kemampuan dari suatu
perusahaan dalam mendapatkan modal intelektualnya, kekayaan intelektual dan /
atau keunggulan kompetitif sebagai ‘future free cash flows’ selama satu
periode yang sama dan ditambah dengan ‘lamanya’ atau terminal arus kas yang
menangkap posisi siklus hidup perusahaan.
Earnings-Based valuation of
Equity
Rata –
rata model penilaian didasarkan pada model dividen keuangan yang menyatakan
bahwa sama halnya dengan nilai sekarang / saat ini dari suatu dividen di masa
mendatang yang diharapkan akan diterima dengan didiskontokan pada tingkat risiko
disesuaikan.
Keterangan:
Pt = harga keamanan pada waktu t
E ( Dt ) = dividen yang diharapkan pada waktu t
r = tingkat diskonto tepat disesuaikan dengan risiko
Yang berasal dari diskon dividen model dasar
Dimana E ( Xt ) adalah penghasilan yang diharapkan pada waktu t.
Jika penghasilan diharapkan tetap konstan pada lamanya ke X, persamaan menjadi:
Ini adalah model ada pertumbuhan pendapatan diskon penilaian.
2. Memperkirakan tingkat diskonto
Asumsi mengenai tingkat diskonto pada model sebelumnya merupakan tingkat
pengembalian yang diharapkan dari suatu saham biasa (r). Hal ini dapat diperkirakan d
engan menggunakan Sharpe - Lintner Capital Asset Pricing Model(CAPM) sebagai berikut :
Keterangan:
ri = tingkat pengembalian saham
rf = tingkat suku bunga bebas risiko
rm = portofolio pasar
βi = terkait ukuran risiko pasar saham
NB : Laba atas tagihan treasury 3 bulan adalah perkiraan umum digunakan r.
(rm-rf) = premium risiko pasar, hasil yang diharapkan dari portofolio pasar untuk
mengkompensasi risiko tambahan dari investasi di saham biasa;
historis ini berkisar antara 3% dan 8%, dengan rata-rata 6%.
Β (beta) untuk porfolio pasar 1. β untuk saham tertentu dapat diperoleh dengan
analisis statistik dari gerakan pengembalian saham perusahaan dengan itu p
asar saham seluruh. Sebagai contoh, jika sebuah saham memiliki BETA dari 1. 1, dan
dengan rf dari 4,1% , dan premi risiko pasar (rm-rf) dari 6%, yang diharapkan
dari saham adalah :
r = 0,041 + 1,1 x 0,06 = 0,107 = 10,7 %
2.3. DAMPAK
INFLASI TERHADAP ANALISIS
Dapat
didefinisikan bahwa inflasi merupakan suatu kejadian dimana harga naik secara
terus – menerus. Hal ini berdampak terhadap operasi perusahaan dimana suatu
anggaran dari suatu perusahaan dapat berubah secara drastis akibat inflasi ini,
sehingga budget yang dianggarkan
tidak akan sesuai dengan kenyataannya.
Selain
berdampak pada perubahan anggaran, inflasi juga berdampak pada pendapatan
perusahaan. Analisis pada suatu perusahaan dipakai untuk menentukan seberapa
jauh perusahaan dalam mencapai tujuannya, apabila tujuan ini masih belum
tercapai, maka analisis perusahaan dapat dipakai sebagai acuan seberapa
berhasilnya suatu perusahaan tersebut. Dengan adanya inflasi, maka analisis ini
tidak akan relevan. Dimana hal ini akan berdampak buruk pada perusahaan, karena
perusahaan dibebankan untuk mencapai target baru yang jauh lebih besar dari
yang seharusnya dicapai oleh perusahaan sehingga dapat menimbulkan kesan
performa yang tidak bagus bagi perusahaan itu sendiri.
Lalu,
dampak yang terakhir adalah menyebabkan kesulitan dalam menentukan harga pokok.
Kesulitan ini terjadi karena adanya kenaikan harga (inflasi) yang tidak menentu
yang menyebabkan ketidakakuratan perhitungan harga pokok. Ketidakakuratan
perhitungan harga pokok memiliki dampak terhadap pendapatan yang diakui oleh
perusahaan. Hal ini menyebabkan analisis pendapatan maupun harga pokok yang
tidak mencerminkan keadaan dari perusahaan sebenarnya karena adanya inflasi.
2.4. Kasus
Sebuah proyek dilaksanakan dan setelah proyek mulai
dilaksanakan, pada akhir bulan ke 3 dilakukan audit kondisi proyek dan didapat
bahwa nilai yang telah didapat (earned value) dari pelaksanaan proyek
adalah sebesar 24 juta dan biaya aktual (actual cost) yang telah
dihabiskan adalah sebesar 27 juta. Jika pada tahap perencanaan proyek,
diharapkan nilai rencana (planned value) yang akan dihasilkan proyek
sampai akhir bulan ke 3 adalah sebesar 30 juta, lakukan analisa EVM (earned
value management)!
Diketahui:
Pada akhir bulan ke 3
Pada akhir bulan ke 3
Earned value (BCWP) = 24 juta
Actual cost (ACWP) = 27 juta
Planned value (BCWS) = 30 juta
Ditanya:
Tentukan (SV, CV) dan performa (SPI, CPI)
Tentukan (SV, CV) dan performa (SPI, CPI)
Jawab:
Untuk melakukan analisa EVM, kita akan lakukan dalam tiga bagian, yaitu: melacak
Untuk melakukan analisa EVM, kita akan lakukan dalam tiga bagian, yaitu: melacak
kondisi terkini (dalam hal ini pada akhir bulan ke 3),
menghitung performa proyek, dan mengestimasi waktu dan biaya penyelesain proyek.
Untuk bagian pertama dari analisa EVM, kita akan melacak kondisi terkini proyek
dengan menghitung selisih skedul atau waktu / schedule
variance (SV) dan selisih biaya / cost variance(CV) dengan
formula dibawah ini.
SV=BCWP−BCWS
CV=BCWP−ACWP
Dengan data BCWP, BCWS, dan ACWP yang telah didapat dari audit proyek, kita lakukan perhitungan SV dan CV seperti pada bagian bawah ini.
SV = BCWP−BCWS
Dengan data BCWP, BCWS, dan ACWP yang telah didapat dari audit proyek, kita lakukan perhitungan SV dan CV seperti pada bagian bawah ini.
SV = BCWP−BCWS
= 24 − 30= −6juta
CV =
BCWP−ACWP
CV = 24 − 27=
−3juta
Nilai SV yang negatif (sebesar -6 juta) mengindikasikan
telah terjadi keterlambatan dalam pelaksanaan proyek. Dan nilai CV yang juga
negatif (sebesar -3 juta) mengindikasikan terjadi pembengkakan biaya proyek.
Pada bagian kedua dari analisa EVM, kita akan menghitung performa proyek berupa
indeks performa skedul / schedule performance index (SPI) dan
indeks performa biaya / cost performance index (CPI) dengan
formula dibawah ini.
SPI= BCWP/BCWS
CPI= BCWP/ACWP
Dengan data BCWP, ACWP, dan BCWS yang telah didapat
dari audit proyek, kita lakukan perhitungan SPI dan CPI seperti pada bagian
bawah ini.
SPI =
BCWP/BCWS
= 24/30 =
0,8
CPI =
BCWP/ACWP
CPI = 24/27 = 0,88
Nilai SPI sebesar 0,8 dan CPI sebesar 0,88 (dimana
keduanya dibawah 1) menunjukkan kinerja pelaksanaan proyek dari segi waktu dan
biaya dibawah yang seharusnya.
BAB III
KESIMPULAN
Kesimpulan
Penilaian
perusahaan yang dilakukan disini terkait dengan laba yang dihasilkan perusahaan.
Masalah angka laba yang semu saat ini bukanlah akuntansi akrual. Investor,
analis, dan manajer uang semakin sulit menebak pertimbangan yang diambil oleh
perusahaan sehingga akrual atau estimasi tersebut dibuat. Skandal Enron,
WorldCom, Adelphia Communications dan beberapa perusahaan lainnya merupakan
peringatan keras bahwa investor dapat kehilangan miliaran dolar jika tidak
memperhatikan bagaimana cara perusahaan mendapatkan labanya. “ ( Business week,
2004 ).
Di dalam ilmu Manajemen istilah yang sering dijumpai di
perusahaan adalah EVA atau Earned Value Analysis.
Sedangkan, pada ilmu Manajemen Proyek terdapat adanya istilah Earned Value
Method (Metode Nilai Hasil). Metode Nilai Hasil (Earned Value
Method) adalah suatu metode yang digunakan pada teknik pengendalian proyek.
Beberapa teknik pengendalian proyek selain Earned Value Method antara lain adalah: (1) Kurva S
(S-Curve), (2) Identifikasi Varian, (3) Analisa Kecenderungan dan (4)
Rekayasa Nilai (Value Engineering). Penggunaan metode-metode tersebut
tergantung dari seberapa jauh atau tingkat kedalaman informasi yang
diinginkan.
Penghasilan
ekuitas berdasarkan atau pendapatan ekuitas adalah
suatu pendapatan
dividen yang didapatkan melalui tindakan
investasi
dalam
saham (ekuitas).
Tujuan
dari dasar ini adalah untuk membuat gambaran akan kemampuan dari suatu
perusahaan dalam mendapatkan modal intelektualnya, kekayaan intelektual dan /
atau keunggulan kompetitif sebagai ‘future free cash flows’ selama satu
periode yang sama dan ditambah dengan ‘lamanya’ atau terminal arus kas yang
menangkap posisi siklus hidup perusahaan.
Inflasi
dapat berdampak terhadap operasi perusahaan dimana suatu anggaran dari suatu
perusahaan dapat berubah secara drastis akibat inflasi ini, sehingga budget
yang dianggarkan tidak akan sesuai dengan kenyataannya.
DAFTAR PUSTAKA
Wiagustini, Ni Luh Putu. 2014. Manajemen
Keuangan. Cetakan Pertama. Denpasar: Udayana University
Press.
Widiasanti, Irika. 2011. Metode
Nilai Hasil (Earned Value). http://irikakuliah.blogspot.co.id/2011/05/metode-nilai-hasil-earned-value.html
(Diakses pada 3 Desember
2017)
Li,
Hendri. 2016. Manajemen Proyek.
http://manajemenproyek01.
blogspot.co.id/2016/05/001-contoh-soal-earned-value-management.html
(Diakses pada 3 Desember 2017)
Anonim.
2013. Equity Valuation and Analysis. https://learning.uonbi.ac.ke
/.../Group_10_Equity_valuation_and_Analysis (Diakses pada 3 November
2016)
0 Response to "ANALISIS INFORMASI KEUANGAN SAP 10"
Post a Comment